Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Tuan Besar


__ADS_3

🌻Like geratis kok😊... Jangan lupa vote dan komen juga😊. Biar aku tetap semangat🌻


Yona dan Jema tidak tau juan mereka, dengan cara apapun Andre tetap tidak buka mulut. Mobil yang membawa mereka berhenti didepan sebuah gerbang tinggi, penjaga yang melihat Andre langsung membuka gerbang.


Roda empat itu melaju menuju sebuah rumah besar di depan, lumayan jauh dari pos penjaga gerbang tadi. Kedua gadis itu hanya diam melihat semua itu, bertanya juga hanya akan di tanggapi dengan senyum. Terlihat mereka sudah pasrah, satu hal yang mereka tau kakak tersayang mereka tidak akan membawa mereka ketempat yang berbahaya.


Mobil berhenti didepan pintu utama, seorang peria paruh baya menunggu mereka. Andre sebagai pengemudi langsung turun di susul oleh Jema yang ada di sebelahnya.


Jangan tanya Yona, gadis yang selalu berada di belakang untuk kenyamanannya karena semua tempat duduk miliknya. Gadis itu masih diam memainkan hpnya tanpa peduli sekitar. Ya itulah sifatnya, acuh dengan sekitar.


"Yon?" Jema mengedor kaca sebelah Yona, keacuhan anak satu ini memang diluar akal sehat, Jema berharap gadis itu akan segera turun. Andre yang sudah berada didepan pintu kembali berbalik.


"Yona, ayo" Andre buka suara melihat Yona tidak peduli panggilan Jema.


"Sabar" Katanya ketus, ia mematikan hpnya dan membuka pintu.


"Ingat, jaga sikap kamu. Kita akan menemui Tuan besar" Peringat Andre sambil menarik tangan Yona.


"Ngapain ke sini? Kita emang diundang?" Tanya Yona makin kesal. Siapa yang tidak akan kesal? Tadi ditanyain gak bilang sekarang malah baru dibilang. Dari cerita Andre selama ini Tuan besar orang yang di siplin dan tegas, tidak suka bicara tidak penting. Bagaimana harus bersikap nantinya? Ahh... memikirkannya saja membuat pusing.


"Tuan besar, papanya Haikel?" Tanya Jema antusias, Andre mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Yona.


Yona yang melihat Jema tambah kesal. Jadi dia akan bertemu dengan orang itu? Mengingat wajahnya saja tidak sudi, ini anak satu malah antusias banget lagi.


"Bukankah anak orang kaya tidak akan tinggal bersama orang tuanya? Pasti orang itu tidak ada" Batin Yona. Ia tersenyum memikirkan hal itu. Dua orang yang melihat tingkah aneh Yona sedikit bingung. Tadi kesal sekarang senyum tanpa alasan.


Seperti novel yang sering aku baca, anak orang kaya yang sudah bekerja pasti tinggal di tempat berbeda ya misalnya Apertemen gitu. Mungkin itulah pikiran gadis itu sepanjang langkah kakinya, senyum yang menghiasi wajahnya kian menghilang bersamaan dengan langkah kaki yang terhenti.


"Selamat siang, Tuan Andre. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan" Sebelum melewati pintu rumah besar itu, seorang wanita paruh baya menghentikan langkah mereka.


"Mari saya antar" Lanjut wanita itu lagi.


"Terima kasih bi" Kata Andre ramah, Yona kembali terdiam, bagaimana ia lupa tujuannya kesini menemui Tuan besar yang bahkan belum pernah ia lihat? Apa yang harus ia ucapkan juka bertemu? Apa Tuan besar sama menyebalkannya dengan manusia buaya itu?


Pikiranya ntah kemana sedangkan kakinya berjalan mengikuti Andre dari belakang yang masih menarik tangannya. Yona tersadar dari lamunannya karena menabrak sesuatu, ya yang ia tabrak ialah Andre, tangannya sudah dilepas. Andre berhenti dan sedikit membungkuk di ikuti oleh Jema di sebelahnya.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan"


"Sakit" Kata Yona sedikit keras. Kesadaranya belum sepenuhnya kembali, sebagian masih di alam hayalan.


Semua orang melihat ke arahnya, Andre sedikit bergeser mendengar itu,sehingga yang ada di sana bisa melihatnya. Gadis itu mengelus hidung bergantian dengan jidatnya dengan mata terpejam.


Hening, tidak ada suara dari begitu banyak orang disana. Yona seketika tersadar saat matanya terbuka karna keheningan yang cukup lama. Mata coklat itu menangkap sosok peria paruh baya yang menatapnya lekat.


Wajah peria paruh baya itu terlihat dingin, lebih tepatnya tanpa ekspresi. Yona merasa sesak sekarang, ia sangat yakin peria itu Tuan besar yang selama ini di ceritakan Andre.


"Jangan membuat kesalahan sekecil apapun, Tuan besar tidak suka itu" Ucapan Andre yang sering ia dengar terlintas kembali.


"Siang Om"Karena gugup ia sampai lupa siapa orang yang ada di depannya saat ini. Sungguh tubuhnya kini merinding, ia reflek menutup mulutnya. Semua orang di sana membelalakkan mata mendengar kata 'om'. Gadis ini sungguh tidak takut mati rupanya.


"Yona" Kata Andre pelan agar hanya gadis itu yang mendengar. Andre sangat ingin menanyakan apa yang sakit tapi ketakutannya Terhadap tuan besar lebih besar dari rasa kawatir. Bukan karena apa, ia hanya berharap adiknya minta maaf agar tidak terjadi suatu yang buruk.


Satu detik, dua detik, belum ada suara. Yona yang mengerti akan maksut Andre tidak berani mengeluarkan suara, untuk minta maaf. Bahkan untuk menurunkan tangannya saja rasanya sangat berat. Sampai pada detik ke lima.


"Hahahahah" Peria paruh baya yang dipanggil tuan itu tertawa, semua orang kecuali Yona merasa takut dengan tawa itu, tuan besar itu tertawa lepas yang biasanya sangat jarang mereka lihat.


"Jangan takut, saya tidak makan manusia" Kata Tuan besar, ia berjalan mengahmpiri Yona. setelah di depan gadis itu ia menepuk beberapa kali kepalanya pelan, seperti seorang Ayah kepada anaknya.


"Ayo kita makan, kami sudah menunggu mu" Lanjutnya lagi, tangannya mkini mengelus surai gadis itu. Yona perlahan menurunkan tangannya, wajahnya mulai teraliri darah kembali. Ia mengangguk dan memaksakan senyumnya.


Tuan besar membimbingnya sampai di kursi yang akan di duduki gadis itu, lalu kembali ketempatnya setelah Yona duduk. Kini orang yang ada disana merasa seperti antara ada dan tidak. Tidak ada yang terkecuali, melihat tuan besar beraikap sangat lembut.


"Kalian akan makan dengan posisi berdiri?" Kini tuan besar menatap Andre dan Jema yang masih mematung di tempat tadi. Dengan cepat mereka duduk.


Setelah Tuan besar menerima makanan yang ditaruh di piringnya oleh Nyonya besar semua orang mulai mengisi piring mereka juga.


"Jangan sungkan"Kata tuan besar, semua orang memandangnya. Pandangannya tertuju pada Yona. Yona yang sadar tersenyum dan mengangguk. Sejujurnya ia tidak ingin makan.


Kenapa juga kakak tidak bilang makan di sini? seharusnya tidak usah makan tadi. Kalo ditolak gak mungkinkan, tadi saja sudah membuat kesalahan. Begitulah pemikiran Jema dan Yona bersamaan.


Yona melihat hidangan di meja, matanya berhenti saat melihat ikan emas arsik, salah dmsatu makanan faforitnya. Saat ia memegang sendok ikan itu bersamaan sebuah tangan memegang tangannya yang diluan sampai,mungkin orang itu juga ingin, tangan itu seketika lepas dari tangan Yona. Yona menoleh ke sebelahnya tempat sang pemilik tangan. Betapa terkejutnya dia.

__ADS_1


Jika ia punya riwayat sakit jantung, hari ini akan menjadi hari terakhir melihat kehidupan. Mungkin sepulang dari sini ia akan terkena penyakit jantung, walaupun tidak mati karna penyakit itu.


"Peria modus?" Pekiknya tanpa sadar, Lagi, lagi dan lagi. Semua orang melihat kearahnya dan Andre kembali menggelengkan kepala frustasi.


"Diam" Haikel berkata datar dan terlihat kesal. Tentu saja kesal semua rencananya sudah gagal. Apa sejak tadi wanita ini tidak melihatnya? Apa dia sangat kecil atau perempuan ini rabun?


Peria itu adalah Haikel, peria yang tadi sempat di harapkan tidak akan ada. Tapi debgan bodohnya dia masih bertanya.


"Ngapain kamu di sini?"


"Ini rumah saya, masalah buat kamu?" Katanya datar. Ia mengambil sendok yang sudah dilepas oleh Yona dan menyendok Arsik kedalam piringnya. Yona masih setia melihat Haikel yang menganbil menu. Karena merasa tidak di hiraukan ia melihat semua yang ada disana.


Wanita paruh baya yang di yakininya adalah Nyonya besar, wanita itu tersenyum padanya saat mata mereka bertemu, dan disebelahnya Peria bermata Abu abu yang sempat disebut kakaknya bernama Delvin.


Sampai pada akhirnya makan siang itu selesai dengan banyak Derama.


🌻🌻🌻


Haikel dan Delvin harus cepat pulang karena telfon dari maminya agar mereka pulang dan makan siang di rumah. Sekarang di sinilah mereka berada, maja makan. Papinya yang duduk di ujung, ia dan maminya berhadapan dan Delvin di sebelah mami.


Sudah Lima menit ia duduk di tempat itu, jika boleh jujur ia sangat kesal. Tapi nyalinya membantah lapinya belumlah besar. Haikel yang membelakangi pinyu masuk menoleh kebelakang mendengar suara langkah kaki. Haikel kenal kedua orang itu, Andre dan Jema.


"Ternyata mereka yang ditunggu, seperti peresiden saja" Batinnya. Kedua orang itu membungkuk dan menyapa papinya hormat.


"Tunggu, sepertinya ada yang kurang" Batinya lagi, dan sebelum ia sempat ber argumen ada suara dari belakang.


"Sakit"


Andre yang bergeser membuat ia melihat gadis itu, matanya terpejam dan tangannya mengelus bergntian hidung dan jidatnya. Haikel tersenyum melihat tingkah gadis itu, ia melirik papinya yang melihat gadis itu.


"Siang Om" Ucapan gadis itu membuatnya membulatkan matanya, setelah sekian detik ia tersenyu. Selama papinya berpihak pada Andre ia yakin tidak akan bisa menindas gadis ini, setelah tadi pagi berbicara dengan Andre. Sekarang jika papinya kesal pada gadis itu maka akan mudah baginya.


Kesenangan itu membuatnya berpikir jauh, penyiksaan apa yang akan ia lakukan nanti. Sehingga ia tidak melihat reaksi papanya dan gadis itu. Tapi ia harus menelan pil kekecewaan, bukan marah papanya malah menghampiri gadis itu dan membawanya duduk di sebelahnya. Dan dari sinilah Derama baru makan siang dimulai.


🌻Buat sobat semua yang masih setia menunggu saya ucapkan banyak terima kasih, mohon maaf jika up tidak beraturan. saya sangat berharap dikasih like biar semangat up, apalagi komen kalian yang menambah setamina hayalan saya.

__ADS_1


Saya mohon bantuan nya ya..🙏🙏🌻🌻🌻


__ADS_2