Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Yona Dan Jema


__ADS_3

"Lelah banget" ujar Yona menghempaskan tubuhnya di kasur. Yona dan Jema baru di antar pulang oleh Raka dan Adi.


"Mandi dulu sana" Suruh Jema yang ikut masuk ke kamarnya.


Mungkin karena lelahnya, gadis manja nan cuek itu perlahan menutup kelopak matanya. Menikmati indahnya alam mimpi yang tak akan membuat kita lelah.


"Yona!" panggil Jema sekali lagi sambil melempar Yona dengan boneka.


Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka, ia menatap Jema yang pertama ia lihat dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Berisik. Kenapa ikutin aku? Kamu bersihin diri sana" omelnya sambil perlahan duduk.


"Takut tukang molor gak ingat waktu aja, udah sana siap siap. Bentar lagi kakak pulang" peringat Jema sambil meninggalkan Yona.


Seperti itulah keseharian dua saudara beda orang tua itu. Jema yang lebih tua beberapa bulan dari Yona,harus bisa menjadi kakak bagi Yona. Yona yang suka hati, ceroboh dan acuh, selalu mengabaikan hal-hal yang bukan sebagai tujuannya. Jema yang selalu berada di sebelahnya, mengingatkan setiap apa yang dilakukan olehnya.


Jema hapal dengan tingkah saudaranya itu, oleh karena itu ia akan mengikuti Yona saat mereka pulang dari mana saja. Karena, Yona akan tertidur dalam situasi dan kondisi seperti apapun setiap dia lelah.


Setelah kepergian Jema, Yona dengan malas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dengan wajah kusut. Sungguh demi apapun ketika ia lelah ia hanya ingin menutup mata sebentar dan merilekskan badannya.


Bukan malas mandi,bagi Yona ketika ia selesai mandi maka rasa kantuk akan hilang. Jadi lebih baik jika saat ngantuk langsung tertidur dan setelahnya mandi. Pemikirannya memang selalu di luar akal sehat orang normal.


Setelah selesai bersih bersih Yona kembali merebahkan dirinya di kasur empuknya, seperti dugaan. Yona tidak bisa memejamkan matanya, Kantuknya seketika hilang. Karena tak kunjung terpejam ia memutuskan keluar kamar mencari kegiatan yang bisa menghibur.


"Liatin apa sih?" Yona mengagetkan Jema yang sedang duduk di ruang keluarga menatap serius pada ponsel di tangannya. Wajah Jema memerah dan benda pipih di tangannya hampir terjatuh.


"Yona. Ngagetin deh" ucapnya dengan napas naik turun. Yona selalu datang seperti setan, Jema sampai bingung. Apa ia dia seserius itu? Tapi tunggu, bukan dia. Tapi, Yona yang selalu mengagetkan semua orang dengan kedatangannya.


"Apa itu?" tanyanya sekali lagi sambil melirik benda pipih di tangan Jema. Seketika lamunan Jema buyar. Dengan terburu buru ia menyembunyikan benda itu sambil menekan tombol kembali.


"Jadi sekarang kita main rahasia? Jema sayang kamu lagi sembunyiin apa?" jiwa lebay nya mulai keluar. Saat seperti ini tidak akan ada yang percaya dia adalah Yona. Orang terdekatnya saja kadang bingung. Bagaimana bisa dia seperti itu.


"Nggak penting kok"jawab Jema sedikit gugub

__ADS_1


"Katanya gak penting, tapi ekspresinya kok bingungin, serah deh. Tapi, awas aja kalau ada yang di sembunyiin" ucapnya berlalu pergi.


"Nggak ada" teriak Jema


"Kenapa kamu menolak semua yang datang? Demi dia?" gumam Jema memandang kepergian Yona.


"Semoga kamu dapat melalui semua" batin Jema


Jema kembali duduk tenang dan menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa, memikirkan pertanyaan yang sama. Kenapa dengan Yona, begitu banyak lelaki yang mendekatinya.


Jema kembali membuka ponselnya, menatap lama pada layar yang sedang menampilkan Foto seorang lelaki.


"Tampan"


Deret....deret...deret...


Jema hampir menjatuhkan benda pipih itu sakin kagetnya. Jantungnya berdebar kencang melihat si penelfon.


"Halo" ia langsung mengangkat dengan suara datarnya. Dari suaranya ia terlihat tidak suka.


"Aku lelah. Sampai di sini aja" Dengan suara keras dan kesall Jema momotong ucapan dari seberang.


"Kamu punya yang lain? Kamu berubah semenjak beberapa bulan"


"Jangan mencari kesalahan siapapun. Kita akhiri semua ini, mungkin takdir tidak mengijinkan kita bersama" bentak Jema lalu mematikan sambungan sepihak.


Kediaman Hakel


"Kemana kamu seharian?"tanya Haikel membelakangi orang yang sedang di tanyainya. Ia berdiri di balkon kamarnya memandang gelapnya malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 20:15 wib.


"Berkeliling Tuan"jawab orang di belakangnya


"Sejak kapan kamu jadi penguntit?"tanyannya lagi, kini suaranya meninggi

__ADS_1


Peria yang di tanyainya hanya diam. Ia menduga dan menebak apa maksud dari pertanyaan Haikel barusan.


"Delvin?" teriak Haikel setelah merasa lama menunggu. Peria itu ialah Delvin, sekertaris dan sahabat dekat Haikel. Orang yang sangat di percayai nya. Delvin sendiri tidak tau kesalahan yang dia perbuat sehingga Haikel marah. Biasanya akhir pekan Haikel tidak akan pernah memanggilnya, kecuali jika mereka sedang dinas di luar kota atau luar Negri.


"Delvin!"teriaknya sekali lagi,suaranya begitu dingin dan terdengar menyeramkan.


"Ia Tuan" Delvin tidak berani menatap mata hitam pekat itu. Ditundukkannya kepalanya.


"Bodoh" teriak peria bermata hitam itu, di lemparnya gelas di atas meja sebelahnya. Delvin tidak menghindar, walau ia masih belum mengerti dimana kesalahannya tapi, ia pasrah jika harus terkena gelas itu. Gelas yang di lempar oleh Haikel mendarat tepat di depan kakinya. Bahkan pecahan gelas itu mengenai sepatu dan celananya.


"Sejak kapan kamu menguntit adik Andre?" tanyanya lagi


Delvin kaget mendapat pertanyaan Haikel,sehingga ia mendongak menatap Mata hitam pekat itu, mencari kesungguhan di sana. Sejak tadi ia memikirkan kesalahannya? Kesalahan yang biasanya sangat besar sehingga bisa memancing Peria pemilik mata hitam pekat itu marah besar padanya.


Hari ini, peria di depannya marah besar padanya hanya karena masalah gadis kecil yang bisa di katakan musuhnya? Dan dari mana pemikiran itu? Tunggu, jangan katakan Haikel peduli pada seorang mahluk yang bernama Perempuan?


"Yona?" tanya Delvin balik dengan ragu


"Hem" sahutan dari Haikel, Wajahnya belum berubah.


"Saya? Tidak Tuan"Sangkal Delvin


"Jangan menyangkalnya"ujar Haikel dengan wajah datarnya sebelum meninggalkan Sekertaris nya.


Delvin terdiam, pikirannya menerawang jauh. Dengan wajah yang sulit dimengerti ia pergi meninggalkan balkon kamar. Saat ia masuk kedalam ia tidak mendapati Haikel di sana. Tidak peduli dan tidak mencari. Peria bermata abu itu melangkah keluar dari kediaman tuannya.


Haikel menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesaranya. Ia memijat kealanya pelan, terasa pusing.


"Apa yang terjadi?" Pikiranya berkecamuk, sungguh ia tidak mengerti dengan kelakuannya beberapa saat lalu.


Sebuah mobil yang melaju di waktu yang bersamaan, seorang peria juga mengalami hal yang sama dengan Haikel. Lelah dan pusing. Caranya tersenyum, kemarahannya dan semua kelakuannya. Semua berputar bagai rekaman di ingatannya.


"Yona" panggilan perempuan itu, perempuan dengan kelakuan aneh yang bisa menarik perhatian. Perempuan yang membuatnya pusing saat ini.

__ADS_1


Tidak ada yang istimewa saat ia melihat perempuan itu pertama kalinya, sikap sesuka hati, pandangan mata sinis, tidak terlalu tinggi dan kasar. Bukan idaman seorang peria seperti dirinya.


__ADS_2