
"Aku jadi takut. Gimana kalau ada yang rebut kamu? Disana pasti banyak laki laki tampan dan kaya. Apa mereka ngejar kamu?" Suara Aga terdengar getir dan wajahnya murung.
"Aga? Aku selalu ingat janji kita" Jeda Yona, di tatapnya Aga melalui layar Hpnya.
"Kita hanya terikat sebuah janji tapi, aku yakin pada hati aku. Aku berharap kamu juga yakin akan itu. Aku akan pulang secepatnya" Lanjutnya
Ia berusaha mwyakinkan Aga. Hanya ada kamu di hatiku, kata itu yang dapat di tarik oleh Aga dari ucapan panjang Yona.
"Aku menunggu, pulanglah setelah semua selesai"
Terlihat jelas dari matanya Aga merindukan Yona dan sebaliknya. Tapi ini demi cita cita gadis yang di sayanginya. Dia bersedia menunggu bahkan tanpa setatus agar gadis itu bahagia.
"Tinggal 1 semester. Kamu janji mau tunggu aku kan?" Pertanyaan yang tiba tiba keluar dari mulutnya, ntahlah tapi Yona sangat ingin memastikan hal itu.
"Aku janji. Kembali lah dengan utuh,aku selalu menunggu"Katanya tersenyum.
"Siap. Aku akan kembali tanpa ada yang kurang, malah aku akan tambah cantik demi kamu. Udah dulu ya, aku mau lanjut biar dapat nilai bagus" Pamitnya pada akhirnya. Ia sedikit takut jika Delvin datang tiba tiba.
"Ya. Jaga kesehatan dan Semangat. Jangan tergoda sama bos kamu" Kata Aga diakhiri dengan tawa, mungkin dia becabda karena tau Yona tadi menceritakan sifat Delvin yang menjengkelkan.
"Issss.... ogah ah" Yona terlihat kesal dengan gaya sok ngambek memanyunkan bibirnya.
"Jangan gitu,jelek. Udah sana, nanti kena marah"
"Bay... Sayangkhu" Ucap Yona alay dan langsung mematikan panggilan sepihak. Wajahnya tiba tiba memerah. Ia tersadar dimana ia sekarang, rasanya jengkel jika mengingat wajah dua laki laki yang menjadi bosnya.
"Semangat kamu bisa Yona, demi bapak dan mama di kamping dan demi kembali cepat untuh hubungan kamu" Teriak Yona menyemangati dirinya,tangannya diangkat keatas dengan hp masih di pegang erat di tangan kiri. Dia berjanji akan bertahan demi kedua membanggakan kedua orangtuanya.
Bagi orang dari kampung seperti mereka meneruskan pendidikan di kota mendapat banyak omongan. orang akan berkata 'sok ke kota padahal pulangnya bawa anak' 'emang keluarga bisa biayain?' dan masih banyak lagi hanya perestasi yang di bawa setelah lulus yang bisa membuktikan jerit payah anak perantau.
__ADS_1
Mela mulih adi la rulih
Pepatah dari daerahnya yang selalu ia pegang demi menampar omongan orang disaat pulang nanti. Malu pulang jika tidak ada hasil, kurang lebih arti dari pepatah itu.
Saat ia pulang menunjukkan perestasinya dan membuktikan bahwa orang tuanya sanggub membiayainya di kota. Jangan lupa ciburan orang tentang jual diri atau mendekati laki laki kaya. Itulah kenapa ia selalu di jaga ketat oleh Andre.
"Akan ku tutup semua mulut kalian" Gumamnya mengingat cerita adiknya yang mengatakan mereka di cibir oleh orang. Mereka tidak tau saja, walau bukan dari biaya siswa Andre bisa menyekolahkan adiknya itu di sekolah termahal sekali pun.
Tapi untuk apa mendengar dan meladeni orang iri. Toh kita hidub di tengah banyak orang sirik, buat capek aja. Biarlah mereka berpikir semau mereka. Mereka ngerumpi di rumah orang mencibir sana sini.
Kerjaan kita selesai, pengalaman kita bertambah dan bagi mahasiswi seperti Yona dan Jema nilai yang penting tinggi. Sedangkan mereka yang sibuk ngerumpi akan kena marah sampai di rumah.
Kenapa tidak orang mereka ke asikan ngerumpi lupa anak dan suami di rumah. Nambah dosa lagi. Hahahah kasian sih ya orang orang yang mulutnya ember.
Yona tersenyum bangga membayangkan wajah ibu ibu ember itu kelak, secara dia mempunyai banyak perestasi. Ia membalik kursinya menghadap depan dan seketika wajahnya berubah tegang melihat orang yang sedang duduk menatapnya di sofa.
Sejak kapan dia kembali? Apa dia mendengar aku menjelekkan dia? Kenapa tidak bersuarab sih?Manusia tanpa ekspresi memang
"Disini tempat belerja bukan telfonan" Bukam menjawab malah menyindir, Delvin bangkit dari sofa menuju kursi kebesarannya.
"Maaf Tuan. Tapi sejak kapan anada kembali?" Yona berusaha memastikan sampai di mana laki laki itu menengar perbincangannya dengan Aga.
Delvin diam. Ia sudah sibuk dengan laptob di depannya tanpa peduli pada Yona. Yona yang merasa di acuhkan hanya diam dan mengotak atik hpnya. Beginilah nasib orang yang tidak di inginkan. Kerja hanya duduk dan memandangi Delvin.
Pacarnya? Lalu apa maksudnya tadi 'kita hanya terikat sebuah janji'? Siapa juga laki laki yang bersamanya kemarin? Jangan bilang gadis ini mengkoleksi calon suami. Kenapa juga mikirin dia.
Delvin menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia penasaran dengan seorang perempuan. Dia termasuk laki laki yang kategorinya tidak pernah pacaran. Langka dan jarang, laki laki jaman sekarang mana ada yang begituan. (Batin aku ya😂)
Delvin memang sengaja masuk tanpa menimbulkan suara karena ingin melihat sedang apa gadis itu. Setelah mengantar Haikel ia sempat bertanya kepada setaf sekertaris keberadaan Yona. Setaf itu mengatakan Yona sudah masuk sekitar 10 menit lalu.
__ADS_1
Telpon kantor di ruangan Delvin berbunyi, Yona langsung mengangkat panggilan yang memang sudah di letakkan di mejanya.
"Yona keruangan saya sekarang" Perintah si penelfon langsung lalu panggilan terputus.
"Ihhhh... " Yona mengembalikan gagang telpon ke tempat semula dan kakinya ia hentak sehingga menimbulkan suara berisik dari hak sepatu setinggi 3cm itu. Delvin yang menatapnya sedari tadi hanya menggeleng.
"Tuan saya permisi keruangan Direktur" Ijinnya pada Delvin yang hanya di tanggapi dengan anggukan.
"Anda memanggil saya?" Ucapnya setelah mengetok pintu dan Haikel mempersilahkan ia masuk. Wajahnya tidak bersahabat sama sekali.
"Buatkan saya buah" Perintah Haikel dengan wajah yang sama.
"Baik" Yona langsung pergi meninggalkan Haikel yang masih menatapnya bingung.
Apa ketampananku sudah berkurang? Parahnya lagi dia tidak pernah bisa memakai embel embel saat bicara padaku.
Haikel terlihat kesal, tapi lebih anehlagi orang yang melihat mereka pastinya. Tuan muda yang terhormat tidak pernah marah dengan hal itu bahkan sekedar menegur saja tidak. Aneh bukan?
Yona kembali masuk setelah menyiapkan permintaan Tuan muda itu, dengan di bantu oleh setaf sekertaris berambut panjang bergelombang yang biasa di suruh Delvin.
"Ini buahnya" Ucap Yona sambil meletakkan nampan berisi macam macam buah itu di meja sofa, ia sendiri berdiri di dekat sofa menunggu Tuan muda terhormat makan buah.
Saat Tuan Muda makan jangan tinggalkan. Berdiri di sebelahnya atau di belakangnya.
Ada tertulis perintah itu di kertas yang di bacanya tadi. Untung saja ia bisa mengingat sedikit. Memang kemampuannya menghapal patut di acungkan jempol tapi ini belum sampai sehari mana mungkin dia menghapal peraturan yang sebanyak Undang Undang itu.
Haikel bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang sebelah tempat berdiri Yona.
"Duduk" Haikel menunjuk ruang kosong di sebelahnya. Walau sedikit terkejut Dengan bodohnya Yona duduk di sebelah Haikel.
__ADS_1