
Sang Surya malu-malu untuk menampakan sinarnya, seorang gadis yang sudah rapi dengan pakaiannya. Hari ini hari Minggu, dan bertepatan hari ini juga dua gadis cantik dilahirkan ke dunia dengan selamat sentosa, 17 dua angka yang menggambarkan umur keduanya. Namun sayang, keduanya harus terpisahkan oleh alam.
Gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, menatap sebuah kalender kecil yang berada diatas meja itu, 25 November angka yang di lingkari menggunakan pulpen warna.
"Selamat ulang tahun untuk kalian berdua ka, Ale cuma berharap semoga bonyok kalian, ka Alister bisa sayang lagi sama Mei, walaupun Mei udah pergi juga tapi semoga mereka segera di bukakan pintu hatinya, dan semoga ka Eca bisa tenang disana, harusnya kita ngerayain hari bahagia kita bareng ka, Mei rindu ka Eca," gumamnya.
Meira menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya beranjak dan berjalan kearah almari mengambil sebuah jaket hitam niatnya dia akan berkunjung kerumah sang kakak dan merayakan hari jadinya disana.
Meira orang terakhir yang keluar dari kamarnya, dengan mata sembab menatap nanar meja makan, disana ada semua keluarga dan juga sahabat-sahabat sang kakak bercanda gurau, Meira pun menatap nanar kearah mereka.
"Non," panggil Bi Imas sembari menepuk pundak Meira.
Meira pun menoleh, "non mau kemana tumben udah rapi?"tanyanya.
"Meira mau ke rumah kakak bi, Meira pamit dulu ya bi," pamitnya sembari mencium punggung tangan Bi Imas.
Semua kegiatan itu tak luput dari perhatian tuan dan nyonya Bramantyo, menatap punggung rapuh itu hingga menghilang dari pandangan mereka. Acara makan pagi pun telah usai, tuan Bramantyo berdiri dan bangkit dari duduknya berjalan menujur ruang kerjanya di ikuti sang istri yang juga ikut berdiri sembari membawa piring kotor sang suami dan dirinya. Membuat beberapa remaja yang ada disana mengerutkan keningnya bingung.
"Lanjutin aja makannya, kalau mau nambah gpp," ujar Alister.
***
Di ruang kerja, seorang laki-laki paruh baya dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya, kerutan diwajahnya semakin banyak, wajahnya yang dulu kencang lambat laun mulai mengendur dan timbul kerutan.
Sebuah foto keluarga yang di cetak besar, terpampang di dinding abu-abu itu. Hari ini harusnya ia berbahagia, 17 tahun lalu Tuhan mengirimkan dua princes untuk melengkapi keluarganya tetapi itu tak berlangsung lama.
"Selamat ulang tahun princes papa, bahagia terus ya sayang bilang sama Tuhan kalau papa kangen putri kecil papa,"
Sebulir air mata jatuh tanpa diminta, banyak sekali memori selama pertumbuhan putri kecilnya, dari mulai belajar berjalan, berlari, berbicara bahkan ketika sang putri belajar bersepeda.
Memori itu terputar bagaikan kaset rusak di pikirannya, rumah yang dulunya ramai sekarang hening layaknya rumah tak berpenghuni.
"Nanti mama, papa dan Abang mu akan berkunjung ke rumah mu, Papa mohon datang kemimpi ya sayang papa rindu Eca," lirihnya sembari mengusap air matanya.
***
25 menit berlalu, kini Alle tengah berjalan diantara gundukan tanah dengan membawa beberapa tangkai bunga mawar putih, hingga langkahnya berhenti di sebuah gundukan dengan nisan yang bertulisan.
Meisya Bramantyo
Binti
Bagas Bramantyo
"Hai aku datang lagi, selamat ulang tahun pasti sekarang kamu udah bagaia dan kumpul lagi. Tolong bilangin ke Meira, kalau aku butuh bantuan dua," lirihnya sembari membersihkan makam Meisya dari rerumputan.
Alle menaburkan bunga setelahnya menundukkan kepalanya seraya berdoa, setelah selesai berdoa Alle pun beranjak dari duduknya.
"Aku pamit dulu, semoga kalian nanti mampir ke mimpi ku," pamitnya.
***
__ADS_1
Berjalan menyusuri jalan ibu kota, Meira bertekad akan mencari pekerjaan jadi jika sewaktu-waktu dirinya di usir atau tidak di kasih uang saku dia tidak perlu pusing-pusing.
Langkahnya berhenti di sebuah cafe, di sana ada yang membagikan selembaran yang menuliskan bahwa cafe tersebut sedang membutuhkan karyawan, "ah apa aku coba dulu? Siapa tau aku di terima."
Meira pun masuk kedalam cafe tersebut, banyak sekali anak muda yang nongkrong disana. Dia pun berjalan hingga akhirnya dia berhenti di sebuah kasir, "permisi, saya lihat cafe ini butuh tenaga kerja? Boleh saya bertemu dengan pemilik cafenya?" Tanya Meira.
"Emm boleh sebentar ya ka, mohon maaf dengan ka siapa?" Tanya sang kasir.
"Meira,"
"Mohon di tunggu ya ka, bos kami sedang berada di jalan."
"Baik ka,"
Meira pun berjalan-jalan menatap indahnya cafe itu, ada beberapa remaja yang nongkrong dengan teman, pacar, sahabat, bahkan tak jarang sebuah keluarga harmonis juga ikut nongkrong di sana juga.
Pemandangan tersebut membuat Meira merasakan iri, di mana sebuah keluarga harmonis sedang merayakan ulang tahun sang putri, dimulai dari nyanyi bersama, potong kue, bahkan acara makan sekaligus.
"Kapan Meira bisa ngerasain semua itu," gumamnya.
"Ale kangen bunda sama Abang, kabar kalian gimana? Harusnya Ale udah ketemu ayah, tapi Tuhan membuat Ale terdampar di tulis salah seorang remaja bunda," batinnya.
Meira menghela nafas panjang dan kembali menyelusuri setiap sudut cafe tersebut, hingga akhirnya ia berhenti di sebuah panggung kecil yang tersedia di cafe tersebut.
"Em, mas boleh ga saya ikut nyanyi disini?" Tanyanya kepada sang gitaris.
Sang gitaris pun menatap teman-temannya, seolah meminta jawaban, dan dibalas anggukan kepala oleh teman-temannya, "boleh ka."
"Makasih mas,"
Setelah semuanya siap, Meira pun mulai duduk di kursi yang didepannya sudah ada piano.
"Hallo selamat siang semuanya, perkenalkan saya Meira saya akan membawakan lagu spesial untuk perempuan yang sudah rela berjuang hidup dan mati supaya saya bisa merasakan dan melihat indahnya dunia," Ucapnya.
"Terimakasih kepada mama, mama pahlwan tanpa jasa buat Meira, mungkin tanpa mama Meira tidak bisa merasakan apa itu hidup di dunia, baik langsung saja ke lagunya selamat menikmati," lanjutnya.
Bunda- Melly Goeslow
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil, bersih, belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
__ADS_1
Tentang riwayatku
Sekelebat bayangan dimana dirinya dan sang bunda, mulai dari hal kecil hingga sekarang.
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S'lalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Hingga dimana titik terpuruknya, kehilangan cinta pertamanya membuat dua orang rapuh di saat bersamaan, tetapi ada satu orang yang tetap berusaha untuk menguatkan anak-anaknya walaupun dirinya sendiri rapuh karna ditinggal pergi oleh cintanya.
Tangan halus dan suci
T'lah mengangkat tubuh ini
Jiwa-raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Seseorang yang slalu membela anaknya, menjadi panutan untuk kedua anaknya dan berusaha yang terbaik untuk kedua anaknya. Menjadi ayah dan ibu diwaktu bersamaan bukanlah hal mudah, tetapi beliau bisa melakukannya.
Meira menjeda nyanyiannya, memejamkan matanya, air matanya menetes ketinga mengingat semua kenangan bersama orang tercintanya. Dia hanya bisa berharap semoga dirinya bisa bertemu sang bunda.
Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu
'Kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu
__ADS_1
'Kan selalu ada di dalam hatiku
***