Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Marah


__ADS_3

"Cuek mana?" tanya Raka. Jema baru keluar dari dapur membawa dua gelas teh panas buat tamu yang berkunjung pagi buta. Siapa lagi jika bukan Raka dan Radit.


"Belum bangun"jawab Jema sambil meletakkan gelas berisi teh di hadapan kedua sahabatnya itu.


"What?" Adi dan Raka saling menatap lalu beralih pada jam di pergelangan tangan mereka.


"Ia. Dia belum sarapan juga, dari tadi udah di panggil tapi belum ada sahutan. Mungkin dia lelah, pekerjaannya di kantor sepertinya banyak"ujar Jema, bergabung duduk bersama kedua sahabatnya.


"Tumben banget itu anak"ucap Raka bingung. Pasalnya belum pernah Yona bangun kesiangan, waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi. Andre sudah pergi sejak satu jam lalu, tidak mengatakan tujuannya hari ini.


Sedangakan tamu tak di undang itu sudah datang sejak pukul 06:00 pagi tadi. Mereka belum melihat Yona turun. Biasanya setiap akhir pekan mereka memang selalu datang sepagi itu, karena magang mereka sudah lima minggu tidak berkumpul. Semua asik berbaring di kasur empuk milik mereka sepanjang hari.


"Tumben nongol"suara dari arah tangga mengagetkan ketiga orang itu.


"Kayak hantu aja" gerutu Adi dengan wajah terkejutnya. Bagaimana tidak, mereka tidak mendengar langkah kaki gadis itu dan muncil dengan deramatis. Mereka yang terlalu serius atau memang Yona yang memang seperti hantu.


"Bacot"ucap Yona acuh, ia melangkah menuju arah dapur, langkahnya kembali terhenti karena sahabatnya.


"Mau kemana?" Raka


"Lo belum mandi?" Adi


Kedua sahabatnya berbicara bersamaan. Ia berbalik menatap kedua laki laki itu.


"Berisik. Mau makan, laper aku"jawabnya pada Raka dan mengabaikan Adi.


"Lo masih kusut banget, jorok banget"ejek Adi merasa di abaikan. Yona masih memakai pakaian tidur dan rambut yang di jepit asal agar tidak berantakan. Walau wajahnya sudah bersih, sepertinya dia belum sisiran.


"Serah, mau makan dulu"Yona pergi mengabaikan ocehan ketiga sahabatnya di sana. Ia segera sarapan, setelah itu kembali kekamar. Sahabatnya masih mengeluarkan banyak pertanyaan saat ia melewati mereka. Yona terus menaiki anak tangga tanpa peduli ocehan sahabat sahabatnya.


"Mau kemana?" tanya Yona. Ia sudah rapi dengan celana jins biru muda dan baju kaos merah maron tangan pendek.


"Elo yang mau kemana? udah rapi aja" tanya balik Adi


"Jalan. Gue tau kok kalian pada mau ajak aku makan"ucapnya pede dengan senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya. Ia sendiri tau kalau sahabatnya datang pasti sudah minta ijin pada Andre dan membawa kedua gadis itu pergi.


"Kepedean"gerutu Adi lagi mengejek dengan wajah seakan jijik menatap Yona

__ADS_1


"Udah kalian ribut mulu. Ayo"ajak Jema. Ia melangkah lebih dulu menuju pintu di ikuti oleh Raka di belakangnya.


"Wekkkk....."ejek Yona pada Adi dengan menjulurkan lidahnya dan berlari kecil mengejar Jema dan Raka. Adi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gadis itu dan berjalan santai.


Mereka memasuki mobil Adi, karena Ia menjemput Raka sebelum datang jadi mereka hanya menggunakan satu mobil. Raka di depan bersama Adi sebagai pengemudi dan Yona bersama Jema di kursi penumpang.


"Mau kemana?" tanya Adi sambil mengemudi menuju jalan raya, tetap mengemudi walau tidak punya tujuan.


"Jalan aja dulu. Kalo ada yang menarik, nanti kita berhenti aja. Kan gampang" ujar Yona menatap Adi dari kaca sepion.


"Namanya pemborosan minyak"jawab Adi ketus


"Yaudah terserah" Yona meraih telpon selulernya dan mulai mengotak atik benda itu.


Raka dan Jema juga menyerahkan keputusan pada Adi, yang membuat peria itu kesal. Mereka malas berada di kerumunan orang, lebih menyenangkan naik gunung atau menjelajah hutan atau menikmati udara di puncak. Hal yang setiap minggu bisa mereka lakukan selama menjadi sahabat.


Karena takut lelah menghadapi magang besoknya mereka tidak bisa melakukan kegiatan itu. Jika waktu kuliah, hari senin mereka masuk siang. Sehingga masih ada waktu beristirahat setelah lelah semalaman.


"Sungguh membosankan. Semenjak perencanaan magang kita tidak bisa pergi seperti biasa" oceh Jema kesal. Andre melarang mereka pergi semenjak dua minggu sebelum hari magang.


Tapi jangan tanya Yona, pekerjaannya sudah sama seperti karyawan sungguhan bahkan sebelum ada pengalaman kerja ia harus bekerja di bawah pimpinan Direktur. Untung saja otaknya yang jenius bisa membantunya.


Akhirnya Adi membawa mereka ke museum setelah dari sana lanjut ke kebun binatang. Mereka menghabisman waktu sampai siang. Kegiatan di kebun binatang selesai, mereka sepakat mengisi perut. Mobil yang di kendarai Adi berhenti di sebuah restauran Jepang.


Mereka keluar dari mobil dan masuk. Setelah mendapat tempat duduk di dekat jendela besar. Mereka memesan makanan, sambil menunggu mereka melakukan sesi tanya jawab.


"Kayaknya Cuek lupain kita selama ini" ucap Raka membuka pembicaraan menatap Yona di sebelahnya.


"Emang kapan Aku ingat Lo pada?" balas Yona ketus. Pandangan masih setia melihat benda pipih di tangannya.


"Satu ruangan sama bos ganteng. Siapa yang ingin jauh jauh coba? Apalagi demi orang serpihan debu seperti kita"sindir Adi yang ada di delpan Raka.


"Ganteng?" tanyanya ulang memastikan pendengarannya masih baik. Benda pipih di tangannya ia letakkan dan menatap satu persatu sahabatnya yang sedang mengangguk padanya.


"Ya. Jika di lihat dari lobang pipet dengan jarak sepuluh meter" lanjut Yona dengan senyum sinisnya.


"Jahat bener lo. Sama bos sendiri lagi" tegur Jema menahan tawa.

__ADS_1


"Jem Sepertinya mereka sadarya hanya serpihan debu. Kalok kain pel cocok gak ya" ucap Yona lagi menatap bergantian kedua sahabatnya. Kedua perui itu berhenti tertawa dan menatap Yona.


"Cocok lah" tawa Jema meledek


"Jahat" ucap mereka berbarengan.


Jema dan Yona tertawa melihat kedua peria itu kesal. Raka diam dan mengalihkan pandangannya dari wajah Yona. Sedangakan Adi ngoceh sendiri,tidak terima dengan perkataan Yona.


Yona tidak merespon perkataan Adi, ia menatap Raka di sampingnya yang hanya diam. Yona tidak menanggapi Jema dan Adi yang sedang berdebat di hadapannya. Pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah meletakkan semua pelayan permisi undur diri.


Raka masih diam dan meraih makananya tanpa bicara. Sedangkan Adi dan Jema sudah berhenti berdebat. Yona masih menatap Raka, pada akhirnya ia buka suara.


"Ka? Kenapa?"tanya Yona menatap Raka. Raka tidak peduli dan tetap melakukan kegiatannya.


"Gue cuma becanda Ka. Jangan marah dong" bujuk Yona sepontan memeluk tangan peria itu. Di diamkan lebih sakit dari pada mengoceh marah seperti Adi, pikir Yona. Ia memang orang yang tidak bisa di diamkan, seperti tidak dianggab hidub bahkan tidak pernah ada rasanya.


"maaf Ka" bujuknya lagi. Dengan wajah memohon yang membuat ia terlihat imut. ia menggoyang goyang lengan kekar Raka. Karena Raka tak kunjung melihat kearahnya ia akhirnya meraih wajah itu menghadap wajahnya, dengan tangan kiri dan tangan kanan masih setia memeluk lengan kekar Raka.


Raka menatabnya dengan muka sebal. Diantara mereka Raka adalah tipe orang yang paling sensitif terhadap perkataan Yona. Tidak ada yang tau alasannya namun, setiap kata yang di ucapkan gadis itu seperti kebenaran baginya.


"Siapa yang marah?" tanyanya masih dengan posisi tadi. Ia menatap Yona dalam, melihat wajah menggemaskan gadis itu membuat kemarahannya sirna seketika.


"Kok diemin aku?"tanya Yona lagi. Tangannya ia turunkan dari wajah Raka dan kembali memeluk tangan kekar itu.


"Gak marah. Udah makan gih, nanti keburu dingin" Kata Raka


"Kalok Gak marah, suapin"Yona memastikan bahwa Raka benar tidak marah.


"Baik lah Tuan putri"ucapnya memencet hidung gadis itu sekilas, lalu menyendok makanannya sendiri lalu menyuapi Yona. Posisi mereka masih sama dengan Yona memeluk tangan kirinya dan ia menyuapi Yona bergantian dengan dirinya.


"Derama"cibir Jema yang hanya memperhatikan sedari tadi.


"Kelamaan jomblo lo berdua" sambung Adi.


"Iri?" Bentak Yona galak dan mengejek. Raka hanya tersenyum dan menyuapi mereka berdua dengan sedikit kesusahan karena tangannya dipeluk Yona. Tapi,tidak ada niat melepaskan walau kesusahan.


Tempat dan waktu yang sama. Seorang peria mengepalkan tangannya menyaksikan kejadian itu. Ada rasa sesak, rasanya udara di sekitarnya habis. Ia susah menghirup udara segar saat itu. Ingin sekali ia menarik Yona dari sebelah peria yang tidak ia kenal itu. Namun, ia sadar. Ia bukan sipa siapa gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2