Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
10


__ADS_3

Pealga memberanikan diri mengajak Aileen untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang sekaligus permintaan maaf.


"Aileen, bagaimana jika kita makan lebih dulu sebelum pulang? apa kau yakin lukamu tidak perlu diobati lebih lanjut di rumah sakit? aku akan mengantarmu" tawar Pealga dengan raut wajah rasa bersalah dan permintaan maaf yang tulus terlihat jelas oleh kedua mata Aileen.


"untuk pergi ke rumah sakit itu tidak perlu tapi kalau untuk makan aku akan melakukannya" jawab Aileen membuat Pealga terlihat sangat senang mata yang berbinar.


"benarkah. Aku memiliki tempat makan rekomendasi yang sering kali kukunjungi" ucap Pealga antusias.


Valdo karena ada urusan yang sangat mendesak di salah satu anak perusahaannya setelah mengetahui pasti kondisi Aileen dia segera pergi. Meski hatinya masih ingin tetap berada dekat dengan Aileen.


Pernah terlintas untuk menyewa kontrakan di dekat Aileen. Tapi pikiran itu segera dia tepis karena dengan takut Aileen terbawa dengan masalah yang sedang dia hadapi.


Aileen dan Pealga sudah berada di depan restoran yang dimaksud Pealga. Aileen terperangah untuknya itu adalah restoran termewah yang pernah dia lihat dalam hidupnya.


"ayo" ajak Pealga menarik tangan Aileen.


Aileen terdiam.


"t-tunggu" ucap Aileen terbata.


"ada apa? kau tenang saja soal itu aku sudah menyiapkannya" ucap Pealga memperlihatkan kupon gratis.


"ayo" ajak ulang Pealga.


Aileen mengangguk kecil.


Beberapa pelayan menyambut mereka. Bahkan ada beberapa pelayan dengan memakai baju tertentu menyambut hangat kedatangan Pealga dan tentunya dengan cara berbeda. Lebih terdengar rapi dari penuturan kata dan gestur tubuh seperti pelayan kerajaan. Aileen tahu hal itu karena dia sering membaca pengetahuan dunia luar sana.


Mereka duduk di sebuah meja dengan posisi berhadapan. Pealga terlihat senang. Salah satu pelayan menghampiri mereka dan menyodorkan buku menu. Aileen terlihat bingung akan memilih menu apa untuk dia makan.

__ADS_1


"makan sepuasmu. Tenang saja kita memiliki dua kertas ajaib" bisik Pealga menyadarkan Aileen dari lamunan.


Aileen tersenyum tipis.


"Aileen, saat pertama aku melihatmu kau selalu menundukkan wajahmu tapi setelah aku mnegenalmu beberapa menit lalu ternyata kau berbeda. Aku kira kau akan terus menundukkan wajahmu seumur hidupmu" ucap Pealga membuat Aileen memberanikan diri menatap kearahnya. Pandangan mereka saling beradu.


"ah itu...aku sebenarnya-" ucap Aileen terhenti Pealga menyelanya.


"kau tidak perlu menjelaskannya jika memang kau tidak ingin menjelaskannya. Tapi sekarang aku ingin mengakui sesuatu padamu"


Aieleen menggaruk pelipis yang sama sekali tidak terasa gatal.


"aku senang sekarang kau tidak menundukkan kepalamu saat bicara denganku" ucap jelas Pealga membuat Aileen tersenyum.


Aileen akan berani menatap lawan bicaranya jika dirasa nyaman berbicara dengan mereka. Salah satunya Pealga alasan utamanya karena dia sudah menolong Aileen saat terdesak.


"aku tidak mengerti menu makanan di tempat ini. Apa kau bisa memilihkannya untukku?" ucap Aileen dengan nada pelan seraya memegang buku menu menutup sebagian mulutnya. Hal ini terlihat lucu bagi Pealga.


Singkat cerita makan bersama tanpa mengeluarkan suara sedikit pun hanya ada bunyi alat makan yang mereka gunakan. Beberapa saat kemudian mereka telah menyelesaikanya.


Pealga membersihkan sisa makanan dimulut Aileen. Peakuan ini membuat Aileen mematung sekaligus hatinya merasa tersentuh. Sejak ditinggalkan orang tuanya Aileen tidak bisa dipungkiri dia merindukan sentuhan hangat mereka terutama ayahnya.


"aku akan mengantarkanmu pulang" ucap Pealga beranjak dari kursinya diikuti oleh Aileen.


Mereka pulang bersama berjalan kaki bersampingan.


"apa kau setiap hari berjalan kaki?"


Aileen mengangguk kecil.

__ADS_1


"apa kau tidak memiliki kendaraan? sepeda misalnya"


Sepanjang perjalanan Pealga memberondong Aileen dengan pertanyaannya dan Aileen hanya menjawab dengan anggukkan kecil, gelengan kepala, dan berkata ya atau tidak.


Mereka sampai di depan kosan sederhana milik Aileen.


"kau tinggal sendiri?" ucap Pealga menatap kearah kosan yang ditempati Aileen.


"ya kebetulan kedua orang tuaku tinggal jauh dan aku tidak memiliki satu pun saudara" ucap Aileen melangkah memasuki halaman kosan kecilnya tapi kemudian badannya berbalik melupakan sesuatu yang harus dikatakan.


"terima kasih kau sudah menolongku. Sebagai balas budi lupakan tentang ujian itu. Kau tidak perlu mengulanginya" ucap Aileen dengan nada terdengar lembut ditelinga Pealga.


"aku akan tetap melakukannya. Kau jangan khawatir tentang itu" ucap Pealga dengan senyum lebar.


Aileen masuk ke dalam kosannya. Sepeninggalan Aileen Pealga dihampiri tiga orang pengawal dengan pakaian mencolok dan sangat berbeda dari orang-orang kaya lainnya.


"ser" panggil seorang pengawal.


"ada apa? kalian dari tadi mengikutiku. Sudah aku bilang jangan mengikuti saat sedang dengan wanita itu. Aku sudah mengulangi perkataanku dua kali jadi kalian akan hukuman dariku" ucap Pealga dengan nada dan wajah dingin. Dia melepas kacamata dan mengacak rambutnya.


"katakan" ucap singkat Pealga.


"tadi orang suruhan tuan Valdo mendatangi rumah yang beberapa waktu lalu kita tempati"


"lalu?"


"ser, tenang saja kami sudah menanganinya"


Pealga menghela nafas kasar.

__ADS_1


"jadi kita akan mencari rumah baru. Lakukan saja. Tidak perlu mewah yang penting bersih dan nyaman" ucap Pealga dengan penuh tekanan.


Pealga merupakan turunan bangsawan. Saat ini dia sedang kabur dari kediamannya karena tidak sependapat dengan ayahnya. Ayahnya yang memiliki banyak selir setelah meninggalnya sang istri sekaligus ibu Pealga membuat Pealga muak. Maka dari itu dia tidak menyukai menyewa hotel dan penginapan karena menurutnya tempat itu hanya dijadikan sekumpulan manusia yang melakukan hubungan terlarang. Dia lebih memilih rumah-rumah penduduk yang jarang ditempati.


__ADS_2