
Valdo dan sopir memasuki altar perusahaan. Valdo turun dari mobil langkahnya terhenti kala melihat lampu gedung masih menyala. Dia memasuki lift khusus untuknya. Dan melihat memang benar karyawannya belum pulang terlihat wajah-wajah lelah dan cemas. Lift yang langsung terhubung ke pintu ruangan Valdo.
"jangan menggangguku. Sebelum itu buatkan aku secangkir kopi hitam" ucap tegas Valdo pada sopir yang sedari tadi mengikutinya. Selama di dalam mobil sopir itu menjelaskan jika seluruh komputer tidak beroperasi dengan baik bahkan tidak bisa menyimpan file-file sebagaimana mestinya. Sebelumnya memang si sopir sekaligus kepercayaan Valdo melakukan perintah yang sesuai Valdo arahkan agar komputer dapat beroperasi kembali namun, setelah melakukannya bukan itu yang di dapat melainkan komputer nge-blank secara keseluruhan. Maka dari itu sopir segera menghubungi Valdo.
Sopir ini bernama Zivan dia masih terikat hubungan saudara dengan Valdo. Zivan saudara dari ibunya Valdo Huria. Mendengar kematian bibi Huria membuat Zivan terpukul bagaimana tidak Zivan yang hidup yatim piatu sedari bayi dia dirawat oleh Huria bahkan kasih sayangnya terasa sekali dia tidak membedakan dirinya dan Valdo. Meski Valdo jauh lebih segalanya dibandingkan Zivan. Sejak kematian Huria Zivan pun dirawat Rowan. Jadi Rowan merawat kedua anak itu sama halnya dengan Huria.
"b-baik" ucap Zivan langsung meninggalkan Valdo menuju pantry.
Valdo memasuki ruang kerjanya yang cukup lama dia tinggalkan karena menyerahkan semua urusan perusahaan tersebut pada Zivan. Ya, sesekali Zivan menghubungi Valdo jika ada urusan mendesak saja.
Di pantry Zivan memasang wajah biasa saja bahkan terlihat senyuman smirk darinya.
"ini baru awal. Kita lihat kau akan mampu bertahan hingga sampai kapan" gumam Zivan mengaduk kopi yang sudah tersedia di dalam cangkir. Zivan beranjak menuju ruang kerja Valdo.
Valdo duduk dikursi kebesarannya dengan serius menatap layar berukuran lumayan besar. Kacamata bertengger dihidung mancungnya. Dengan otomatis pintu terbuka dengan sendirinya.
*pintu yang dirancang khusus hanya untuk orang tertentu dengan menggunakan sidik jari dan verifikasi wajah. Dan itu hanya Valdo yang bisa melakukannya*
Zivan menaruh cangkir kopi tepat di meja Valdo.
Dengan lincah Valdo mengoperasikan komputer dan membuat Zivan terkesima berdiri mematung.
__ADS_1
"sampai kapan kau akan berdiri? kau mengganggu konsentrasiku" ucap ketus Valdo tanpa melihat kearah Zivan.
Zivan terlihat kesal namun dia segera menyambunyikan wajahnya.
Valdo melihat jam yang tertera di layar monitor .
"berikan seluruh karyawan makan gratis dan pastikan mereka pulang dengan selamat" ucap Valdo melirik kearah Zivan.
"tapi jika mereka pulang sekarang pekerjaan untuk pengiriman besok bisa tertunda dan tentunya klien kita akan kecewa" ucap jelas Zivan sedikit menundukkan pandangannya.
"siapa klien yang kau maksud tadi?"
"maksudmu tuan Ghimaz?"
"ya"
"atur jadwal pertemuanku dengannya. Secepatnya. Aku akan mengurusnya"
Mendengar ucapan itu membuat Zivan kesal bagaimana tidak perusahaan itu telah diserahkan kepimpinannya oleh Valdo sendiri tetapi Valdo bertindak seenaknya sendiri. Ini menurut pemikiran Zivan. Padahal Valdo hanya membantu saja meski perusahaan itu sudah dia serahkan untuk Zivan Valdo tetap tidak akan lepas tangan begitu saja.
Zivan yang iri dengan semua yang Valdo miliki membuatnya apapun yang dilakukan Valdo selalu salah dimatanya.
__ADS_1
Valdo beranjak berdiri memegang kedua bahu Zivan.
"kau tidak perlu khawatir aku akan selalu membantumu. Kau satu-satunya saudaraku yang kupunya. Mari kita bangun perusahaan ini menjadi lebih besar lagi. Dengan kedua tangan kita. Ah tidak maksudku dengan kepintaran yang kau miliki" ucap Valdo menatap intens Zivan.
Kau selalu mengatakan pujian untukku tapi kau tidak pernah membiarkanku bertindak sendiri. Batin Zivan seraya tersenyum tipis.
Valdo bukannya tidak mnegijinkan Zivan untuk bertindak sendiri tapi dia tahu batas kemampuan Zivan saat ini.
"setelah urusan ini selesai aku akan memberikanmu pelajaran baru. Jadi tunggu lah"
"kapan kau akan memakai pakaian yang sama denganku? Padahal aku sudah menyiapkannya dalam waktu lama" tanya Valdo yang sejak awal bertemu Zivan melihat Zivan tidak memakai pakaian yang dia berikan.
Pakaian yang hanya dipakai oleh pemilik perusahaan.
Di kota itu setiap perusahaan memiliki pakaian tertentu untuk setiap pemiliknya.
"nanti jika aku sudah memiliki mental dan kemampuan yang sama denganmu" jawab Zivan melepas kedua tangan Valdo yang sedari tadi memegang bahunya.
"ayo lah kau memiliki kelebihan yang aku tidak miliki. Dengan kemampuanmu itu kau bisa memajukan perusahaan ini. Lebih percaya diri lagi"
Zivan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Setiap pujian yang dikatakan Valdo untuknya di dalam hati Zivan menolaknya dengan keras seolah pujian itu hanya omong kosong.
__ADS_1