
🌻Hai Sobat.... Nungguin ya😊.
🌻😢Kirain ada yang nunggu. Ternyata tidakðŸ˜
🌻Walaupun tidak ada gak papa lah, jika ada mohon maaf. Lagi banyak kerjaan, mohon di mengerti ya. Menurut kalian karya ini kurang menarik atau apa gitu? tolong kasih sarannya ya kakak kakak yang baik🌻🌻🌻
Pagi ini Yona sedang menyiram tanaman di halaman depan. Halaman yang di hiasi berbagai macam bunga dengan jalan besar ditengah, pohon hias di sepanjang jalan menuju rumah berlantai dua itu dan bunga matahari mekar disetiap sudutnya bagai penggias untuk pagar yang tinggi.
Gadis muda itu melamun dan bersenandung, menyiram tanaman asal dengan selang yang airnya bagai hujan deras. Ia sedang memikirkan seorang peria bermata abu abu yang ia temui kemarin " Mata itu" ucapnya di sela senandungnya terlihat ia berbinar mengatakannya. Tapi, ia teringat akan sebuah kejadian yang membuatnya merasa bersalah.
"Yona, aku akan menunggu" Kata seorang peria mengagetkan dari arah belakangnya. Yona saat ini berada di sebuah cafe.
"Aga?" Katanya menoleh ke arah sumber suara
"Kemana pun kamu ingat lah aku, agar kamu ingat aku menunggu di sini" Kata peria itu lalu duduk di sebelahnya, memandang wajah Yona, dengan senyum lebar yang menunjukkan lesung pipi bawah bibirnya, kecil namun sangat manis.
"Permisi" Sapa seseorang dari belakangnya
"Nona" Kata orang itu lagi. Namun, Yona yang masih asik dengan pikirannya tidak mendengar.
"Nona" Panggilnya lagi sambil memegang pundak Yona, karena sebal dan merasa di abaikan.
Byur.....
Orang itu basah, kini Yona telah berbalik dan selang yang ia gunakan tepat berada di depan wajah orang itu.
"Maaf" Katanya, sedangkan air itu masih menyiram peria itu, karena air yang deras menyebabkan seorang yang di belakang juga ikut basah.
Jema baru selesai masak makanan siang ingin menemui Tona melihat itu, dengan cepat ia mematikan air.
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
Sekarang mereka berada di ruang tamu, duduk berhadapan di sofa. Yona yang duduk di hadapan dua orang itu hanya menatap dengan wajah kesal, berubah menjadi penasaran, dan selalu berubah ubah. Hening. Itulah yang sekarang terjadi, kedua orang itu menatapnya tajam.
Yona mengenali salah seorang peria itu, peria sialan yang ia benci karna kejadian beberapa waktu lalu. Sedangkan yang satunya lagi tidak asing baginya, matanya, postur tubuhnya, dan suaranya. Siapa? Tidak asing. Tapi, dimana aku pernah melihatnya? Ia tidak menemukan jawaban atas semua pertanyaannya. Itulah penyebab eksperesi wajahnya yang berubah ubah. Ya kedua peria itu ia lah Haikel dan sekertarisnya Delvin.
"Silahkan" Kata Jema memecah keheningan. Memberikan 2 handuk kecil lalu meletakkan cangkir berisi teh jahe, setelah itu ia duduk di sebelah Yona. Dua peria itu mengelap wajah dan rambutnya, melepas jas yang mereka pakai.
"Asal bertemu kamu aku selalu sial"Haikel buka suara setelah urusan dengan pakaian basahnya selesai.
"Baru dua kali, apaan selalu?Udah kayak ratusan kali aja" Seot Yona, wajah kesalnya menarap Haikel. Jema yang mendengar ucapan Yona jadi jengkel sendiri,bukan karena peria di depannya. Tapi, karena ia takut kedua peria di depannya adalah teman Andre.
"Yon" Jema mencubit tangan Yona. Awalnya Uona ingin perotes, saat melihat wajah Jema ia jadi ikut paham apa maksud temannya itu.
"Tuan yang baik hati saya minta Maaf" Pintanya dengan wajah yang di buat semanis mungkin. Ia berusaha sekuat tenaga menahan kekesalannya. Saat menatap ke Delvin kekesalan itu dapat ia lupakan, wajah dingin tanpa senyum. Apa yang membuat hati dan pikirannya tenang dari wajah itu? Terserah, itu memang yang terjadi.
"Andre dimana?" Tanya Haikel menghiraukan ucapan Yona. Hanpir lupa apa tujuannya datang.
"Masih di bengkel" Kata Jema.
Delvin langsung menatap tidak suka. Bagai mana ada gadis seperti mereka? Tanpa panggilan tuan dan apapun? apa mereka sadar sedang bicara dengan siapa?
"Seharusnya anda lebih sopan kepada Tuan Muda, Nona" Peringat Delvin pada akhirnya.
"Apa dia anak peresiden? Atau jangan jangan jelmaan raja iblis?" Tanya Yona mengejek dan suara keras.
"Jaga bicaramu Yona" Suara dari pintu yang mengagetkan semua.
"Kakak udah pulang?" Tanya Yona langsung berdiri dan menghampiri Andre begitu juga dengan Jema. Ya sura itu milik Andre, ia baru pulang dan mendengar ucapan terakhir adiknya itu.
"Pergilah ke kamar kalian" Perintah Andre setelah mereka selesai menyalimnya.
Terlihat dua gadis itu enggan namun karena lirikan mata Andre mereka akhirnya pasrah dan pergi.
__ADS_1
"Aku bisa datang kalau kalian mengabari, kenapa repot repot datang?" Kata Andre setelah duduk di tempat Yona tadi.
"Adikmu?" Haikel balik nanya, lalu mengambil teh di depannya lalu meminumnya.
"Jawab aku kenapa malah nanya?" Elak Andre. Ya dia tau apa maksud peria di depannya ini.
"Hahahahah" Tertawa sambil kembali meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh ke atas meja." Aku mengerti sekarang" Katanya dengan wajah penuh arti.
Kebisuan Andre adalah jawaban dari semua pertannyaan, pertanyaan mengenai gadis yang di carinya dan pertanyaan untuk Andre barusan.
Andre diam tanpa menjawab, menimbang semua. Apa yang akan terjadi selanjutnya?Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
"Adik yang selalu kamu sembunyikan"
"Haikel, jangan."Kata Andre, ia hapal betul sifat peria di depannya ini. Siapapun tanpa terkecuali jika membuatnya tidak nyaman maka harus di beri pelajaran.
"Vin, apa kamu ingat gadis bernama Jesi Vayona yang ku kuminta, kamu cari?"
"Ia Tuan"
"Bawa dia." Kata Haikel dengan senyun lebar yang susah di artikan.
"Baik Tuan" Jawab Delvin singkat. Jadi ini alasan mengapa ia sulit menemukan gadis itu, orang yang paling handal dalam hal itu ternyata yang menyembunyikan.
"Haikel, jangan begini! kita bisa bicara baik-baik. Tolonglah mengerti" Pinta Andre, sekarang wajahnya sudah pias. Apalagi saat Delvin bangun dari duduknya, ia berdiri secepat kilat menuju peria itu dan menahannya.
"Haikel" Panggilnya dengan suara memelas.
"Duduk Vin!" Perintahnya pada sekertarisnya itu, Delvin yang mendengar perintah langsung kembali duduk.
"Aku akan melepasnya, asal dia bekerja di kantor ku" Kata yang keluar dari mulut Haikel, membuat tanda tanya besar bagi siapa saja yang mendengarnya.
__ADS_1
Setelah negoisasi yang panjang lebar, dengan banyak pertimbangan dari Andre dan banyak jaminan yang diucapkan Haikel, keluar juga apa yang ingin di ucapkan Andre.
"Sebenarnya aku memasukkan permintaan magang mereka ke kantor, syukurnya mereka lolos seleksi dan di terima" Jeda Andre dengan senyum kecil menghiasi wajahnya, kedua orang itu mengernyit.