
Seminggu telah berlalu, hari ini Yona dan Jema mulai magang. Hari pertama mereka di antar oleh Andre. Di sini lah mereka sekarang, perusahaan terbesar di kota itu.
Seorang wanita megantar mereka ke bagian yang membutuhkan, dengan menaiki life karyawan. Wanita itu menekan angka 30, mereka sedikit terkejut. Angka itu yang artinya mereka menuju lantai teratas gedung.
Bukankah lantai itu ruangan Direktur? Pikir mereka bersamaan. Mereka hanya menebak apa yang akan terjadi, enggan bertanya pada wanita itu. Tadi saja wanita itu hanya memperkenalkan namanya.
"Perkenalkan saya Sanya, mari ikut bersama saya"Hanya itu yang di ucapkannya. Wajahnya tidak terlihat ramah sama sekali.
Ting....
Life terbuka, pemandangan yang pertama mereka lihat meja di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Direktur. Tidak jauh dari ruangan itu yang berhadapan dengan meja didepan ada sebuah ruangan lagi.
"Kak, satu anak magang di tempatkan bersama kalian di sini" Kata Sanya setelah sampai di meja depan ruangan Direktur. Kedua wanita yang duduk di sana saling berpandangan, terlihat wajah mereka terkejut.
"Baik" Kata kedua Wanita itu bersamaan. Jika dilihat dari wajah mereka, Ketiga wanita itu mungkin masih berumur 25 keatas tapi belum sampai kepala tiga.
"Jema silahkan gabung bersama mereka dan Jesi ikut saya" Kata Sanya.
"Ya" Yona menatap Jema sebentar, ia mengikuti langkah Sanya. Siapa sih wanita ini? Cara bicaranya angkuh. Cibir Yona.
Tok... Tok..
Sanya berhenti di depan pintu sebelah ruangan yang bertuliskan Direktur.
"Masuk" Mendengar suara dari dalam Sanya membuka pintu perlahan dan melangkah masuk, Yona mengikuti dari belakang.
Melihat wanita ini saja membuatku takut, apa orang di dalam lebih seram dari wanita ini? Ruangan siapa sebenarnya ini? Batin Yona. ia menundukkan kepalanya saat sampai di dalam, bahkan menatap orang yang ada di ruangan itu ia takut.
"Permisi Tuan. Ini anak magang yang Tuan minta"Kata Sanya
"Kamu boleh kembali" Kata Orang itu.
Dari suaranya ia pasti laki laki. Tunggu, suara? Sepertinya suara itu tidak asing di telinga ku. Batin Yona.
"Saya permisi tuan" Yona tersadar dari lamunannya mendengar suara Sanya.
Sampai pintu tertutup Yona masih berdiri dan menunduk, hanya ada keheningan didalam. Merasa di perhatikan Yona akhirnya mengangkat kepalanya.
Wajah Yona terlihat terkejut bercampur penasaran dan bingung. Hal pertama yang ia lihat, Laki laki bermata Abu abu yang menatapnya lekat. Mata mereka bertemu, tidak lama Yona langsung mengalihkan perhatiannya menyadari itu.
Laki laki itu ialah Delvin, orang yang membuatnya gusar beberapa hari lalu. Bukan itu yang penting sekarang, siapa sebenarnya orang ini dan apa jabatannya di sini. Satu lagi apa laki laki modus itu juga ada?
__ADS_1
"Apa kamu hanya ingin berdiri di situ?" Tanya Delvin dengan wajah dingin.
"Maaf Tuan" Hanya itu yang bisa di ucapkannya saat ini. Pikiranya masih jauh meraba kemungkinan.
"Mejamu ada di sana" Delvin menunjuk sebuah meja. Yona mengangguk dan berjalan ke meja tersebut.
Setelah duduk di kursinya, ia memperhatikan ruangan itu.
Meja kebesaran Delvin, di sebelahnya ada rak yang diyakini tempat dokumen. Tidak terlalu besar dan di sebelah rak itu mejanya. Di tengah ruangan ada sofa. Yang membuat Yona penasaran sebuah pintu di belakang meja Delvin.
Mungkin kamar mandi atau kamar tidur. Namanya juga Orang kaya, di bengkel kak Andre aja ada kamar.
"Baca kertas itu" Delvin menunjuk tumpukan kertas di atas meja. Yona mengambil kertas itu.
"Disana sudah tertulis cara kerja dan pekerjaan kamu" Ia menatap Yona yang menatapnya juga.
Hari pertama langsung begini, bahkan tidak ada perkenalan.
"Baca kertas itu, bukan Wajah saya" Masih dengan suara datar dan wajah dinginnya.
Yona mengalihkan pandangannya pada tumpukan kertas itu sambil membaca satu persatu. Delvin masih setia memabdang wajah Yona yang berubah ubah.
"Mau dapat nilai bagus jangan banyak perotes" Kata Delvin. Wajahnya seakan membuat Yona ingin menarik pipinya agar tersenyum.
Delvin kembali pada pekerjaanya, Yona hanya diam memperhatikan tanpa tau apa yang harus di kerjakan. Bertanya? Heh... sudahlah, wajahnya saja membuat orang malas.
"Antar ini keruang Direktur"Perintah Delvin meletakkan beberapa dokumen dimejanya, tanpa melihat Yona.
Yona yang sedang membolak balik kertas di tangannya menoleh tanpa bicara.
"Minta tanda tangan lalu bawa lagi kesini" Perintahny lagi karena tidak ada sahutan.
"Baik" Yona mengambil dokumen itu lalu melangkah ke pintu,sebelum ia membuka pintu langkahnya terhenti karena Delvin.
"Jangan banyak bicara, Tuan sangat kejam. Kamu sudah membaca peraturan tadi, jadi ingat itu" Peringat Delvin.
"Ia Tuan" Yona membuka pintu dan menutupnya lagi.
Aku tidak akan lupa. Isi kertas yang mengatakan bahwa dia Kaisar. Menyebalkan.
Yona masih berdiri di depan pintu, tiga pasang mata sedari tadi mengawasinya. Sadar akan hal itu ia menoleh dan tersenyum kecil ke arah dua setaf sekertaris dan Jema.
__ADS_1
Wanita tadi dan laki laki itu sudah seperti itu, bagaimana dengan Direktur ya? Hiks...
Ia berjalan perlahan menuju ruangan yang bertuliskan Direktur, tanpa mempedulikan orang yang berada di meja redepsionis. Mereka memperhatikannya dengan lekat.
TOK... TOK... TOK..
"Masuk"Suara laki laki.Batin Yona.
Ia membuka ruangan itu pelan lalu berjalan masuk.
"Permisi Tuan" Ucapnya membungkuk. Laki laki itu masih membelakanginya.
"Ini Doku.." Ia tidak meneruskan ucapannya melihat orang di depannya yang sudah berbalik dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Kamu?"Pekik Yona dengan suara tinggi dan tangan terangkat menunjuk orang itu. Laki laki itu ia lah Haikel.
"Pelankan suaramu, ini dikantor" Katanya santai.
"Maaf, dokumen ini butuh tandatangan" Yona menyerahkan Dokumen di tangannya. Haikel menerimanya tanpa bicara.
Kenapa aku bisa lupa? Delvin sekertaris Haikel. Batinya menjerit mengingat percakapan kakaknya bersama Jema seminggu lalu.
"Ini" Haikel menyerahkan kembali dokumen itu pada Yona.
"Saya permisi" Pamit Yona, ia mengambil langkh seribu agar cepat pergi dari sana.
"Bagaimana bisa ada gadis sepertinya?" Gumam Haikel, setelah pintu tertutup.
"Berat sekali mulutnya mengatakan Tuan Atau apa" Haikel masih mencibir sendiri.
"Aaaaaaa...." Yona sedikit berteriak dengan memukul kecil kepalanya, setelah menutup pintu. Setaf sekertaris dan Jema sedikit kaget melihat Yona. Terlihat wajahnya yang lelah, padahal siang pun belum tiba.
Ingin Jema menghampiri, tapi dis tidak punya keberanian karena setaf sekertaris itu hanya diam. Yona yang melihat mereka tersadar, ia membetulkan rambutnya dan mengubah ekspresi wajahnya.
BAM...
Pintu terbuka sedikit kasar tanpa ada yang mengetok. Delvin yang serius dengan Laptopnya keget, menoleh ke arah pintu. Yona masuk dengan wajah kesal. Hanya sekilas wajah itu kembali seperti semula.
"Maaf Tuan" Katanya melihat wajah dingin Delvin, tapi dari suaranya tidak ada rasa gentar sama sekali.
"Ini Tuan" Katanya lagi sambil menyerahkan dokumen di tangannya. Karena tidak ada tanggapan dari Delvin ia memutuskan pergi ke mejanya.
__ADS_1