
Hari ini tepat tanggal 22 Desember yang slalu di peringati sebagai hari Ibu, aku berencana untuk memberikan sedikit kejutan untuk ibu bersama Abang Dikta. Aku sengaja bilang kepada bunda kalau aku mampir ke rumah sahabat ku, dan hari ini bunda di toko karena biasanya setiap hari-hari penting toko akan ramai banjiran pesanan hari penting itu.
"Semuanya udah siap bang?" Tanya ku.
"Siap semuanya."
Kali ini berbeda dengan perayaan sebelumnya, kalau biasanya aku dan bang Dikta slalu merayakan hari ibu di restoran kali ini kita memilih di rumah untuk merayakannya.
Kue, masakan kesukaan bunda, bucket bunga dan uang, tak lupa sebuah kado spesial di hari ibu untuk bunda tercinta.
Aku membagi tugas dengan Abang, aku yang membawa kue dan Abang yang berjaga di depan. Semua saklar lampu sudah di matikan supaya bunda tak curiga akan semuanya, setelah Abang memberi aba-aba jika bunda sudah di depan pagar.
"Loh kok masih mati lampunya? Apa Alle belum pulang ya?" Gumam bunda.
Bunda Maya pun berusaha mencari saklar lampu, setelah menemukannya dan...
Duar
"Happy Mother Day bunda," teriak Alle dengan sebuah kue tar di tangannya.
Maya pun menintihkan air matanya, setelah semua lampu menyala dari arah belakang Dikta membawa bucket yang sudah ia dan sang adik siapkan.
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S'lalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Dikta pun mengambil kedua tangan sang bunda, menciumnya dengan tulus dan ikhlas. Sebulir air mata mengalir di pipi Dikta, 6 tahun sang bunda berjuang untuk hidup dirinya dan sang adik, apalagi ditambah Dikta masuk di salah satu universitas yang membutuhkan banyak sekali biaya membuat dia menambah beban sang bunda walaupun sang bunda tak pernah merasa terbebani akan itu semua.
Tangan halus dan suci
T'lah mengangkat tubuh ini
Jiwa-raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
"Selamat hari bunda untuk bunda ku tersayang, terimakasih atas semua jasa-jasa mu maaf jika selama ini anak-anak mu slalu membuat mu kesal.
__ADS_1
Tanpa bunda mungkin kita ga tau jadi bagaimana sekarang, terimakasih juga sudah membangun pola pikir kita dengan sebaik mungkin, we love you so much mom."
Bunda Maya yang mendengar itupun tersenyum dan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan hangat kedua anak-anaknya.
"Terimakasih juga sudah mau berjuang bersama bunda untuk segala waktunya, i love you too sayangnya bunda."
Flashback off
Kenangan singkat itu berputar kembali bagai kaset rusak, Maya ingin sekali mengulang memori itu dan meminta waktu untuk berhenti sejenak.
"Em, saya minta maaf Tante kalau perkataan saya membuat Tante keinget anak Tante."
"Gapapa, oh iya Meira udah lama kenal anak Tante?"
"Belum Tan, bang Dikta itu ternyata orangnya hangat ya Tan padahal dulu saya kira bang Dikta itu tipe yang dingin dan cuek."
"Ya Dikta memang seperti itu," ucap Maya sembari tersenyum, "oh iya, kamu mau bantuin Tante masak ga?"
"Boleh Tan?"
"Boleh dong, adanya kamu buat rindu Tante sama anak tante sedikit terobati."
Mereka pun menghabiskan waktunya di dapur, dari jauh Dikta melihat itu semua. Dirinya tersenyum ketika melihat sang bunda kembali ceria dengan kehadiran sang adik walaupun di raga yang berbeda, dia ingin sekali mengatakan ke sang bunda bahwa selama ini adiknya tidak pergi meninggalkan mereka, namun ia tersesat di raga seseorang.
***
"Kamu harus cobain masakan Meira bang," ujar bunda Maya yang mengambilkan lauk untuk Dikta, "ternyata dia jago masak juga tau, wah menantu idaman lah."
Dikta yang mendengar itupun tersenyum sembari menatap Meira yang juga tersenyum kearahnya.
"Ayo makan-makan."
Mereka pun menyantap makanan tersebut dengan suasana hening, tanpa disadari sebulir air mata mengalir dari mata indah milik Meira, melihat perubahan ekspresi dari sang bunda membuat ia semakin takut jika harus kembali ke neraka itu. Disini ia bahagia, mendapatkan kasih sayang yang sangat besar, kehangatan keluarga, tak pernah merasakan kekerasan sedikitpun.
"Mei kenapa nangis?" Tanya Dikta yang mengalihkan pandangan bunda Maya.
"Ah gapapa ka, tadi kelilipan debu."
"Sayang kamu kenapa? Bunda bikin kamu ga nyaman disini?" Tanya bunda Maya yang tak sengaja mengubah aksen Tante menjadi bunda.
Meira yang ditanya itu hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Maya yang melihat itu tak percaya lantas bangkit dan mendekat kearah Meira, "nangis aja jangan di tahan ada bunda disini." Ujarnya sembari mengelus lembut punggung Meira membuat pertahanan itu runtuh seketika.
Maya yang mendengar suara tangis pilu dari Meira pun ikut menintihkan air matanya, suara pilu itu sangat menyakitkan bagi Maya, dari suara tangisnya saja Maya tahun seberapa berat beban hidup yang di pikul oleh Meira sendirian.
"Kalau kamu butuh temen curhat ada bunda, jangan kamu pikul sendirian."
__ADS_1
Kata yang slalu ingin Meira dengar dari mamanya, kalimat simple yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya.
"Ma-makasih Tante, Me-meira suka pelukan Tante," ujarnya sembari menatap Maya.
Maya tersenyum mengusap air mata yang jahat berani-beraninya membasahi wajah cantik itu, "no mulai sekarang ga boleh panggil Tante, but bunda anggap aja bunda orang tua mu, sahabatmu, teman mu berbagi cerita."
Meira pun tersenyum dan memeluk kembali Maya, dia berterimakasih kepada Tuhan yang sudah mendengarkan dan mau mengabulkan doa-doanya.
'terimakasih Tuhan, sudah mempertemukan ku kembali bersama orang yang ku cintai, Ya Allah hamba minta sebentar saya hamba ingin melewati semuanya sekali lagi'
'bahagia terus ya dek, Abang akan sekuat tenaga Abang biar kamu bisa keluar dari keluarga toxic itu'
'ya Allah kuatkan lagi bahu anak ku ya Allah, hamba yakin engkau tak akan menguji hambamu di luar batas kemampuannya '
Jam sudah menunjukan pukul 16.00 Dikta pun mengantarkan Meira untuk kembali kerumahnya, membuat sang bunda sudah untuk melepaskan Meira.
"Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi kok bunda, atau nanti waktu bunda main ke Jakarta kita bisa janjian ketemu ini nomor hp Meira bunda bisa telfon Meira kalau bunda kesepian."
"Iya sayang bunda akan singgah ke Jakarta nanti dan kita harus habisin waktu bersama lagi," serunya sembari tersenyum, "oh iya ini bunda ada bingkisan buat kamu jangan lupa di makan ya titip salam juga buat orang tua mu, dan untuk kamu Dikta hati-hati bawa motornya." Lanjutnya yang di balas anggukan kepala oleh Dikta.
Keduanya pun berpamitan, kali ini Dikta membawa mobil karena cuaca malam yang tak baik buat Meira. Mereka melambaikan tangan kearah Maya, terlihat raut wajah Maya yang menatap kepergian Dikta dan Meira dengan sendu.
"Hati-hati, Dikta jangan ngebut bawa mobilnya!" Teriak Maya yang di balas acungan jempol.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta hanya keheningan yang menyelimuti keduanya, Meira yang menatap kosong jalanan dan Dikta yang fokus dengan kemudinya, "udah ga usah sedih lagi, nanti Abang ajak kamu ke rumah bunda lagi kalau kamu kangen bunda, tapi kamu harus janji sama Abang harus selalu bahagia Abang ga mau liat adik Abang murung." Kata Dikta yang berusaha menghibur sang adik.
"Bang, makasih ya udah mau jadi penguat bunda selama aku ga ada, mungkin aku gatau tanpa Abang bunda bagaimana hidupnya,"
"Harusnya Abang yang berterimakasih sama kamu, karena sudah mau bertahan walaupun di raga orang," ujarnya sembari mengusap lembut rambut Meira.
Meira yang di perlakukan seperti itu hanya mampu tersenyum, setelah menghabiskan waktu panjang selama di perjalanan akhirnya mereka sampai di depan sebuah mansion mewah milik keluarga Bramantyo.
"Abang hati-hati jangan ngebut, jangan bergadang, aku sayang Abang."
"Oke, kamu juga langsung bersih-bersih jangan lupa shalat."
Dikta pun menjalankan kembali mesin mobilnya, setelah memastikan bahwa mobil Dikta sudah pergi. Meira menghela nafas panjang, memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Melangkahkan kaki menuju pintu utama mansion, begitu ia membuka ganggang itu dia sudah di sambut dengan sebuah tamparan yang mendarat mulus di pipinya.
Plak
"Oh masih ingat rumah? Saya kira kamu sudah lupa dan memilih tidur dengan lelaki hidung belang itu."
***
Holla Happy New Year guys
__ADS_1
what are your hopes for this year?