Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 08


__ADS_3

Keheningan terjadi, hingga sebuah suara menyadarkan Meira dari lamunannya, "Mei, mau mampir makan dulu ga?"


"Emm, ga usah deh ka. kita langsung pulang aja, kasihan kakak pasti udah capek banget," ujarnya.


"Oke, pegangan ya Mei," ucapnya.


15 menit menempuh perjalanan, sepanjang jalan hanya ditemani keheningan Meisya yang menikmati indahnya ibu kota dan sang pengendara yang menikmati ciptaan Tuhannya. Roda kendaraan itu terus berputar, Hingga akhirnya berhenti tepat didepan pagar rumah megah tersebut.


Meira pun turun, melepaskan helm dan menyerahkan helm-nya ke kakak kelas yang mengantarnya, "makasih ya ka udah mau nganterin sampai rumah, kakak hati-hati dijalan," ucapnya.


"Sama-sama Mei, kalau gitu gue duluan ya," pamitnya.


Meira pun tersenyum, sembari melambaikan tangannya ketika sang pengendara sudah melajukan kendaraannya. Sepergian kendaraan tersebut Meira, berjalan masuk kedalam rumah.


Hening


Satu kata yang menggambarkan suasana rumahnya sekarang, percuma rumah sebesar dan semewah ini tetapi selalu hening bahkan tanda-tanda kehidupan pun tak ada disana.


Tetapi suasana hening tersebut tak berselang lama, ketika Meira baru saja melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya suara deru motor terdengar, sekumpulan remaja dengan pakaian yang sudah tak layak di sebut pelajar, dasi yang nangkring di kepala ada juga yang membuka dua kancing kemeja atas, topi yang terbalik sewaktu memakainya.


"Eh cupu, buatin kita-kita minum dong haus ini yang enak ya,"


"Sekalian sama snacknya jangan lupa ya,"


Meira yang mendengar itupun hanya bisa menghela nafasnya, berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman dan mengambilkan Snack untuk tamu tak di undang itu.


"Eh, Al dah lama nih ga nge-game mana PS lo?"


"Ke kamar aja langsung, males bawa turun gue," jawab Alister.


Mereka pun berjalan menuju kamar Alister yang berada diatas, sesampainya mereka segera menghempaskan tubuh mereka di kasur paling empuk itu.


"Ahh, nikmatnya ternyata gini ya kasur orang kaya tuh," ucap Elvan.


"Norak anjir, ngomong-ngomong lo juga orang kaya kalau lo lupa," sindir Galbino.


"Tapi kan masih kaya Alister sama Fabio, gua mah cuma anggak seorang penambang aja," ujar Elvan lagi.


"Iye, anak penambang emas kan maksud lo enteng kadang-kadang," ucap Galbino sembari melempar bantal kearah Elvan yang kemudian dibalas dan terjadilah adu lempar-lemparan bantal.

__ADS_1


Sedangkan Alister, Fabio dan Gabino hanya menonton tanpa mau melerai keduanya, hingga akhirnya Gabino bosan dan bangkit dari sofa tempat dia duduk dan berjalan kearah pintu.


"Mau kemana Gab?" Tanya Alister.


"Kamar mandi," jawabnya sembari membuka pintu kamar Alister.


"Lah, kan ada kamar mandi di dalam ngapain lo keluar?" Tanya Elvan yang hanya dianggap angin oleh Gabino.


***


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki terdengar di telinganya, Meira pun menoleh netranya bertabrakan dengan netra Gabino.


"Eh, kakak nunggu lama ya? Maaf ya ka tadi Meira ganti baju dulu," ujarnya.


"Ah gapapa Mei, gue ke sini cuma mau ke toilet doang kita juga ga lapar-lapar banget kok," jawab Gabino.


Gabino pun pergi meninggalkan Meira dan tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Meira. Beberapa menit berlalu, akhirnya Gabino keluar dan melihat Meira yang masih sibuk menata Snack dan minuman yang akan di antar keatas dimana teman-temannya berada.


"Mei, sini gue bantu," tawarnya.


"Eh gausah ka, Meira bisa kok," tolaknya namun, bukan Gabino namanya kalau membiarkan begitu saja.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan Meira yang membawa nampan berisikan Snack dan Gabino yang membawa nampan berisikan minuman. Mereka berdua telah sampai di depan kamar Alister, Meira pun mengetuk dan membukakan pintu tersebut, mempersilahkan Gabino masuk terlebih dahulu.


Setelah menaruh beberapa Snack dan minuman, suara dari Galbino membuat Meira lagi-lagi menghela nafasnya, "udah sana, ngapain lama-lama disini mah caper?" Usirnya.


"Kalau begitu Mei permisi dulu, silahkan dinikmati," pamitnya.


***


Sepergian Meira mereka semua masih menikmati Snack yang dibawakan Meira, "eh Al, kok keluarga lo betah-betah aja sih tinggal bareng sama pembunuh kaya Meira?" Tanya Elvan.


"Gatau mungkin papa masih mau buat tuh hama merasakan hidup di neraka mungkin," jawabnya.

__ADS_1


"Emang lo ga takut ada korban selanjutnya lagi?" Imbuh Galbino.


"Iya bener tuh Al, udah deh mending lo bilang sama om Bagas buat ngusir tuh hama biar gada korban lagi," ujar Elvan yang setuju dengan Galbino.


Sedangkan Gabino berdecak mendengar ucapan kembaran dan sahabatnya itu, "harusnya tuh kalian nyuruh Al buat buka matanya bukan malah buat Al benci sama adeknya," ujar Gabino.


"Dih udah deh lo diam aja Gab, pasti tiap bahas tuh hama lo slalu ngebela aja," kata Galbino sedangkan Gabino hanya bisa menghela nafas, memang susah kalau ngomong sama teman-temannya.


Tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya sendari tadi Meira masih di depan pintu kamar Alister, mendengar semua percakapan sahabat-sahabat Alister.


Tanpa di minta, sebulir air mata mengalir bayangan-bayangan kekerasan mulai bermunculan membuat Meira merasakan sesak, "ya Tuhan sesakit ini, kalau memang jalan hidup hamba seperti ini, hamba mohon kuatkan lagi pundak ini Tuhan," batinnya.


Sudah cukup, ia tak ingin lagi mendengar lebih jauh, Meira pun berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, dia rebahkan tubuhnya air mata yang sendari tadi ia tahan keluar dengan derasnya.


Sebenarnya sendari tadi kegiatan Meira tak luput dari pandangan sosok yang berada disamping meja belajarnya, sosok itu tersenyum miris harusnya tidak seperti ini. Dia ingin pergi dengan tenang, dia ingin istirahat, tetapi sebelum dia beristirahat dengan tenang dia ingin memastikan sang adik sudah bahagia dan tak lagi mendapatkan kekerasan dari keluarganya sendiri. Tetapi apa? Sudahlah biarkan Tuhan yang membalas semua yang adiknya rasanya.


"Kamu kuat sayang, semoga kita bisa bertemu walaupun dimimpi ingin sekali aku memeluk mu dan menyalurkan separuh tenagaku untukmu. Aku pamit tetaplah tersenyum, ingat Tuhan tidak tidur jadi kau jangan khawatir, semua akan terbalaskan walaupun mereka keluarga mu sendiri," lirihnya.


***


Meira Bramantyo


Semua orang yang mengetahui marga-nya mungkin mengira hidupnya sempurna terlahir dari keluarga terkaya nomor 2 di asia menjadi anak bungsu keluar gambar bramantyo namun, mereka mereka lihat hanyalah sandiwara.


Meira gadis lugu yang berubah menjadi gadis sombong,seorang ratu bullying, meira melakukan itu hanya demi menarik simpati saudaranya. di kucilkan, di benci, bahkan di tubuh oleh keluarganya sendiri atas kematian saudara kembarnya meisya bramantyo.


Semua berawal dari 11 tahun yang lalu mereka Meira merasa bukan bahwa hidupnya sangatlah bertolak belakang dengan realita yang dia terima, hanya kakek dan neneknya yang selalu percaya dengannya.


Sang tokoh utama Antagonis yang menghalalkan segala cara untuk apapun yang dia inginkan. Seperti berubah menjadi iblis kematian.


Allen Putri Daisha


anak bungsu keluarga hermawan terlahir menjadi gadis sederhana dan ber kecukupan, hidup bertiga bersama sang bunda dan abang tersayangnya. sang ayah harus berpulang terlebih dahulu ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar, akibat serangan jantung.


Daisha Flores


hanya toko bunga kecil yang bisa menghidupi keluarganya, salah satu peninggalan sang ayah. Allen sendiri terkenal dengan kepintarannya yang selalu menyumbangkan medali entah akademik ataupun non akademik tetapi dia juga termasuk dalam jajaran bad girl berprestasi.


Sang tokoh utama yang harus bertansmigrasi kedalam raga seorang iblis kematian.

__ADS_1


***


__ADS_2