Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
1


__ADS_3

Kata "bully atau bullying" menjadi makanan untuk manusia dijaman modern sekarang ini. Lebih tepatnya untuk anak sekolah yang bangga dengan orang tua yang memiliki latar belakang kaya dan berkuasa.


Valdo enam belas tahun merupakan murid sekolah menengah atas duduk dikelas XI berteman sekelas bersama Aileen.


Valdo memiliki wajah tampan atau bisa dibilang mojangnya sekolah itu sedangkan Aileen memiliki tubuh gemuk gempal dan berambut panjang ikal.


Aileen kerap kali menjadi bahan bullian teman-temannya tapi disamping itu tidak membuat Aileen berhenti sekolah karena dia salah satu murid berprestasi, memiliki peringkat satu dikelasnya dan diantara kelas lainnya. Kepintaran yang dia miliki membuat Valdo mengaguminya dalam diam.


.


.


.


Jalan menuju sekolah harus melewati jalan yang menanjak. Aileen pergi sekolah dengan kondisi tubuh kurang fit. Dia berhenti sejenak disebuah warung sederhana untuk membeli air mineral dan meminum obat. Dalam waktu yang sama Valdo berada diwarung yang sama.


Gluk


Gluk

__ADS_1


Sesekali Aileen mengelap ingusnya menggunakan sapu tangan.


"menjijikan" celetuk Valdo yang tanpa disadari ucapannya terdengar Aileen. Padahal Valdo melihat tayangan televisi diwarung itu yang memperlihatkan acara berita tentang kasus pemerk*saan.


Deugh


Valdo menghisap rokoknya.


Aileen menoleh kekanan dan kiri hanya ada dirinya dan Valdo. Merasa ucapan itu untuk dirinya Aileen sedikit menundukkan wajahnya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


Tak berselang lama Valdo mengikutinya jarak mereka sekitar dua puluh meter. Valdo menatap lurus kedepan.


"hah... tidak mungkin aku bolos sekolah karena kondisi tubuhku. Hari ini kan ada ujian sejarah" ucap Aileen kerap kali bersin-bersin. Keringat dingin mengucur diwajahnya.


Dari arah belakang beberapa murid laki-laki dan perempuan berlari-lari kecil bercanda sambil melewati Aileen.


"badanmu terlalu gemuk seperti kerba* tidak bisa berjalan cepat di jalan menanjak seperti ini" ucap murid perempuan yang sekelas dengan Aileen.


"apa kau bilang? apa kau tahu aku, sudah berusaha untuk diet tapi perutku kelaparan" ucap murid laki-laki yang sama sekelas dengan Aileen.

__ADS_1


"percuma saja kau melakukannya. Lagipula tidak akan ada wanita yang melirikmu yang seperti kerba* ini. Mereka akan langsung lari ketakutan saat melihatmu dari kejauhan dan juga merasa jij*k"


Aileen tahu betul jika obrolan mereka ditujukan untuk dirinya. Sudah setahun Aileen menjadikan hinaan mereka sebagai makanan sehari-hari.


Aileen mengepalkan tangannya dan menatap mereka silih berganti bukan untuk membalas perkataan mereka melainkan mengingat wajah, wajah yang selalu menghina bentuk fisiknya.


Aileen menghela nafas saat terdengar suara alunan musik yang berasal dari taman yang tidak jauh dari sekolahnya. Seseorang yang setiap hari memainkan musik yang sama.


Aileen sesaat terhenti memperhatikan orang yang memainkan alat musik yang bernama Fence Music. Fence Music yang menggunakan pagar dan busur biola dan dimainkannya sama halnya seperti biola pada umumnya.


Seseorang itu selalu memakai pakaian tertutup jadi Aileen tidak tahu selama setahun rupa orang itu.


Tidak jauh dari Aileen Valdo pun melihat kearahnya.


Aileen pun melanjutkan perjalanannya. Sampai didepan gerbang sekolah. Seluruh murid terutama murid perempuan melihat kearahnya. Aileen merasa heran dengan tatapan mereka yang berbeda dari sebelumnya tapi...


Ternyata tatapan itu ditujukan untuk orang yang berada dibelakangnya yang tidak lain adalah Valdo.


Valdo berjalan terlihat sangat cool dimata mereka.

__ADS_1


"ck... jika aku bisa aku ingin mencongkel mata mereka lalu aku rebus disatukan dengan kuah sup" gumam Valdo risih dengan tatapan murid perempuan yang mengarah padanya.


__ADS_2