Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
5


__ADS_3

Sebelumnya...


Valdo berumur empat tahun pergi kesebuah pesta bersama ibunya, Huria. Siapa yang tidak mengenal mereka semua tamu tertuju pada Huria dan Valdo. Huria seorang model dan arsitektur terkenal hingga luar negeri. Valdo meski masih kecil dia sangat pandai dan cerdas terutama bidang yang dia sangat dia sukai yaitu olahraga.


Jam 00.47 mereka dalam perjalanan menuju pulang. Tidak ada yang mengantar atau sopir pribadi karena Huria ingin menikmati waktu bersama putra sulungnya. Namun naas tanpa ada yang menyadari mobil yang mereka tumpangi tersimpan sebuah bom. Naluri ibu yang sangat kuat didetik terakhir kematiannya Huria melempar Valdo keluar untung saja tubuh Valdo yang kecil terjatuh tepat ditumpukkan sampah.


..._____________...


Valdo yang sedang diuji tes fisik dia tumbang tubuhnya banyak sekali memar. Rowan yang menyaksikannya terlihat sangat cemas dan khawatir.


Kenapa anda berbuat sejauh ini, tuan. Bagaimana jika anda mati sebelum menemukan apa yang anda inginkan. Seharusnya anda bisa memukul tepat dititik vital ya meski hanya sekali. Batin Rowan yang pandangan tertuju pada Valdo yang tergeletak diatas ring.


"jangan ada yang membantunya. Hei, sampai kapan kau akan tertidur di sini. Ayolah bangunlah" ucap Reece seraya menendang-nendang kecil wajah Valdo dengan kaki besarnya.

__ADS_1


Valdo terlihat berpura-pura kalah di depan Reece karena tahu jika Reece amat tidak menyukai jika ada seseorang yang lebih kuat darinya. Jika Valdo memperlihatkan dirinya sebenarnya Reece akan curiga dan rencana Valdo akan berakhir.


Ya, Valdo, Rowan dan Klia memang merencanakan ini untuk mengetahui siapa yang telah membunuh ibunya dan alasan apa sehingga mereka melakukan itu semua. Merenggut nyawa ibunya hingga tubuhnya hancur berkeping-keping masih teringat jelas diingatan Valdo. Maka sering kali Valdo berteriak histeris tiba-tiba jika terlalu banyak beban pikiran dan mengingat kenangan pahit bersama ibunya.


..._______________...


Sebelumnya....


Valdo yang masih berumur empat tahun belum mengerti apapun tentang dunia orang dewasa. Saat upacara pemakaman ibunya terlihat beberapa sanak saudara dengan raut wajah yang terlihat sangat senang bahkan ada yang tertawa kecil dibalik kesedihan yang mereka tampilkan. Meski Valdo tidak mengerti tapi dia paham siapa orang yang yang tulus dan tidak padanya. Beberapa orang sanak saudaranya menatap rendah pada Valdo yang duduk dengan beberapa mainannya. Valdo terlihat ketakutan mendapatkan tatapan seperti itu dari orang dewasa disekelilingnya apalagi mereka terhubung ikatan darah.


"mainanmu bagus sekali. Agar terlihat lebih bagus apa aku boleh merapikannya?" tanya anak perempuan itu dengan senyuman lebar.


Valdo hanya terdiam.

__ADS_1


"jika kau sudah bosan dengan mainanmu ini kau jangan sampai membuangnya. Berikan saja padaku" ucap kembali anak perempuan itu seraya merapikan mainan Valdo berbaris lurus dan rapi.


"kau harusnya membeli mainan untuk anak perempuan. Belikan saja oleh kedua orang tuamu" ucap ketus Valdo.


Anak perempuan itu terlihat sedih menundukkan kepalanya.


Valdo merasa bersalah dia pun angkat bicara kembali.


"memangnya kau bisa menggunakannya? ini kan mainan khusus anak laki-laki" ucap Valdo yang salah tingkah.


"aku bisa menggunakannya. Mainan ini kan sering tampil diiklan-iklan tv. Aku sering melihatnya. Stasiun tv pasti menayangkan iklan mainan di jam enam pagi, sembilan pagi, dua belas siang, tiga sore, lima sore, enam sore"


Mendengar ucapan anak perempuan itu Valdo jadi tahu jika anak itu menyukai mainan yang dia miliki.

__ADS_1


"ambil lah" Valdo memberikan mainan yang sama hanya berbeda diwarna saja. Yang dia berikan untuk anak perempuan itu warna merah dan untuk dirinya warna hitam.


__ADS_2