
Deru mesin motor saling bersahut-sahutan, tak hanya itu suara teriakan penonton juga ikut serta dalam balapan tersebut. Di ujung sana Ronald dan Alister saling salip menyalip untuk memenangkan pertandingan tersebut. Garis finis sudah semakin terlihat, Alister pun memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Wushh
Alister memenangkan pertandingan tersebut, teman-temannya segera berkumpul dan memberikan selamat kepadanya. Sedangkan di belakang sana Ronald datang dengan perasaan marah.
"Pasti lo main curang kan!" Sarkas nya.
"Heh kutu kumpret kalau emang kalau ya udah di terima aja," jawab Elvan.
"Tau tuh, udah tau sering kalah masih aja nantangin buat balapan, Gelo sia." Imbuh Galbino.
"Sialan, serang mereka." Teriak Nando.
Pertempuran pun terjadi, para penonton berlarian menyelamatkan diri mereka. Sudah beberapa dari geng Ronald yang tumbang, Fabio berhadapan langsung dengan Nando, Alister dengan Bara yang notabenenya adalah wakil black wolf, Gabino dengan Nando, Galbino dan Elvan menyerang satu orang akan tetapi badan lawan mereka 2× lipat dari mereka berdua.
"Hiah, rasakan pukulan sarenggan."
Watcau
"Gal, pegangin tangan si sumo ini."
Elvan bersiap akan mengeluarkan jurus andalannya yang bisa membuat siapapun yang mendapatkannya tak bisa berkutik.
"Rasakan jurus seribu bayang."
Bimo yang sudah mempunyai firasat buruk pun berusaha melepaskan cekalan Galbino. Sementara Elvan sebelum melancarkan aksinya meniup tangannya sembari membaca mantra dan
Wushh
"Anj geli bego."
Hahahaha
"Lepasin anjing."
"Bangsat, gue pengen kencing."
Hahahahaha
"Elvan bangsat."
Hahahaha
Seolah-olah seperti virus tawa Bimo menular ke Galbino dan juga Elvan. Sementara pasukan yang lain pun seketika menghentikan acara baku hantam, dan menatap kearah mereka bertiga.
"Tuh tiga manusia niat berantem atau engga sih anjing."
"Pantau dulu aja, baru bantai."
Sedangkan 3 serangkai itu masih saja asik dengan dunianya sendiri, sampai akhirnya mereka capek.
“anjir capek lah, ngapain kek males berantem nih.” Ujar Elvan
“gimana kalau kita main remi aja, gue bawa nih.” Sahut Bimo.
“ide bagus tuh, gue juga bawa kacang sisa tadi nonton balapan.” Imbuh Galbino.
Mereka pun duduk melingkar, Bimo pun segera membagikan kartu tersebut kepada Elvan dan Galbino. Permainan pun di mulai, tak ayal terkadang mereka juga membahas beberapa topik panas seperti...
“gila sih, masa gara-gara berita si V******, F*****, sama si D**** cewe gue minta putus.” Curhat Bimo.
“emang ada apa sih?”
“ya itu, yang si V sama F selingkuh,” ujar Bimo, “padahal nih ya, istri sahnya tuh cuakep banget gila, masih aja kurang emang bangsat tuh orang.”
__ADS_1
“anjing bisa-bisanya, terus kalau si D apa masalahnya?” tanya Galbino.
“kalau itu sih gue belum tau, Cuma katanya si D itu gugat cerai istrinya.”
“bentar deh, si F itu yang istrinya dulu pernah ikut di sgg ga sih?” tanya Elvan.
“iye njing,”
“gilak, padahal istrinya bela-belain pindah agama tapi dianya kek anjing.” Celetuk Elvan, “tapi gapapa sih kalau mereka cerai, kan gue bisa maju buat dapetin doi hahaha.”
“dih seleranya janda anak 3.”
“gapapa kadang janda lebih menggoda dan pastinya sudah berpengalaman.” Ucap Elvan, “apalagi janda sekarang semakin wow.” Lanjutnya.
“ye, lu mah kepalanya isinya itu aja.” Sindir Galbino.
Mereka bertiga masih saja asik dengan dunia mereka sendiri, tanpa menyadari bahwa kedua kepala ketua mereka sudah mengeluarkan tanduk yang kapan saja bisa meledak. Baiklah kita hitung dalam 3 detik dan
Satu
Dua
Ti—ga
“Elvan Galbino/Bimo!” teriak sang ketua.
Sedangkan sang empu hanya menggaruk-garuk kepalanya dan tak lupa dengan wajah tanpa dosanya itu, “hehehe ada apa bos?” tanya mereka bertiga.
“kalian niat berantem atau engga sih!” sentak Ronald.
“ah kalian mah ga seru, dari pada berantem habisin tenaga mending main remi ya ga.” Jawab Elvan yang di balas anggukan kepala oleh Galbino dan Bimo.
Karena jawaban dari Elvan itu, war kali ini gagal akibat tiga serangkai tadi. Sedangkan wajah inti lainnya sudah murung sejak tadi, karena mereka sudah babak belur dan pertarungan berhenti begitu saja? memang laknat si Elvan sama Galbino.
Black wolf maupun black cobra kembali ke markas masing-masing, dengan perasaan dongkol. Sedangkan di markas Black cobra, kelima inti duduk melingkar di karpet bulu.
Alister bangkit dan menyambar jaket yang tergantung di sofa, di ikuti Fabio yang juga berdiri menyusul Alister, sedangkan Gabino lebih memilih pergi kedapur untuk mengambil minum dan melakukan ritual mandi supaya tubuh dan otak nya kembali fress.
Di karpet tersebut tersisa Elvan dan Galbino, elvan menyikut bahu Galbino sembari berkata, “lo sih siapa suruh main remi segala, marah kan tuh bos.” Ujarnya.
“ye kok gue, kan lo juga mau anjing.”
“terus kita harus gimana nih?” tanyanya.
“ya mana gue tau anjing.”
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya diatas karpet memandang langit-langit, “kira-kira si Bima di sana kayak kita juga gak ya?” tanya Galbino.
“mungkin, atau bahkan lebih parah, lo tau kan Ronald kalau udah marah kek apa.” Jawab Elvan.
“ya semoga Bima masih utuh.”
***
Sekarang pukul 23.30 WIB jalanan ibu kota sudah lumayan sepi, membuat ia bebas mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Namun naas, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyebrang yang membuat ia tak sempat mengerem dan
Bruk
Ia pun terjatuh dengan sangat tidak elit, sedangkan penyabrang tersebut panik dan segera menghampiri korban.
“mas-mas tidak apa-apa?” tanyanya..
“ga papa pala lo peang!” sentaknya.
“sakit nih pantat gue.”
__ADS_1
“aduh-aduh, maaf mas saya ga tau.”
“mangkanya kalau jalan tuh liat-liat dulu, jangan maen nyolong aja.”
“iya-iya mas, sekali lagi saya minta maaf ya mas.” Pintanya yang di balas daheman.
Ia pun bangkit tak lupa ia juga membangunkan montor kesayangannya yang lecet bagian sampingnya, dan mengendarai kembali menuru rumah.
Sesampainya di rumah, ia menatap bingung ke arah ruang tamu yang masih menyala.
Tumben pikirnya.
Ia pun melangkahkan kaki masuk kedalam setelah memarkirkan motor kesayangannya, berjalan dengan sebelah kaki yang pinjang akibat insiden tadi.
Ketika ia membuka pintu, ia terkejut ketika meliht seorang wanita yang sangat ia sayangi tertidur dengan posisi terduduk di sofa.
Ia pun berjongkok di depan wanita paruh baya tersebut dan mengelus pelan tangannya.
“ma, mama bangun.” ucapnya.
Sedangkan wanita paruh baya yang di panggil mama itu pun spontan membuka matanya, “eh astagfirullah, mama ketiduran disini, ada apa sayang?”
“mama ngapain tidur di sini?” tanyanya.
“ah, eng-engga apa-apa.” Ujarnya sembari melihat ke arah pintu membuat sang anak penasaran.
“mama lagi cari siapa?” tanyanya.
“ah engga, kamu baru pulang?” tanyanya yang di balas anggukan kepala, “sendirian?” lagi-lagi di balas anggukan kepala.
“emang ada apa sih ma?”
“gapapa, ya udah mama ke kamar duluan, kamu jangan bergadang.”
“iya ma, selamat tidur ma.”
“iya jagoan.”
***
Di sebuah ruangan VIP seseorang terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangannya tak lupa juga dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Perlahan tapi tangan mungil itu mulai bergerak seolah memberi kode bahwa sang pemilik tubuh sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya.
Seorang suster yang waktu itu mengechek keadaan sang pasien pun tersenyum miris, ternyata masih ada orang tua yang tega membiarkan anaknya sakit dan tanpa di temani siapa-pun.
Mata sayu itu mulai terbuka, yang ia lihat pertama adalah seorang suster yang sedang tersenym kearahnya, “sus-ter.”
“iya, ada yang bisa saya bantu?”
“saya mau mi-minum.”
Sang suster pun segera mengambilkan gelass dan membantu meminumkannya. Setelah selesai suster pun kembali menaruh gelass itu.
“saya kenapa sus?”
“nona mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan tangan dan kepala non harus di perban untuk sementara waktu.” Jawabnya, “emm, maaf non kalau saya lancang. Apa keluarga non tau kalau non kecelakaan?”
Sedangkan sang pasien hanya tersenyum tipis, sang suster yang mellihat itupun menjadi tidak enak sendiri ia bingung harus bagaimana lagi.
“sus, kalau boleh tau handphone saya mana?” tanyanya.
“ini non,” ujarnya, sang suster pun meminta izin untuk undur diri karena dia harus mengechek pasiennya yang lain.
Tinggallah ia sendirian disana, menatap langit-langit kamar. Dulu ketika ia masih di raganya sendiri ada sang bunda yang selalu menemaninya ketika ia sakit, tetapi sekarang ia harus mandiri tak ada siapa pun yang menemaninya.
“bunbun, Ale kangen.”
__ADS_1
“biasanya kalau ale sakit bunda selalu nemenin Ale, tapi sekarang Ale sendirian. Ale takut bunbun.” Lirihnya.
Tiba-tiba dering ponselnya pun berbunyi, ia melihat siapa yang menghubunginya. dan segera mengangkatnya.