Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta

Tuan... Cinta Ya, Bilang Cinta
13


__ADS_3

Valdo menatap fokus layar monitor di hadapannya tangan yang lincah mengetikan sesuatu di atas keyboard kacamata bertengger di hidung mancungnya.


"ini akan memakan waktu cukup lama" gumam Valdo sesekali menyeruput kopi yang telah dibuat Zivan. Dia tersenyum.


"aku tidak akan membiarkanmu kabur begitu saja. Secepatnya aku akan segera mengetahui siapa orang yang berani berbuat seperti ini. Setelahnya, aku akan memberikan hal yang sama memberikan kejutan yang tidak terduga"


Beberapa saat kemudian...


"ternyata kau dibalik semua ini. Menarik sekali. Kau tunggu kejutan dariku" ucap Valdo dengan senyum smirk. Meminum kembali kopi.


Zivan melakukan apa yang diperintahkan oleh Valdo dia membeli makanan untuk semua karyawan dan mengijikan mereka untuk pulang. Ya, Valdo terbilang sebagai seorang pemimpin yang sudah mensejahterakan karyawannya. Dia menyiapkan transportasi khusus untuk mengantar jemput seluruh karyawan bahkan jika ada karyawan yang ingin menyicil tempat tinggal maka perusahaan akan memprosesnya dengan mudah tentu saja perusahaan Valdo bekerja sama dengan baik dengan salah satu bank terbesar di kota itu.


Valdo yang telah menyelesaikan pekerjaannya dia keluar ruangan dan menatap dari atas apa yang sedang dilakukan oleh karyawannya. Terlihat Zivan tersenyum ramah pada mereka dan Valdo pun ikut tersenyum.


"ibu" lirih Valdo. Senyuman Zivan sama persis dengan Huria.


Dari sekian jumlah karyawan Valdo bisa mengetahui karyawan yang sedang memiliki masalah berat dan tidak hanya melihat dari mimik wajahnya.


Valdo menyilangkan kedua tangannya di dada menatap intens beberapa karyawan.

__ADS_1


Notifikasi pesan masuk dan Valdo segera merogoh ponsel miliknya yang berada di dalam saku jasnya. Terlihat Aileen makan bersama Pealga dan mereka pulang bersama.


Valdo meremas kuat ponsel miliknya saat melihat Pealga mengantarkan Aileen sampai depan kosan.


Yang bisa mempermainkan emosi seorang Valdo hanya lah Aileen.


..._____________...


Di rumah seorang bangsawan bernama Eldera Ghamiz ayah Pealga. Rumah yang sangat mewah. Eldera sedang menjamu seseorang yang menjadi suruhannya beberapa saat lalu. Dia adalah Reece. Untuk bekerja sama dengan Reece tentu saja Eldera harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak mengingat Reece seorang ketua organisasi terbesar di kota itu.


"sepertinya kau memiliki banyak waktu hingga berkenan mengunjungi tempat kumuh ini" ucap Eldera menyindir. Puluhan kali Eldera meminta Reece untuk menemuinya tapi Reece tidak pernah mengindahkan dan baru kali ini dia melakukannya.


"untuk seukuran anak muda kau memang lihai memutar balikkan arah pembicaraan. Ck" ucap Eldera seraya memberikan isyarat pada salah satu pelayan untuk menyuguhkan minuman dan makanan ringan.


"itu sudah jelas karena itu sebagian dari pekerjaanku. Harusnya anda sudah memahaminya tuan" ucap Reece yang tidak ingin Eldera menguasai keadaan karena statusnya sebagai bangsawan.


Harus diakui Reece yang tadinya pengusaha sama dengan Valdo tapi dia meninggalkan dunia bisnisnya karena merasa bosan dengan dunia bisnis dan juga orang-orang yang harus dihadapinya terlebih lagi dia sudah muak berurusan dengan karyawannya yang selalu melakukan korupsi. Hampir semua perusahaan yang dia dipegang memiliki catatan karyawan yang melakukan korupsi. Padahal dia sudah menghukum dengan sesuai tapi tetap saja membuat mereka tidak jera. Maka dari itu Reece lebih memilih mendirikan organisasi yang dia beri nama Blood Holly atau lebih dikenal gengster. Dengan statusnya sekarang dia tidak akan merasa iba atau memikirkan berulang kali untuk orang yang melakukan kesalahan apalagi hingga merugikan dirinya. Reece akan menghukumnya tanpa pandang buluh. Dari awal didirikan organisasi Blood Holly Reece sudah melenyapkan dua puluh lima orang yang telah merugikan dirinya termasuk orang yang telah melakukan korupsi di perusahaannya dulu.


"bagaimana dengan anak itu? apa kau sudah menemukannya? jika memang sudah bawa dia kemari" tanya Eldera tanpa memberi celah Reece untuk berpikir.

__ADS_1


Reece tersenyum tipis.


"aku belum bisa menemukannya. Dia sangat pintar bersembunyi padahal aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku. Mereka melakukannya dua puluh empat jam penuh. Ah sepertinya anakmu memiliki keahlian yang diturunkan darimu" ucap Reece seolah mengejek Eldera.


Eldera menaikkan satu alisnya.


"ya bukannya sudah jelas apa yang kukatakan barusan. Dia pintar bersembunyi sama halnya denganmu menyembunyikan kebenaran selama bertahun-tahun. Bukankah itu hal menakjubkan" ucap Reece dia sengaja mengatakan hal itu.


Dua orang pelayan menghampiri mereka menyuguhkan minuman dan makanan ringan.


"kau jangan mengajakku berdebat dipertemuan pertama kali kita ini" ucap Eldera dengan wajah sedikit cemas mendengar ucapan Reece barusan.


...____________...


Di kosan Aileen membersihkan dirinya terlihat luka memear disekitar tubuhnya terutama bagian depan tubuhnya. Meski tubuh besar dan gemuk tetap saja wanita itu makhluk lemah jika dibandingkan dengan lelaki.


Setelah selesai mengganti pakaian dia teringat dompet dan belanjaanya terjatuh di jalan. Di dalam dompet itu ada sejumah uang ya memang tidak banyak tapi cukup untuk biaya hidupnya untuk tiga minggu ke depan.


Malam itu Aileen ataupun Valdo tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aileen yang memikirkan dompet miliknya sementara Valdo yang kesal dan cemburu melihat Pealga mengatakan Aileen pulang hingga depan kosan.

__ADS_1


__ADS_2