Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Salah Paham


__ADS_3

Hari berganti. Sudah seminggu Yona dan Jema magang di perusahaan itu. Selama seminggu ini Yona berhasil menghindar dari Haikel, hubungannya juga dengan Delvin semakin membaik selama seminggu ini.


Yona berjalan seperti orang pincang, sehingga Yona tidak pergi ke ruangan Haikel. Sungguh bodoh bagi yang percaya. Seorang Sekertaris jenius percaya Yona sakit kaki, jelas saja saat kejadian terakhir Delvin bisa melihat ia berjalan masuk dan keluar kamar mandi tanpa keluhan.


Hari ini seperti biasa kegiatan di kantor selalu sibuk, Yona mulai mendapat banyak pekerjaan dari Delvin. Tapi, beberapa hari belakangan Delvin jarang bekerja di ruangannya. Ia membawa laptop dan bekerja di ruangan Direktur si raja Tega.


Delvin hanya masuk ke ruanganya mengambil berkas dan memberi tugas pada Yona. Yona sendiri bodo amat dengan kelakuan atasanya itu.


Yona keluar dari ruangan sekertaris dengan langkah tertatih, Berjalan menuju ruang Direktur. Beberapa waktu lalu ia dipanggil oleh Delvin kesana.


Apa lagi yang direncanakan manusia genit itu? Dasar raja tega. Gerutu Yona


**TOK...


TOK**...


"Masuk" Terdengar suara dari dalam mempersilahkan Yona yang mengetok pintu untuk masuk.


Mendengar itu Yona membuka pintu perlahan dan masuk dengan langkah yang sama seperti beberapa hari ini. Haikel, Andre dan Delvin memperhatikan lekat.


Ekspresi wajah mereka berbeda, Haikel tersenyum sinis, Andre dengan tanpang kebingungannya dan Delvin dengan wajah datar seperti biasa. Bisa dikatakan tanpa ekspresi.


"Kakak" Ucap Yona melihat Andre disana. Wajahnya yang tadi di tekuk berubah ceria, ia dengan gaya kaki sakit berusaha berjalan ke arah Andre.


"Sok kangen" Cibir Haikel.


Yona hanya mengacuhkanya dan langsung duduk di sebelah Andre sambil memeluk lengan kiri peria muda itu. Andre hanya tersenyum mengacak rambut Yona dengan tangan satunya.


"Is kakak... Rambut aku jadi berantakan" Yona melepas peiukannya lalu memperbaiki rambutnya yang berantakan, wajah kesalnya terlihat imut.


Delvin menggelengkan kepala, sekilas senyum singkat terlihat di wajahnya melihat kelakuan gadis itu. Sulit sekali mempertahankan wajah dingin, datar dan pembawaan yang selalu santai itu beberapa waktu belakang ini. Apalagi jika ada gadis bernama Yona disekitarnya.


"Ini masih dikantor" Kata Andre lembut menatap Yona.


"Abggab aja sekarang aku adek kakak, jadi aku tamu disini" Sifat keras kepalanya selalu muncul di saat yang tidak tepat.


"Yona" Peringatnya yang mana membuat sang gadis manja nan keras kepala itu diam.

__ADS_1


"Kakik kamu kenapa?"Lanjutnya lagi setelah sadar akan keadaan adiknya saat masuk tadi.


"Sakit"


"Kenapa? Tadi pagi masih baik kan?" Tanyanya sambil beralih mengecek kakai Yona.


"Cuma sikit sih, aku takut kakak kawatir makanya di depan kakak aku paksain jalan normal" Ujarnya tanpa melihat ke arah Andre.


"Sejak kapan ini? Apa yang terjadi?" Andre berjongkok dan mengangkat sedikit kaki kiri Yona yang diperban di bagian persendianya.


"Seminggu lalu. Ada orang mesum peles buaya darat yang modusin Yona kak" Kini ia menatap Andre dan beralih pada Haikel.


"Badan kecil gitu, orang modus suka yang berisi" Haikel menyahut sambil bangkit dari kursi kebesaranya menuju sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya disebelah kiri Yona.


"Ngapain dekat dekat?" Yona sinis menatap. Memang di sana ada tiga sofa, satu sifa panjang tempat duduk Yona dan Andre dan kanan kiri ada sofa yang tidak terlalu panjang hanya untuk satu orang, saling berhadapan di pisah meja kaca kecil di tengahnya. Sebelah kanan Diduduki oleh Delvin.


"Kamu diapain? Kenapa baru bilang sekarang? Siapa orangnya" Tanya Andre beruntun sebelum Haikel sempat membalas ucapan Yona. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya yang memerah.


"Kakak tenang dulu. Nanyanya satu satu dan wajahnya di kendaliin nanti strok lo kak"


"Yona" Suaranya meninggi setengah membentak, sang adik masih diam sejak tadi. Siapapun yang berani menyentuh adiknya akan ia beri pelajaran. Sedikitpun adiknya tidak boleh ternoda. Mendengar kata orang mesum sungguh membuat ia naik darah.


"Orangnya....." Yona takut menyampaikan, melihat kemarahan kakaknya. Tadi ia hanya sok mengadu, tidak menyangka sikap Andre akan seperti itu.


"Gue. Tapi....."


BUG......


Andre yang mendengar kata pertama yang di ucapkan Haikel tanpa mendengar lanjutanya langsung berdiri dan melayangkan pukulan di wajah tampan itu.


"Elo apai adek gue? Lopikir kalok lo kaya dan bos kita lo bisa berbuat seenaknya?"


BUG...


Untuk kedua kalinya wajah tampan itu terkena pukulan dari Andre. Delvin yang melihat itu langsung menarik Andre menjauh dan membuatnya terjatuh bersimpuh. Haikel hanya menatap sahabatnya yang sudah di pegangi oleh Delvin dan membuat bersimpuh tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Sungguh peria itu menyayangi adiknya, ralat adik tirinya. Jangan katakan ia menyayangi sebagai rasa cinta, ingin memiliki. Matanya memperlihatkan kasih sayang yang melimpah pada adik tirinya itu.

__ADS_1


"Elo emang punya segalanya tapi lo gak bisa sembarangan, adek gue bukan wanita ****** elo" Bentak Andre, kepalanya masih tegap menatap tajam Haikel.


"Lepaskan kakak ku" Yona terus berusaha melepas pegangan Delvin pada lengan Andre dan kaki yang menginjak kaki Andre agar tidak bisa bergerak.


"Dia kesakitan Vin" Ucap Haikel, mengisyaratkan agar Delvin melepas Andre. Dengan ragu Delvin perlahan mengangkat kakinya tanpa melepas tangan Andre takut kembali menyerang Tuannya.


"Kakak tenang dulu. Seharusnya mendengarkan dulu" Kata Yona.


"Aku akan cerita setelah kakak tenang" Lanjutnya lagi lalu kembali duduk ketempat semula. Andre mencoba menenangkan dirinya, membuang semua pemikiran kitor.


"Lepas" Andre berkata dingin menarik tangannya. Delvin melepaskan setelah merasa Andre tidak emosi seperti tadi. Jujur ia juga penasaran.


Delvin teringat kejadian dimana Yona menangis kembali dari ruangan Haikel. Baru kali ini ia sepenasaran itu terhadap kisah seseorang. Biasanya mau orang mati sekalipun ia tidak akan merasa seperti sekarang.


Semua kembali duduk di tempat semula. Haikel juga tidak berpindah dari sebelah Yona. Jadi sekarang Yona ada di antara Haikel dan Andre. Yona mulai menceritakan semua termasuk ia yang menangis. Hanya saja tidak menceritakan kelakuan Delvin.


"Maaf bro, lagian Elo lain kali jangan gitu. Sejak kapan Elo jadi genit sih?" Andre masih tidak merasa bersalah telah memukul wajah anak bosnya. Ia merasa itu pelajaran agar tidak macam macam pada Yona.


TOK...


TOK...


TOK...


Terengar suara ketokan dari luar, setelah Haikel mempersilahka masuk nampaklah seorang wanita memasuki ruangan itu. Wanita itu ialah Sanya, orang yang mengantar Yona dan Jema kemarin.


"Maaf mengganggu tuan, saya membawa laporan yang tuan minta" Ucapnya dengan wajah full senyum.


"Letakkan di meja" Ucap Haikel acuh.


"Sudah Tuan" Katanya lagi setelah selesai melakukan pekerjaannya.


"Kamu boleh pergi" Usir Haikel


"Baik Tuan" Sanya menatap Yona sinis sebelum pergi dari sana. Rambut yang sempat di acak Andre masih terlihat kurang sempurna, pakaian yang sedikit kusut karena membrentak Delvin dan wajah terlihat frustasi. Murahan. Batinnya


Bukan karena apa wajahnya tersebut, tetapi itu karena sifat kakaknya yang main pukul orang. Tapi jika di pikir itu pantas juga ia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2