Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
14


__ADS_3

Pukul 07.00


Aileen bersiap untuk bersekolah dia membuat sarapan sederhana nasi goreng dengan telur dadar. Ini rutinitas Aileen setelah kepergian kedua orang tuanya. Diukur empat tahun dia dirawat nenek dari pihak ayahnya namun, umur sang nenek karena sudah tidak lagi muda dia meninggalkan Aileen seorang diri. Sang nenek meninggal saat umur Aileen sepuluh tahun. Kedua kalinya Aileen harus ditinggalkan orang tersayangnya membuat dirinya menjadi pribadi yang sangat tertutup jarang sekali dia bertegur sapa dengan tetangganya.


Saat menyiapkan buku pelajaran tidak sengaja dia menemukan buku yang sudah usang. Ketika membukanya matanya terbelalak.


"ini kan buku yang aku tulis-" ucapannya terhenti kala melihat sebuah gambar yang menggambarkan dirinya bergandengan tangan dengan ayah sedangkan ibunya diseberang sana terhalang oleh sungai dengan arus air yang deras. Lalu, halaman berikutnya dan selanjutnya ada berbagai resep pengobatan dan disetiap resep tertera catatan tertentu dengan tulisan khas anak kecil.


Aileen tersenyum tipis dia beranjak dari kursi dan bergegas pergi sekolah. Walaupun sebenarnya tubuhnya sangat tidak baik akibat kejadian semalam dan sebelumnya sudah sakit flu terlihat langkah kaki yang pelan.


Di waktu yang sama, Valdo masih di perusahaan bersama Zivan.


"ini baju seragam yang kau pesan" ucap Zivan menyodorkan baju seragam sekolah pada Valdo yang berdiri bertelanjang dada. Dilengan Valdo terlihat sebuah tato lumayan besar bergambarkan diamond atau wajik dengan warna hitam.


Valdo menoleh kearah Zivan.


"terima kasih. Kau selalu membantuku menyiapkan semuanya. Dan satu lagi aku suka saat kau bicara akrab denganku seperti barusan" ucap Valdo seraya memakai seragam di depan Zivan. Valdo menyukai Zivan saat Zivan menyebutnya dengan sebutan "kau" bukan tuan dan anda.

__ADS_1


"aku sudah mengatakan berulang kali sebelumnya. Kita ini saudara bahkan sudah seperti kakak adik. Kau adalah kakakku dan aku adikmu" ucap Valdo yang sedari tersenyum mengarah pada Zivan namun, Zivan hanya terdiam seolah berat membalas senyuman tulus dari Valdo.


Zivan menghela nafas kasar.


"baiklah. Untuk satu ini aku akan menurutmu. Jam berapa kau akan pergi ke sekolah? aku akan mengantarkanmu dan menunggumu di parkiran" tawar Zivan membalikkan badannya melangkah menuju pintu.


"kau tidak perlu mengantarku. Rawon yang akan melakukannya. Dengar, kau harus bekerja lebih keras lagi agar perusahaan ini lebih besar dan maju" ucap Valdo yang dianggap Zivan sebagai cemoohan untuknya karena Valdo selalu mengatakan berulang kali.


Valdo mengatakan hal sama berulang kali bukan untuk menyudutkan, mencemooh dan merendahkan Zivan. Dia mengatakan hal sama berulang kali untuk menyemangati Zivan karena setelah kematian Huria Zivan menjadi sosok yang sangat pendiam terlihat tidak bersemangat menjalani kehidupannya. Karena itu Valdo memberikan salah satu perusahaan terbesarnya agar Zivan memiliki kegiatan dan tidak terlalu berlarut dalam kesedihan.


"makan dan istirahat teratur aku pasti rutin mengunjungimu dan segera pakai lah baju yang sudah aku sediakan. Sebelum pergi aku ingin melihat semua karyawan terlebih dulu" ucap Valdo mengusap bahu Zivan lembut.


..._____________...


Di parkiran khusus terlihat Rawon sudah menunggunya Valdo segera menaiki mobil dan Rawon melanjukan dengan kecepatan sedang.


Valdo memasang wajah yang berbeda saat dirinya nebrsama Zivan dan Rawon. Saat bersama Zivan dia berusaha bersikap dan memasang wajah hangat tapi saat bersama Rawon dia memasang wajah sebaliknya. Rawon yang sudah paham karena merawat Valdo dari kecil dia tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


"apa kau menyiapkan untuk malam nanti? apa benar dia akan melakukan hal menjijikan seperti itu?" ucap Valdo menyadarkan tubuhnya di jok mobil.


"tenang saja aku sudah menyiapkannya saat itu terjadi anda tidak perlu khawatir. Kita ikuti saja alurnya jika tuan memang menginginkannya sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada anda" ucap Rawon memegang erat kemudi. Dia membayangkan kejadian malam nanti akan seperti apa. Ya, ujian mental atau psikis dari Reece.


Rawon melirik sekilas kearah Valdo yang terlihat termenung memandang keluar melalui kaca mobil.


"bagaimana hubungan anda dan Zivan? apa dia mengalami perubahan?" tanya Rawon membuyarkan lamunan Valdo.


"tidak ada perubahan seujung jari pun. Sebisa mungkin aku sudah melakukan yang menurutku terbaik untuknya" ucap Valdo seraya senyum getir.


"dia masih terpukul dengan kepergian nyonya kuharap anda jangan pernah menyerah untuk memperbaiki hubungan kalian" ucap Rawon berusaha menyemangati Valdo yang terlihat sedih. Setiap bertemu dengan Zivan Valdo pasti memasang wajah sedihnya dihadapan Rawon.


"katakan apalagi yang harus kulakukan untuknya?" ucap Valdo menatap lurus ke depan dengan nada datar.


"kurasa yang semua kau lakukan hingga saat ini sudah cukup. Dia membutuhkan waktu lebih untuk kembalinya Zivan yang dulu" ucap Rawon melihat Valdo dari kaca spion terlihat Valdo memejamkan matanya.


"sudah lah mendengarkanmu bicara aku menjadi mengantuk" ucap Valdo yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang Zivan.

__ADS_1


Sebelum meninggalnya Huria Valdo dan Zivan memiliki hubungan dekat seperti kakak adik pada umumnya. Zivan menjadi garuda terdepan untuk melindungi dan menjaga Valdo. Selisih umur mereka dua tahun. Zivan lebih tua dari Valdo. Saat Valdo terlahir Zivan sangat senang lucunya Zivan terjaga setiap malam agar Valdo tidak digigit nyamuk padahal rumah mereka tidak mungkin kemasukan binatang kecil itu. Lebih lucunya lagi Zivan sering mencuri untuk mencium Valdo karena memang Huria melarang Zivan mengingat kulit bayi yang sangat sensitif. Kehidupan Huria sangat bahagia memiliki dua jagoan dihidupnya.


__ADS_2