
Mall terbesar di Kota J terlihat sangat ramai pengunjung, ntah karna hari ini akhir pekan atau karna mall yang terkenal.
Terlihat 2 gadis muda sedang berjalan dengan wajah yang begitu bahagia dengan belanjaan yang penuh di kedua tangan mereka.
"Serasa jadi anak seorang sultan saja" Ucap gadis berambut hitam sebahu.
"Hari ini kita memang anak seorang sultan bukan" Ucap gadis berambut panjang hitam.
Setelah ucapan gadis berambut panjang itu mereka tertawa puas. Saat mereka sedang asik tertawa gadis berambut panjang melihat sesuatu yang menarik, dengan sisa tawanya ia mengajak temannya kesana.
Belanjaan sudah memenuhi tangan kedua gadis itu yang membuat mereka memutuskan untuk pulang.
"Mari pulang mari lah pulang...." Senandung mereka berdua setelah keluar dari salah satu toko di mall. Gadis berambut panjang itu berjalan mendahului temannya.
"Yona tunggu!" Ucap gadis berambut sebahu kepada temannya yang berjalan berapa langkah di depan.
"Cepat lh kau seperti siput Jema" Ledeknya menghadap temannya yang disebutnya Jema dengan langkah mundur.
Gadis berambut panjang dan hitam, namanya JESI VAYONA GINTING, YONA panggilan dari orang terdekat. Mata coklat, hidung mancung, kulit putih dan tinggi 160 cm.
Gadis berambut hitam sebahu, namanya JEMALEMNA GINTING, JEMA panggilannya. Mata coklat, hidung mancung, kulit putih dan tinggi 155 cm.
π»SEDIKIT INFO
Mereka bukan saudara kandung nama belakang mereka adalah Marga dari Ayah mereka. Marga ini dari suku karo yang mendiami daerah sumut. Suku karo memiliki 5 marga yaitu:
-Karo Karo
-Ginting
-Tarigan
-Sembiring
-Perangin angin
Itu hanya pokoknya masih banyak anak dari marga itu. Maksudnya anak seperti marga Ginting ada Ginting munthe, suka, manik dll. Sama halnya dengan 4 marga yang lain.π»
Ok kita kembali ke cerita
"Yona jangan jalan seperti itu nanti kau menabrak orang." Peringat Jema
"Jema sayang jangan khawatir" Ucap Yona tetap memandang Jema.
"Lihatlah mereka semua melihat ke arah kita" Ucap yona yang melihat orang disana melihat mereka dengan sinis. Sungguh kampungan itulah yang dapat Jema lihat dari tatapan mereka.
"Memang ada peraturan jangan jalan mundur? Lagian aku rasanya sangat bahagia hari ini biarlah seperti ini sebelum kakak ku tersayang pulang dari Tanah Kelahiran kita" Ucap Yona semakin menjauh. Ntah karna bahagianya atau apa ia terus menatap sahabatnya itu dengan langkah mundur sambil menatap tempat yang akan mereka tinggalkan.
"Yona perbaikilah jalanmu itu berbahaya" Peringat jema
"Lihatlah jema tempat yang akan kita tinggalkan ini sebelum kita di kurung bagai hewan lagi" Ucap Yona terjeda menatap keseluruh mall
"Sudah lh Yona. Kita terlihat kampungan sekali. Jika ada peria tampan bagaimana?" Ucap Jema
" Dasar cewek pemangsa. Cepat lah kau seperti siput" Ucap Yona karna Jema selalu memikirkan citranya didepan peria, lalu mundur semakin menjauh.
__ADS_1
"Apa? awas saja kw" Ucap Jema mulai berlari kecil mengejar Yona.
Melihat jema mengejarnya Yona ingin melarikan diri, ia hendak berbalik menghadap depan dan lari naasnya...
bruuuk...
Yona menabrak seseorang yang baru keluar dari sebuah toko di mall itu. Orang itu terjatuh di lantai yang membuat beberapa orang di sekitar menatap ke arah mereka.
Sedangkan yona hampir terjatuh namun dengan sigab ia berdiri tegab namun karna kaget yona menjatuhkan belanjaan di tangannya. Ia menatap orang yang ia tabrak itu.
Peria muda dengan setelan jas formal, Terlihat berwibawa dan gagah.
"Pangeran" batinnya.
"Hehhh..." hanya itu yang terdengar dari peria itu. Ia menatap gadis di depannya dengan tatapan kesal.
"Maaf Tuan. Mari saya bantu"Yona tersadar dari lamunannya dan mengulurkan tangannya.
Peria itu menerima uluran tangan Yona.
"Berat sekali seperti kerbo saja" Batin Yona.
Peria itu memang sengaja membiarkan Yona menariknya tanpa bergerak dan mulai terlihat senyum jahat di wajahnya tanpa di ketahui Yona.
"Aww..." Ucap Yona, peria itu menariknya hingga terjatuh di hadapannya lalu berdiri.
"Maaf sepertinya tubuh anda terlalu kecil" Kata peria itu menatap Yona sinis.
"Hahaha, lucu sekali. Tubuh kecil ini ternyata bisa membuat anda yang gagah terjatuh. Apa jangan-jangan anda sengaja?" Yona memincingkan matanya, menengadah, menatap peria tinggi bermata hitam, di depannya.
"Bukan aku yang kecil tapi kau yang seperti kerbo. Modus" Kata Yona kesal sambil dibantu berdiri oleh Jema. Sejak awal jema telah berhenti tidak jauh dari mereka menyaksikan kejadian itu, melihat yona terjatuh ia langsung menghampiri sahabatnya.
"Otak anda yang tidak dipakai" Peria bermata hitam itu tidak terima dengan perkataan Yona. Namun, terlihat santai tanpa peduli orang yang melihat mereka.
"Jangan cari alasan, palingan anda salah satu buaya." Ia menatap sinis ke arah peria itu, Peria itu yerlihat sudah mulai kesal
"Saya sudah minta maaf bukan? Lagian saya tidak sengaja." Lanjut Yona
"Sudahlah jangan seperti orang teraniaya. lagian dimana otak Anda? Sehingga jalan mundur? Memang mall ini milik anda?" Ucap peria itu panjang lebar. Yona hanya menatapnya kesal, sedangkan Jema memumuti belanjaan Yona yang berserak.
"Kalau saya tidak punya otak, lantas bagai mana dengan anda? memang saya salah karena jalan mundur. Tapi, bukankah anda jalan kedepan? Apa bedanya saya dan anda?" senyum kemenangan mengakhiri kalimat Yona yang ia ucapkan panjang lebar.
"Ka....."
"Ayo Jema kita pergi" Potong Yona setelah mengambil belanjaannya di tangan Jema. Ia melangkah pergi begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun. Benci dan Jijik. Kapan dan bagaimana? tapi itulah yang terjadi sekarang. Ia merasa peria itu, peria hidung belang yang memanfaatkan keadaan saat ia jalan mundur. Jelas sekali disini dia yang salah, saat ia hanya berpikir peria itu modus. Padahal kenyataan peria itu baru keluar dari toko.
Peria bermata hitam itu menatap kepergiannya, tangannya terkepal menahan marah. Kenapa ada orang yang tidak mengenalnya dikota ini? Apa gadis itu ketinggalan jaman? Semua orang yang ada di sana bahkan tidak ada yang berani mendekat tadi, bahkan satpam saja hanya memandang, takut terseret dalam masalah.
"Saya minta maaf atas nama teman saya Tuan, permisi" Suara itu membuyarkan lamunannya, melirik kesumber suara. Jema melangkah menyusul Yona karena tidak ada sahutan dari peria itu. Sampai langkahnya terhenti lagi.
"Tunggu"
Jema berhenti dan menatap Peria itu.
"Maaf ada apa Tuan?" Tanya Jema merasa takut karna wajah peria itu begitu dingin dan kesal dihiasi mata tajamnya.
__ADS_1
"Siapa nama gadis itu?" Tannyanya balik
"Saya tidak akan melakukan apa apa" Ucapnya lagi melihat Jema nggan memberi tau.
Setelah diyakinkan oleh peria itu bahwa ia hanya ingin tau Jema mengatakannya juga.
π»π»π»π»
"Jesi Vayona Ginting" Kata Peria yang sedang duduk di kursi kebesarannya di sebuah ruangan kantor. Menutup mata dan menyandarkan kepala pada sandaran kursi.
Ditemani seorang peria yang berdiri di sebelahnya, tak kalah tampan tapi bedanya peria itu terlihat lebih dingin.
"Gadis ingusan, akan aku buat mata itu tidak berani menatapku, wajah angkuh itu akan segera tunduk padaku"Peri bermata hitam, dengan pakaian memperbaiki posisi duduknya dan menulis sesuatu di sebuah kertas. Sedangkan peri yang di sebelahnya hanya berdiri tanpa melakukan apapun.
Pergi meninggalkan dengan angkuh dan berbicara tanpa hormat sedikit pun. Bahkan gadis itu pergi meninggalkannya dengan keren. Memikirkan semua itu membuat kepalanya pusing saja. Tapi ia harus mengingat dengan jelas wajah gadis itu yang membuat semua berputar kembali di kepalanya.
"Cari informasi mengenai gadis ini" Perintahnya, setelah meletakkan pena lalu menyerahkan selembar kertas pada sekertarisnya.
"Baik Tuan Muda" peria muda yang sama tampannya dengannya itu, menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan itu. Ia melirik sebentar ke kertas itu, ingin ia bertanya namun melihat wajah orang yang di panggil tuan itu tidak baik di urungkannya niatnya.
"Sudah kamu urus masalah di mall?" tannyanya lagi, peria bermata abu abu itu kembali berbalik dan mendekat.
"Semua sudah beres tuan"
"Bawa rekamannya padaku, ambil saja foto yang di rekaman untuk lebih mudah" Perintahnya lalu kembali bersandar pada kursi dan memandang langit langit ruangan.
"Baik tuan. Saya permisi dulu"peria itu melangkah keluar ruangannya.
Bagaiman ia bisa sebodoh itu? harus mengingat lagi semua demi mendapat gadis itu, bahkan meminta siapa nama gadis itu. Padahal ia bisa mengambil gambaran gadis itu di cctv yang diambilnya dari mall.
"Sial. Cuma karena gadis ingusan aku jadi sebodoh ini?" gerutunya, tapi sungguh dari perasaannya yang paling dalam ia sangat tertanntang. Baru pertama kali dalam hidup ada gadis yang berani menegakkan kepala dan menatap matanya dengan tatapan permusuhan.
Sekertaris muda sekalian asisten peribadi itu melangkah ke ruangannya. Setelah ia menjatuhkan bokongnya di kursi kebesaranhya ia membaca ulang kertas itu.
"Nama Jesi Vayona" Gumamnya tanpa ekspresi. Setelah itu ia mengirim foto kertas itu ke orang suruhannya lalu memerintah mengambil gambar gadis yang berseteru dengan tuannya di mall.
π»π»π»π»
Sedari pulang dari mall sampai di rumah terlihat Yona masih mengeluarkan sumpah serapahnya pada peria itu.
"Dasar buaya, kerbo, peria hidung belang. Menjengkelkan sekali. Bukan kah aku sudah minta maaf? Kenapa ia mempermalukan aku di depan banyak orang?" Yona melampiaskan kekesalanny dengan ngomel tidak jelas.
"Yona sudah lah sejak 15 menit kau mondar mandir bagai seterikaan dan selalu mengumpat peria itu." Ucap Jema berusaha menyadarkan sahabatnya itu
"Hah Ingin sekali ku hajar dia" Katanya masih terlihat sangat kesal
"Berhenti lah Yona dia tidak ada di sini, yang ada cuma sahabatmu yang cantik ini, jadi kau jangan mengumpat terus. Hanya mengotori kupingku saja" Ucap Jema meminum jusnya.
"Hehhhh baiklah aku akan diam. Kalau sampai aku bertemu dengannya lagi akan ku putuskan lehernya itu" Katanya lalu, Melangkah pergi ke kamarnya
"Aku sering nonton kisah sepertimu. Awas saja kau akan tergila gila pada orang itu"Ledek Jema, sedikit berteriak karna Yona sudah menjauh
"Aku tidak akn bertemu dia lagi" Ucap Yona.
Mulutnya memang berkata begitu tapi tidak dengan hati kecilnya berkata itu bukan pertemun pertama dan terakhir.
__ADS_1
"Hahahhah aku tidak yakin" Ucap Jema yang samar didengar Yona. Jema merasa mereka akan bertemu lagi.