Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Sempurna?


__ADS_3

"Sebenarnya aku memasukkan berkas magang merekake kantor, syukurnya mereka lolos seleksi dan di terima"Andre berkata dengan senyum kemenangan, kedua orang itu mengernyit.


"Jangan bilang mereka yang dimaksud papi?" Tanya Haikel, wajahnya penuh selidik.


"Mungkin"


"Jadi elo permainin kita?" Haikel meninggikan suaranya. Jadi semua permintaan peria di depannya ini, semata untuk melindungi sang adik saja. Licik sekali ternyata peria satu ini.


"Aku tidak tau apa masalah elo sama Yona. Haikel, dia belum bisa berFikir dewasa" Andre takut sang adik terkena dampak ke angkuhan Haikel, ia sangat mengerti jika kesalahan sekecil apa pun tidak akan di maafkan oleh Haikel.


"Umur berapa dia? apa umurnya sekarang belum cukup dewasa?" Haikel tertawa di akhir kalimatnya.


"Mungkin apa yang kamu katakan benar, jika di lihat dari umurnya seharusnya begitu. Tapi, semua terlalu rumit baginya sehingga dia begitu El" Jelas Andre. "Apa yang terjadi sebenarnya? Sebesar apa kesalahannya?" Walau dia tau kesalahan apapun tidak gampang lolos dari manusia satu ini, tetap saja ia ingin tau.


"Adik tersayang elo bilang gue modusin dia" Perotes Haikel, seperti anak kecil yang diganggu bermain." Vin, tunjukin bagaiman sikap adiknya itu" Delvin yang mendengar perintah langsung mengeluarkan hpnya, memutar rekaman cctv, lalu menyerahkannya ketangan Andre.


Andre melihat aksi adik kesayangannya itu. Ia hanya melihat setengahnya, menyerahkan lagi pada Delvin. Ia tertawa melihat ekspresi Haikel yang melihat rekaman itu, tapi pikirannya masih melayang jauh.


Sejak kapan Yona menjadi galak lagi? Terakhir ia melihat raut wajah seperti itu saat Yona berumur 17 tahun. Saat tersulit gadis itu, dimana tidak ada kebahagiaan yang ia temui.


"Lagi mikir apa lo?" Pertanyaan yang sejak 15 menit lalu ia tahan akhirnya keluar juga, Jema pusing melihat saudaranya itu. Sejak masuk ke kamar, Yona terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Jalan mondar mandir, menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu berguling, setelah beberapa kali berdiri lagi mondar mandir dengan tangan selalu memegangi kepalanya. Kejadian itu berulang beberapa kali.


"Gue kayaknya pernah ketemu peria itu deh, Je"


"Emang pernah sih, waktu di mall" Kata Jema Acuh. Hanya karna itu? bahkan ia sudah seperti orang gila sejak tadi. Dasar pikun.


"Bukan peria modus itu. Satu lagi" Yona menghentak kakinya menatap Jema. Kenapa dalam situasi begini saudara satu ini gak bisa ngerti sih?

__ADS_1


"Penyakit acuh lo emang udah ilang? sejak kapan lo perhatiin orang sekitar?" Halu. Itulah yang terlintas di pikiran Jema, sejak kapan juga dia mau melihat orang di sekitarnya? Bahkan teman Jema yang datang menyapa sekalipun, jika ditanya atau di ceritain besoknya dia pasti akan lupa. Sekarang bilang ada orang yang ia kenal tanpa saling menyapa? Benar benar halu ini anak.


"Serah. Matanya gue inget jelas banget, mirip aktor Bolywod"


"Keseringan ngeliat Film lama sih" Ledek Jema.


Yona diam, tanpa peduli apa yang di ucapkan Jema, firasatnya pasti benar. Dia pernah berjumpa dengan orang itu. Jangan bilang mata yang sempat terlintas di bayangan Yona tadi adalah orang itu. Akhirnya karna lelah berfikir ia memutuskan akan bertanya nanti. Semoga saja masih bisa bertemu, apa lagi disana ada peria yang ia benci.


"Hehh..." memikirkannya saja membuatnya kesal.


"Haga gimana? Jangan bilang lo naksir sama cowok yang dibawah" Daripada membahas yang tidak pasti, sehingga membuat saudaranya seperti orang gila, lebih baik membahas orang yang pasti.


"No. Kamu tau sendiri aku gimana, jadi gak mungkin" Jawab Yona cepat, kepalanya ia geleng geleng, sebelah tangan di pinggang dan sebelah terangkat keatas memperlihatkan jari telunjuknya yang ia gerak kanan, kiri di depan Jema.


"Ya. Tetap bodoh dalam urusan cinta" Ejek Jema diiringi tawa mengejek.


"Tapi kita punya setatus, bukan kayak lo berdua" Yona bungkam, memang apa yang di katakan Jema benar adanya.


Jelas terlihat raut wajah kesal bercampur bingung Yona, Jema menyadari itu. Sahabatnya yang satu ini memang jago adu mulut dan mengejeknya, tetapi hatinya mudah tersentuh walaupun kadang hal tidak peting.


Waktu menunjukkan pukul 11:00, Jema dan Yona kembali keluar untuk membuat makan siang. Sebelum memasuki dapur mereka harus melewati tuang tamu. Yona ingin mencuri sedikit kesempatan agar bicara dengan peria bermata abu abu, yang membebani pikiranya sedari tadi. Namun, ia harus menelan rasa kecewa, setelah menginjakkan kaki dan mengedarkan pandangan di ruang tamu.


Ruang tamu terlihat kosong, bahkan Andre tidak ada di sana. Apa mereka sudah pulang? Terserahlah.


Pemikiran mereka hanpir sama, mereka melanjutkan tugas mereka tanpa ada pertanyaan sesama mereka.


"Udah siap?"Suara itu memecah keheningan, Yona sedag menghidangkan makanan di atas meja, sedangkan Jema mencuci bekas memasak yang mereka gunakan.


"Udah Kaka, ayo makan" Ajak Yona. Tidak ada kegirangan, tidak ada mulut, cerewet dan tidak ada kebodohan yang terjadi. Jema yang selesai dengan kegiatannya ikut bergabung.

__ADS_1


"Jema?" Andre berbisik kepada Jema di sebelahnya, dengan menunjuk Yona menggunakan ekor matanya. Apa yang terjadi sama tu anak? Begitulah arti yang ditangkap Jema. Ia hanya mengangkat bahunya acuh.


"Siapa yang tadi itu kak?" Tanya Jema setelah keheningan yang cukup lama terjadi.


"Haikel yang bermata hitam, putranya tuan besar dan Delvin sekertaris sekaligus asistennya"


"Tuan besar?" Jema menatap Andre pertanda tidak mengerti, jangan tanya Yona dia sekarang hanya diam menerawang jauh ke masa lalu.


"Ia, kakak pernah ceritakan tentang orang yang udah bantu aku sama mama. Itu putra semata wayangnya yang berantem sama Yona " Jelas Andre sambil mengelap mulutnya.


Papi Haikel adalah orang yang pernah nolong Andre.


Ketika Andre berumur 10 tahun, Papanya meninggal bersama adik perempuannya dan mamanya koma di rumah sakit. Ia tidak mempunyai uang untuk membiayai sang mama. Beruntung sahabat papanya mau membantu pengobatan mamanya dan menyekolahkan Andre. Sahabat papanya adalah papi Haikel.


Walau Andre mempunyai cafe dan bengkel yang cabangnya tersebar dimana mana dan bisnis mamanya yang masih berjalan sampai sekarang. Namun, ia tetap bekerja pada keluarga Rajata, sebagai bentuk terima kasihnya.


"Ganteng orangnya kak"Kata Jema berbinar, Andre tersadar dari lamunannya dan menatap Jema lekat.


"Ganteng wajah? Cih... Kelakuan kayak setan" Yona yang sedari tadi diam mencibir, memang dia tidak peduli dengan perbincangan di meja makan, tadi. Saat mendengar Jema mengungkit tamu tadi pagi, pendengaranya terasa makin tajam hingga ucapan Jema yang terakhir, dia tidak suka.


"Ganteng, kaya, anak tunggal lagi. Sempurna Yon" Jema masih setia dengan pujiannya tanpa peduli ucapan Yona.


"Sempurna? perilaku aja masih kayak setan"


"Serah, males gue" Andre hanya senyum melihat pertengkaran dua gadis itu, pertengkaran yang mengisi hari membosankan bagi mereka.


"Yona, Jema selesai makan kalian bersiap. Pakai baju sopan dan rapi, kalian ikut kakak" Andre buka suara menengahi perdebatan itu sebelum makin jauh, kedua gadis itu memandangnaya dengan alis terangkat.


"Nanti kalian juga tau" Katanya lagi karna melihat wajah bingung kedua gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2