
Valdo meremas tas minimarket dan dompet milik Aileen.
"cepat cari wanita itu. Temukan dia. Jika terjadi sesuatu padanya kau akan aku hukum tanpa ampun" ucap tegas Valdo dengan penuh tekanan menatap nyalang sopir.
"b-baik" ucap terbatas sopir itu dan segera melakukan apa yang diperintahkan tuannya, Valdo.
Diwaktu yang sama tubuh Aileen yang terikat dan disiram air hingga dia terperanjat membuka matanya. Pandangannya masih kabur karena efek obat bius dosis tinggi.
"a-aku d-di mana i-ini" ucap terbatas Aileen nada lemah.
Sekumpulan lelaki itu menatap tajam Aileen.
"apa kau melupakan hutang kedua orang tuamu. Sudah tiga tahun mereka menyicilnya pada kami. Apa kau tahu berapa kerugian yang harus kami tanggung? hah" ucap salah seorang lelaki dengan lantang.
"a-aku a-akan b-berusaha m-membayarnya. B-berikan a-aku w-waktu" ucap kembali terbatas Aileen yang merasakan kantuk luar biasa.
Sebagian dari mereka tertawa.
__ADS_1
"tuan menyuruh kita melakukan apa saja terhadap anak ini. Aku kira anak sekolah sekarang cantik-cantik tapi lihat lah dia seperti kerba* yang diam di tengah sawah tidak bergerak sedikit pun"
"aku jadi tidak berselera. Bagaimana jika biarkan saja dia di tempat ini? lagipula tempat ini sebentar lagi akan ambruk dan dia akan mati mudah jadi kita tidak perlu mengotori tangan kita"
"ya kau benar. Untuk sekedar membunuhnya saja kita tidak ingin sama sekali. Apalagi harus melakukan layaknya sepasang kekasih saat menyentuhnya tadi aku terpaksa melakukannya agar pekerjaan kita segera selesai"
"lalu, apa yang harus kita lakukan dengan anak ini?"
"kita biarkan saja. Tuan menyuruh kita hanya untuk bermain dengannya"
"apa kau tidak takut jika dia mati terus arwahnya gentayangan? membayangkannya saja membuatku jijik"
"ah tidak mungkin terjadi. Lihat lah tubuh dia begitu besar di dunia sana tidak akan ada tempat untuknya. Terlalu sempit baginya"
Salah seorang lelaki menghampiri Aileen yang berusaha terbangun.
"l-lepaskan aku. Aku mohon. Aku pasti membayarnya" ucap lirih Aileen yang sedari tadi ketakutan mendengarkan ucapan mereka.
__ADS_1
"hah melepaskanmu? dengar gadis subur" ucap seorang lelaki seraya berdehem.
"apa kau masih berpikir untuk hidup dengan kondisimu sekarang ini? tubuhmu besar bahkan menurutku kau tubuh paling besar di kota ini. Lalu, apa kau tidak berpikir dengan adanya dirimu makanan untuk kami yang bertubuh kurus selalu kehabisan. Itu pasti ulahmu. Ah, kami harus kehilangan asupan protein dan merelakannya untukmu "ucap lelaki itu dengan menendang-nendang keras tubuh Aileen.
" tendangan ini tidak akan terasa untukmu. Beratus, beribu kali kami menendangmu kau tidak akan mendapatkan luka sedikit pun. Malah ini sangat bagus untuk melatih kekebalan kulit yang menempel ditubuhmu"
Sekumpulan lelaki itu tertawa terbahak. Bahkan ada salah satu lelaki dengan sengaja menempelkan rokok yang dalam keadaan menyala ketubuh Aileen.
Aileen hanya bisa menangis menahan rasa sakit. Memikirkan seseorang akan datang menolongnya tapi dia merasa itu mustahil. Semua yang mereka katakan semua benar bahwa dirinya hanya membuat tidak nyaman orang lain bahkan kedua orang tuanya pun meninggalkannya apalagi orang lain tidak mungkin ada yang bisa menerima keberadaannya.
"tidak. Ini sama sekali tidak sakit. Aku bisa menahannya. Aku harus membuat tubuhku berguna" gumam Aileen yang sekilas teringat cita-cita yang ingin dicapai.
Aileen ingin menjadi seorang penulis yang bisa menginspirasi orang-orang yang memiliki perjalanan kehidupan yang sama dengannya.
Braaak
Terdengar seseorang menerobos masuk.
__ADS_1