
Hari ini seperti biasa, Meira kembali melakukan aktivitas-nya ia bangun lebih awal karena sekarang bi Imas sudah tidak bekerja lagi jadi sekarang ia yang akan menggantikan seluruh tugas bi Imas. Sebelum itu ia menguncir rambutnya tinggi-tinggi, mengambil sapu dan alat pel ia akan memulai dari ruang tengah terlebih dahulu setelah semua selesai ia baru memasak, menu kali ini simpel telur bumbu balado yang di temani dengan tumis udang dan ayam goreng.
Setelah siap dengan makanannya ia pergi ke kamar untuk bersih-bersih dan bersiap untuk ke sekolah, tak membutuhkan waktu lama ia sudah siap dengan pakaian dan tasnya, ia beranjak dan berjalan ke arah dapur. Setelah memasukan bekal untuknya ia pun beranjak pergi dari dapur, ketika di ruang tengah ia tak sengaja berpapasan dengan Cintya yang terlihat baru saja menuruni anak tangga.
Meira hanya menampilkan seulas senyum sebelum pergi ke sekolah, setelah itu ketika ia sampai di garasi ia melihat mang Ujang yang sedang mengelap mobil tuannya. Dia pun berjalan menghampiri mang Ujang yang terlihat senang dan bersenandung kecil.
"Na na na na na."
"Semangat banget mang kayaknya," ujar Meira yang membuat mang Ujang terkejut.
"Astagfirullah neng Meira bikin saya kaget aja, iya nih neng kan mamang harus semangat buat cari uangnya," ujar mang Ujang.
"Neng Meira mau berangkat sekarang?" Tanyanya yang di balas anggukan, "mamang antar ya neng," lanjutnya.
"Ga usah mang kan, ntar kasihan mamang harus nyuci mobilnya lagi kalau di buat nganterin Meira," jawab Meira sembari tersenyum.
Mang Ujang yang melihat senyum itu menatap sendu kearah Meira, dari dulu Meira tidak di perbolehkan diantar bahkan ia tak di kasih uang jajan jadi dia harus berjalan menempuh jarak yang jauh.
"Em, mang Ujang anterin naik motor mamang aja deh kalau gitu biar neng Meira ga capek," bujuk mang Ujang.
"Gapapa mang, nanti kasihan papa harus nungguin mang Ujang kalau nganterin Meira," jawab Meira.
"Udah gapapa, bentar ya neng mang Ujang naruh ini sekalian bilang sama Budi buat nganterin tuan nanti," ucapnya.
"Beneran gapapa mang? Nanti takutnya mang Ujang di potong gajinya," ucap Meira yang masih takut jika sewaktu-waktu mang Ujang kena imbasnya jika harus mengantarkannya.
"Udah gapapa, bentar ya neng Meira tunggu disini," ucap mang Ujang yang pergi meninggalkan Meira untuk mengambil kunci dan motor bututnya.
Meira tersenyum haru ia kira setelah kepulangan bi Imas dia akan merasa sendirian dan kesepian akan tetapi ternyata itu semua salah, masih ada mang Ujang yang menyayanginya, 'ya Tuhan berikanlah kesehatan dan panjang umur untuk orang-orang terdekat hamba' batin Meira.
"Ayo neng, moty udah siap nih nganterin neng cantik," kekeh mang Ujang.
"Hahaha mang Ujang bisa aja," sahut Meira.
Akhirnya Meira pun naik dan berangkat ke sekolah dengan diantar mang Ujang dengan motor bututnya yang di beri nama Moty, sederhana memang namun sangat berarti bagi Meira.
Perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu yang lumayan lama, suasana cerah dan udara yang sejuk membuat Meira semakin mengeratkan pegangannya. 45 menit kemudian mereka sampai di depan sebuah gedung yang sangat luas dan menjulang tinggi, beberapa siswa sudah berlalu lalang memasuki halaman sekolah.
"Terimakasih ya mang udah nganterin Meira ke sekolah," ujarnya sembari menyerahkan helm.
"Sama-sama non, mang Ujang juga senang bisa nganterin non Meira itung-itung ngurangin kangen mamang sama anak gadis mamang di kampung," jawabnya sembari menerima helm tersebut.
Meira pun menyodorkan tangannya membuat mang Ujang menyeritkan dahinya bingung, "non Meira Minta mang Ujang uang? Haduh non mamang ga bawa duit," ujarnya.
"Ish bukan atuh mang, Meira mau Salim bukan minta mamang uang masa gitu aja gatau," celetuknya.
__ADS_1
"Hehehe ya maap non, siapa tau non minta uang ke mamang," ucapnya yang di balas senyuman, "ya udah ya mang Meira masuk dulu." Ucap Meira.
Mang Ujang menatap punggung rapuh itu, punggung itu banyak sekali menyimpan banyak luka, punggung yang di minta kuat walaupun badai slalu menghantamnya.
"Bahagia terus ya non, mang Ujang janji akan jagain non sampai maut menjemput mamang, mamang pengen lihat non Meira senyum tulus bukan senyum palsu non," batin mang Ujang.
***
Meira pun berjalan menelusuri koridor sekolah, masih terlalu pagi untuk siswa sekolah, namun ada beberapa yang sudah datang mungkin karena piket kelas. Sesampainya di kelas ia membuka pintu dan berjalan menuju bangkunya, menaruh tas dan duduk sembari menelungkupkan kepalanya dengan lengan tangan sebagai bantalannya.
Memejamkan mata sejenak, mungkin kalian pernah mendengar tentang 'raganya memang diam namun pikirannya berperang' itu yang dirasakan Meira, ia tidak benar-benar tidur ia hanya memikirkan bagaimana harinya esok. Apakah lebih buruk dari sebelumnya?
Tak terasa matanya memberat ia pun tertidur, cukup lama Meira tertidur dengan tangan sebagai bantalannya. Sampai sebuah tangan mengusap kepalanya yang membuat ia enggan untuk membuka matanya, ia pun merubah posisi tidurnya.
Si pelaku hanya terkekeh melihat Meira semakin nyenyak bersama alam mimpinya, "hei bangun," ujar pelaku.
"Enggh diem ganggu aja," ucap Meira.
"Bangun cantik, bentar lagi masuk," kekehnya.
Membuat Meira pun akhirnya mau tak mau membuka matanya, "ish Andre, ganggu orang tidur aja," kesal Meira.
"Hahaha ga tidur kah? Liat kantong mata mu menghitam," ujar Andre sembari mengusap kelopak mata Meira.
Andre yang melihat Meira salting pun terkekeh, "kenapa wajah mu merah?" Tanyanya.
"Ish diem deh," kesal Meira. Andre pun terkekeh ingin rasanya ia menggigit Pipi chubby Meira saking gemasnya.
"Cuci muka dulu gih, liat nih iler mu di mana-mana," ejek Andre yang semakin membuat Meira kesal.
Dengan kesal Meira pun bangkit sembari menghentakkan kakinya, ia menggerutu dalam hati. Sedangkan Andre hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Meira ketika sedang kesal, tak lama setelah itu guru matematika pun datang.
***
Di sebuah kelas XII MIPA segerombol remaja laki-laki duduk melingkar dengan Alister, Gabino, Elvan yang bermain game bersama. Galbino yang sibuk dengan buku di tangannya dan Fabio yang tidur dengan tangan sebagai bantalan, memang Fabio tidur namun otaknya berfikir sendari tadi ia merasa ada yang ganjal biasanya seharian ini ia selalu mendapat gangguan dari Meira namun aneh sekarang jangankan mengganggu menampilkan batang hidungnya di depan Fabio aja tidak.
"Ga mungkin lah gue kesepian karna gada tuh cewek nyebelin," batin Fabio.
Sama halnya dengan Fabio, Gabino pun merasa ada yang kurang sekarang. Walaupun ia selalu mencaci maki seseorang dengan omongan dan kata-katanya tetapi ia merasa ada satu hal yang terlewatkan, ah iya baru ingat sekarang bahwa gadis yang sering ia sebut gadis pembawa sial sendari tadi tidak menampakan batang hidungnya membuat mulutnya gatal ingin mencaci maki.
"Tumben tuh anak gada gangguin si Fabio," batin Gabino.
Tiba-tiba saja ponsel Galbino berdering membuat semua teman-temannya mengalihkan perhatiannya, Galbino yang di tatap pun hanya acuh tak acuh kepada teman-temannya.
"Apaan dah jijik lo pada natap gue kaya gitu," sinis Galbino.
__ADS_1
Alister pun bangkit dari duduknya, "mau kemana lo Al, game belum selesai anjir," ucap Elvano.
"Kamar mandi, ikut?" Ajak Alister.
"Idih ogah gue," jawab Elvano.
Alister pun mengangkat bahunya acuh, dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi akan tetapi ketika ia tak sengaja melewati lorong kelas 11 ia melihat sejoli sedang duduk berdua dengan tempat bekal yang sangat ia hafal sedang bercanda gurau, walaupun posisi sang perempuan membelakanginya ia tahu betul postur tubuh itu, gadis yang beberapa hari ini memenuhi fikirannya.
"Kenapa rasanya sakit ya, waktu liat dia ketawa sama yang lain?" Batinnya bertanya-tanya.
Semakin Alister menatap sejoli itu, semakin membuat hatinya sakit. Akhirnya ia pun pergi melangkah melanjutkan untuk ke kamar mandi dengan hati yang berdenyut sakit melihat siapa yang sedang bermesraan di koridor sekolah itu.
***
"Wah bekel nih, pasti buat gue kan?" Tanya Andre.
"Ish apaan dah bukan ya."
"Udah sih buat gue aja, kalaupun nanti lo kasih ke dia belum tentu di terima kan? Udah makan disini aja sama gue."
Meira pun mempertimbangkan lagi ajakan Andre, iya pun berfikir begitu dari pada bekal tersebut terbuang lebih baik ia makan dengan Andre saja.
Mereka pun makan dengan hikmat walaupun sesekali melempar canda gurau, Andre tersenyum melihat Meira bisa tertawa karnanya.
"Mei, jangan senyum deh," ujarnya sembari memegang dadanya.
Sedangkan Meira hanya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya maksud dari ucapan Andre, "iya karna gue takut kena diabetes kalau liat senyum Lo," gombal Andre yang mendapatkan cubitan dari Meira.
"Aduh."
"Aduh."
"Aduh."
"Sakit Mei, kok lo gitu sih KDRT sama gue jahat ih gue laporin ntar,"
"Sok laporin aja, ga takut gue,"
"Jahat ih dede sama mas, mas ga like,"
"Jijik Ndre gue liatnya, ahahaha."
Tawa mereka pun kembali pecah hanya karna ucapan Andre, Andre pun tersenyum dan mengusap rambut Meira dengan penuh sayang. 'gue harap, gue bisa jadi satu-satunya orang yang bisa buat lo ketawa terus Mei' batinnya.
***
__ADS_1