Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
2


__ADS_3

Di dalam kelas...


Karena diadakan ujian untuk pelajaran Sejarah duduk setiap murid diacak sesuai nomor yang mereka ambil dari sebuah toples di atas meja guru. Kebetulan Aileen dan Valdo duduk bersebalahan.


Aileen merasa canggung namun Valdo, biasa saja bersikap seperti bawaannya yang santai dia menyiapkan alat tulis lengkap.


Aileen menghela nafas kasar mengambil wadah pensil dan saat membukanya dia teringat jika penanya tertinggal diatas meja belajar.


"ahh... aku lupa memasukkannya lagi" gumam Aileen terdengar oleh Valdo.


Aileen menatap lesu buku dan pensil yang ada diatas mejanya Valdo pun menyadarinya jika Aileen tidak membawa pena.


"nih pakai punyaku" ucap Valdo membuat Aileen terperanjat.


"tidak perlu" tolak Aileen terbata.


"jika kau tidak menerimanya bagaimana kau bisa mengerjakan soal ujian?" ucap Valdo sedikit kesal karena setiap dia menawarkan bantuan Aileen selalu menolaknya tanpa menatap wajahnya.


"karena sebuah pena kau akan menurun dari peringkatmu saat ini" ucap kembali Valdo menyindir. Ya, Valdo tahu betul jika Aileen berkeinginan besar untuk mempertahankan peringkatnya yang sudah diraihnya.


Deugh


Ucapan Valdo mengingatkan apa keinginan terbesar Aileen.


"baiklah... setelah selesai aku akan mengembalikannya" ucap Aileen menunduk meraih pena dari tangan Valdo. Tanpa disadarinya Valdo tersenyum tipis padanya.


Beberapa teman sekelas menyadari apa yang sedang mereka lakukan dan senyuman tipis Valdo membuat mereka heran. Sejauh ini Valdo belum pernah tersenyum apalagi terhadap murid perempuan yang seangkatan dengannya.


.


.


.


Aileen sangat serius mengerjakan solat ujian tanpa disadari murid yang duduk didepannya menyontek jawabannya dan itu disadari Valdo dengan sigap memberikan tatapan tajam. Dan murid tersebut menghentikan aksinya.


Aileen selesai mengerjakannya melangkah menuju meja guru untuk menyimpan lembar jawaban. Saat kembali kebangku kaki seorang murid menghadang jalannya lalu dia akan terjatuh dengan sigap Valdo menangkap tubuhnya. Tanpa sengaja tangan Valdo memegang bagian tubuh Aileen yakni pa**dara Aileen. Spontan Aileen menjerit. Karena kaget Valdo melepaskan tangannya hingga tubuh Aileen terjatuh keatas permukaan lantai.


Bruuughh


Satu kelas merasakan guncangan. Murid lain menertawakannya.

__ADS_1


"😥😥😥" Aileen


"kenapa selalu saja aku jadi bahan hiburan mereka" batin Aileen.


"diet, makanya diet. Valdo tidak mungkin bisa menahan berat beban tubuhmu" celetuk seorang murid wanita.


"Valdo, bagaimana kondisi tanganmu? apa baik-baik saja?" tanya seorang murid laki-laki.


Aileen beranjak. Tatapan Valdo dan dirinya bertemu. Aileen segera menundukkan kepalanya.


"hentikan!!!" ucap Valdo dengan nada cukup tinggi beranjak berdiri dari bangku.


Guru sudah keluar kelas beberapa saat lalu.


"kalian memang tidak berguna" ucap Valdo menatap tajam terutama kesalah satu murid yang tadi menghadang jalan Aileen.


Valdo melangkahkan kaki berdiri dihadapan murid itu.


"seharusnya kalian tahu setelah ini apa yang harus dilakukan" ucapan yang ditujukan untuk murid itu dengan nada penuh tekanan.


Valdo keluar kelas menuju toilet.


Terlihat jelas wajahnya yang kesal dan marah.


Saat sampai toilet terlihat pembullian yang dilakukan murid lainnya. Seorang murid menumpahkan air dalam ember bekas pel-an ketubuh murid yang berjongkok didepan mereka, seorang lagi menumpahkan karbol dan terdengar tertawa puas.


" aku sudah cukup baik hati. Air bekas pel-an pasti tercium bau dan kotor tapi tenang saja aku memberikan ini..." ucap seorang memperlihatkan botol karbol pada murid yang berjongkok dihadapannya.


"dengan karbol ini setidaknya mengurangi bau ditubuhmu ini"


"aku sudah katakan terakhir kali jika kau harus membawanya dalam jumlah banyak. Kenapa kau tidak mendengarkannya? apa kau tuli? hah" ucapnya dengan memegang satu telinga murid yang dalam posisi berjongkok.


Murid yang memegang telinga itu mengadahkan tangannya dan sebuah gunting berada ditelapak tangannya.


"jika memang benar kau tuli. Jadi telingamu ini tidak ada gunanya lagi mulai saat ini"


Saat murid itu akan menggunting telinga murid yang sedang berjongkok itu. Sebuah tendangan mengarah tepat ditangan yang sedang memegang gunting.


Braaaaghh


Gunting terlempar. Tangan murid itu retak.

__ADS_1


Kraakk


Tendangan Valdo cukup keras.


"ah... padahal aku hanya sedang melakukan latihan saja seharusnya tendanganku tidak begitu kuat. Tapi..."


Valdo mendekatkan wajah pada murid yang memegang gunting tadi.


"tapi entah kenapa kakiku ini mengeluarkan tenaga cukup banyak saat melihat tangan kotormu ini"


"simpan kedua tanganmu dilantai" ucap Valdo dengan nada penuh tekanan.


Sekumpulan murid tadi terlihat sangat ketakutan. Memundurkan badannya dari Valdo. Tapi tidak dengan murid yang memegang gunting itu dia menatap tajam Valdo.


"ternyata yang tuli itu adalah kau" Valdo menatap balas murid itu dengan nyalang. Merogoh gunting lipat disaku seragamnya.


"kalau begitu aku akan menggunting telingamu dengan sukarela"


Valdo menahan tubuh murid itu ketembok hingga tidak bisa bergerak sedikit pun. Dan menggoreskan gunting lipat miliknya ketelinga murid itu. Darah segar mengalir.


Valdo tersenyum sinis.


"apa ini kurang?"


Murid itu terlihat sangat ketakutan tubuhnya gemetar. Dia bersama temannya yang lain dibiarkan pergi begitu saja.


Di dalam toilet hanya ada Valdo dan si korban bulli.


Si korban bulli hanya menunduk dan berjalan melewati Valdo.


"te... terima kasih" ucapnya.


"lemah. Kau... apa kau merasa senang diperlakukan seperti tadi? Seharusnya kau bisa melawannya bukan hanya diam saja. Apa kau dilahirkan untuk menjadi pengecut? hah"


"seharusnya kau lawan jika perlu..." ucapan Valdo terhenti kala melihat murid korban bulli itu mendongakkan wajahnya.


"melawan? melakukan apa yang harus dilakukan untuk membela diri. Memangnya untuk kami yang sering diperlakukan layaknya binatang, bahan lelucon memiliki hak untuk melawan? hah"


"jangankan melawan. Bicara satu katapun kita akan terlihat dan terdengar salah dan akan menjadi tetal salah sampai kapanpun. Apa kau mengerti posisi sepertiku ini? posisi yang tidak diinginkan sama sekali " ucap murid korban bulli itu dengan mata berkaca-kaca dan melangkah pergi.


Valdo mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


" padahal tadi dia diam saja. Kenapa saat bersamaku jadi banyak bicara ".


__ADS_2