
"Keruangan saya sekarang" perintahnya setelah panggilan tersambung. Tanpa mendengar sahutan dari seberang ia langsung mematikan panggilan sepihak. Delvin masih duduk disofa, hanya menatap bergantian Haikel dan layar Laptop di depannya.
Terlihat Yona meletakkan hpnya lalu meraih telpon kantor, wajah Yona yang menggerutu dan bicara sendiri setelah mematikan panggilan, ia bangkit dari kursinya, berbicara lagi di handpon genggam miliknya sambil berjalan keluar ruangan. Delvin yang melihat itu mengerti yang di panggil tuannya adalah Yona.
"Disuruh kerja malah asik telponan"omel Haikel bicara sediri. "Tutup laptopnya" perintahnya beralih pada Delvin, Delvin hanya diam dan melakukan perintah atasannya itu.
Setelah menunggu lima menit yang ditunggu tak kunjung datang. Haikel sangat geram dengan tingkah anak magang itu."Vin. Jemput Yona" perintahnya lagi.
"Baik Tuan"patuh Delvin langsung berdiri, baru ia melangkah sudah terdengar ketukan pintu.
TOK...
TOK...
TOK....
"Masuk"ucap Haikel ketus, Delvin menghentikan langkahnya.
"Ada butuh sesuatu?" tanya gadis berambut panjang dengan suara ketus. Ia sudah berdiri di depan Haikel, tanpa peduli keberadaan Delvin yang masih berdiri di dekat Sofa. Sikap yang tidak bisa di ubah, Yona hanya akan peduli pada tujuannya saja. Tidak menghiraukan sekeliling.
"Buatkan saya buah" perintahnya
"Baik" Yona melangkah keluar dan melirik sekilas pada Delvin.
"Nyebelin, padahal ada sekertarisnya di sana. Kenapa harus aku?" gerutunya setelah keluar dari ruangan Tuan Muda si Raja tega.
Setelah selesai ia kembali keruangan Haikel membawa nampan berisi buah segar. Delvin sudah kembali duduk di sofa, sibuk dengan laptob miliknya. Yona meletakkan nampan di tangannya dengan hati hati.
Haikel segera bangkit dan berjalan menuju sofa. "Supi. Saya lagi sibuk" ucapnya segera, melihat Yona yang berbalik ingin berbicara. Mungkin gadis itu ingin permisi kembali ke ruangannya.
Dengan terpaksa dan malas berkomentar ia meraih nampan. Yona bergabung duduk di sebelah Haikel di Sofa panjang. Haikel membaca beberapa dokumen yang terletak di atas meja sambil menik mati buah dari Yona. Sesekali ia melirik wajah kesal dan masam gadis itu lalu tersenyum jahat.
"*Bisanya hanya merintah, memang dia pikir dia apa? Ya memang dia anak sultan dan aku hanya masyarakat biasa yang mengemis nilai" Batinnya meronta mengingat fakta itu.
"Sangat tidak enak dipandang*" cibir Delvin membatin
__ADS_1
Ada rasa sesak di dadanya, banyak wanita yang mengejar Haikel dan memperlakukannya sepesia. Tapi kali ini Delvin merasa ada yang aneh dalam dirinya. Walau wajah gadis itu terlihat tidak senang.
Serelah buah habis dengan ditemani kesunyian, Yona undur diri dari ruangan itu. Baginya masuk kedalam sana sama saja memasuki neraka. Lelah dan kesal. Delvin mengantarnya sampai pintu.
"Sampai nanti Sayang" bisiknya pada Delvin. Segera berlalu dari hadapan Sekertaris itu dengan senyum lebar bahkan bisa dilihat ia menahan tawanya sehingga wajahnya memerah. Beberapa kali ia menoleh melihat Delvin yang masih berdiri di depan pintu.
Deg.... Deg....Deg....
Delvin yang mendengar ucapan Yona terkejut, antara sadar dan tidak ia membeku untuk beberapa saat. Sampai suara Haikel menarik kembali kesadarannya "Vin. Kenapa?" tanya Haikel, penasaran dengan kelakuan sekertarisnya yang masih berdiri seperti latung menatap Yona.
"Tidak Tuan" ucapnya gugub.
"Ada apa dengan gadis itu dan kenapa dengan jantungku" batinya. Ia kembali ke sofa dan duduk di tempat semula.
"Kenapa dengan wajah mu? Apa gadis itu membuat ulah lagi?" tanya Haikel melihat wajah Delvin yang memerah
"Bukan Tuan, saya hanya ingin kekamar kecil" bohongnya menghindari pertanyaan yang akan keluar lagi dari Haikel.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Sana pergi, nanti ruangan ini jadi bau"ucap Haikel dengan mengibaskan tangannya tanda mengusir dan tatapan yang jijik. "Baik Tuan"
"Hai kenapa keluar" tanya Haikel lagi melihat Delvin keluar ruangan bukan ke kamar kecil. Padahal di ruangan itu juga ada kamar kecil.
"Terserah kamu. Asal jangan membuat aku mencium aroma menjijikan itu" ucap Haikel acuh, ia kembali pada pekerjaannya.
Sedangkan diruangannya Yona tertawa puas, bayangan wajah Delvin tadi sangat menghiburnya. Wajahnya yang memerah, membuat ia bahagia. Baru kali ini ia melihat perubahan dari wajah datar tanpa ekspresi itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan bangun lagi begitu seterusnya.
"Ternyata kalau terkejut ia imut juga"ucapnya di sela tawanya, ia bahkan memegangi perutnya. Ia bangun dari Sofa
"Aku akan membuatnya sering terkejut" Jengkel dengan sikap Haikel ia bisa mencari hiburan dari sekertarisnya, pikir Yona. Yona kembali menjatuhkan dirinya di atas Sofa panjang dan enpuk itu.
"Sudah puas tertawanya Sayang?" suara seseorang dari belakangnya dengan menekan kata Sayang, Yona menghentikan tawanya dan bangun dari sofa menatap ke arah belakang sofa, peria tinggi berbadab tegab berdiri dengan tatapan tajam.
Wajah Yona terlihat pias melihat tatapan itu, tangannya gemetar dan rasa takut mehghantamnya. "Kenapa kamu selalu lupa menutup pintu? ahhhh Yona.... Apa dia mendengar ucapanku tadi?"batinnya. Ya, peria itu ialah Delvin.
"Maaf"hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, ia menundukkan kepalanya dalam.
__ADS_1
Delvin tidak peduli, ia melangkah menuju pintu meninggalkan Yona dengan perasaan bersalahnya."Tuan" Panggil Yona sebelum ia menggapai pintu.
Delvin menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Yona dengan tatapan yang belum berubah. Yona melangkah mendekat ntah dari mana kekuatan yang ia punya. Sekarang ia tidak merasa takut.
"Aku akan memanggil anda kakak. Apa boleh?" tanyannya. Ia menatap mata abu abu milik Delvin dengan wajah polos dan senyum tulus.
"Kenapa dia sangat membingungkan? Bukan tadi ia merasa takut? Sekarang ekspresi apa itu?" batin Delvin
"Terserah" ucapnya datar tanpa mengubah ekspresi wajahnya
"Jangan terserah, kurasa itu panggilan terbaik, tidak mau dipanggil Bapak atau tuan juga Bos. Jadi karena anda masih muda saya panggil kakak saja" ujar Yona memberi alasan. Ia sudah lelah memikirkan panggilan untuk bosnya itu.
"Baik lah. Itu lebih dari semua" ucap Delvin
"Mari bersalaman, kita sudah menjadi teman kan?" Yona meraih tangan Delvin karena peria itu kembali berbalik dan hendak melangkah keluar.
DEG....
"*Lagi? Kenapa denganku?"
"Hai... kenapa ini*?"
Setelah bersalaman Delvin pergi tanpa berkata, wajah keduanya memerah tanpa di ketahui. Mereka melepas pegangan tangan itu tanpa melihat satu sama lain. Yona kembali duduk di kursinya.
Malam harinya setelah kembali ke kamarnya, Yona menjatuhkan dirinya di atas kasur berseperai Biru miliknya. Direntangkannya tangannya dengan posisi terlentang dan menatap langit langit kamar. Kamarnya dominan dengan warna biru langit, foto berbingkai besar bertengger manis. Pikirannya terus berputar kejadian tadi siang.
"Hei.... Berhentilah" Ia memegang dadanya tepat pada jantung yang memompa cepat lagi.
"Yona.... Jaga hatimu!" peringatnya pada dirinya sendiri. Bersama Delvin ada rasa berbeda, apa lagi bersentuhan seperti tadi. Rasa yang pernah ada saat bersama Haga, persis seperti itu. Namun, ada perbedaan. Bersama Delvin jantungnya jauh lebih cepat dari sewaktu bersama Haga.
Ketakutan selama beberapa tahun ini ialah mencintai dan tersakiti. Yona gampang suka dan kagum, tapi sulit mendapatkan cinta dan kasih sayangnya. Ia meyakinkan hatinya, tidak ada yang akan berubah.
Dilain tempat, waktu yang sama. Pikiran Delvin juga selalu tentang kejadian dikantor bersama Yona. Ia duduk di balkon kamarnya, hari ini dia yidak pulang ke apartemen peribadinya. Ia menginap di kediaman Haikel. Ada kamar Kusus untuknya di sana.
Berkali kali ia mengisab wajahnya kasar, berharab bayangan gadis itu bisa menghilang. Semakin ia mencoba melupakan semakin jelas terlintas di kepalanya. Ia bangkit, menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di Kasur.
__ADS_1
"Ragaku pulang dan pikiran serta rohku masih di kantor. Bahkan sekarang berkeliaran" gumamnya. Ia mencoba memejamkan matanya. Hasilnya sama gadis itu selalu memenuhi pikirannya, bahkan sekarang tidak hanya kejadian tadi siang. Mulai dari pertama bertemu sampai kejadian tadi, berputar seperti filem.
Malan itu adalah malam yang melelahkan bagi dua orang itu. Berusaha melupakan semua kejadian yang semakin sulit di lupakan. Waktu menunjukkan pukul 03:00 mereka baru bisa tertidur, mungkin mereka sudah lelah. Kembali mengumpulkan tenaga untuk hari esok.