Tuan Muda Demi Sekertaris

Tuan Muda Demi Sekertaris
Sayang


__ADS_3

Waktu terus berputar, tidak terasa sang mentari kembali ke persembunyiannya digantikan oleh rembulan dan bintang bintang. Yona, Jema dan Andre sudah ada di kediaman mereka, Setelah bersiap dan selesai masak Yona memanggil Andre kekamarnya.


"Kamu tidak dengar peringatan darisaya" Yona menghentikan langkahnya saat mendengar suara kakaknya, ia berhenti didepan pintu yang sudah ia buka. Andre sedang menelfon dengan posisi membelakangi pintu tapi, terlihat jelas kemarahan dari suaranya.


"Saya tidak mengijinkan, apapun alasannya" katanya lalu langsung mematikan panggilan. Ia sadar ada Yona di pintu, masih banyak yang ia ingin ucapkan namun menyadari kehadiran sang adik ia memutuskan mengakhiri panggilan.


"Yona? Sudah lama?"tanya Andre saat berbalik badan, menghadap Yona. Seakan terkejut melihat keberadaan Yona ia bertanya dengan wajah sungguh tidak sadar ada Yona sedari tadi.


"Tidak"jawab Yona sambil menggeleng


"Kenapa tidak bicara?" tanya Andre lagi sambil berjalan ke arahnya.


"Aku tidak ingin mengganggu kakak. Siapa?" Tanya Yona menunjuk Hp yang dipegang Andre


"Karywan bengkel"jawabnya sekenannya


"Kok marah marah?"


"Biasalah, mereka pinjem mobil di bengkel lagi"Katanya, tapi ia tidak berani menatap Yona.


"Makan yuk, udah laper"Ucapnya mengalihkan pembicaraan, Andre langsung menarik tangan Yona keluar kamarnya. Yona hanya menurut dan tidak membahas lagi. Baginya itu tidak penting. Biarlah itu jadi urusan Andre pikirnya.


Mereka turun menuju meja makan dan setelah makan malam selesai mereka kumpul di ruang keluarga. Becanda dan tukar pikiran, pukul 09:00 mereka akan beristirahat di kamar masing masing.


Seperti hari sebelumnya pagi ini Yona dan Jema kembali ke perusahaan besar itu, hari ini Yona tidak berpura pura lagi. Mau bagaimana, ia harus melupakan kepura puraan yang ia buat karena paksaan kakak tercinta.


"Pagi" sapa mereka kepada dua staf Sekertaris. Setelah di sambut selamat pagi oleh kedua orang yang sudah lebih dulu datang itu, Jema dan Yona menuju tempat masing masing. Hari ini mereka agak kesiangan karena berdebat dengan Andre masalah kaki Yona.


"Ahhh" Yona menghempaskan bokongnya dengan kasar di kursi. Pikirannya kacau,tidak tau apa yang mengganjal. Terlebih lagi saat mereka menginjak kaki pagi ini di kantor yang menjulang tinggi itu. Tatapan orang orang yang sudah hadir tidak seperti biasanya.


Mulai dari lantai dasar, sewaktu naik life, Yona merasa ada yang aneh dengan tatapan semua orang. Begitu juga dengan kedua staf Sekertaris, mereka tidak seramah biasanya.


"Kenapa aku merasa tidak tenang?" gumamnya. Ia ingin pulang, kembali ke tanah kelahirannya, tidak tau apa pemicu dari kegelisahan itu. Sebelum pergi ia sempat menghubungi orangtuanya takut ada yang terjadi, mereka berkata baik baik saja. Lantas apa yang terjadi sehingga ia ingin sekali pulang saat ini juga.


Saking gusarnya Yona tidak sadar sedari tadi Delvin memperhatikannya, pintu sengaja ia buka lebar tadi. Matanya masih terpejam menghadap langit langit ruangan dan jemarinya mengetuk ngetu ngetuk meja tidak bisa diam, juga kaki terus menimbulkan suara di bawah meja.


Delvin hanya diam terpaku didepan pintu menatap lekat padanya, Delvin tersenyum melihat wajah Yona yang berubah ubah dengan mata terpejam.


"Ehem"dehem peria bermata abu abu itu setelah kesadarannya kembali, wajahnya kembali seperti semula datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Pak Delvin?" ucap Yona tersadar dari lamunannya, ia segera berdiri.


"Selamat pagi Pak" ucapnya seramah mungkin mengusir kecanggungan. Bagaimana tidak ia merasa tidak menghargai atasannya itu.


"Emm" hanya kata itu yang keluar dari mulut peria dingin itu, sambil berjalan kearah kursi kebesarannya. Setelah itu hanya keheningan yang ada di ruangan itu.


"Bersiaplah kita akan pergi" Ucap Delvin memecah kesunyian. Yona yang mendengar itu langsung menoleh dengan tatapan bingung.


"Kemana Pak?"


"Menemui klain" katanya datar.


"Apa saya harus ikut?" tanyanya lagi sopan dengan senyum mengembang, padahal batinnya sudah menggerutu. "Apa urusanya denganku? Lagian kenapa aku harus ikut? "


"Ya" Jawaban singkat namun membuat panas hati Yona, bagaimana tidak sedari tadi atasannya itu tidak melihat ke arahnya saat bicara. Jawabannya juga hanya singkat tidak menjelaskan apa apa.


"Saya hanya anak magang pak, lagian saya tidak berani. Pengalaman kerja saya masih minim" ujarnya berharab tidak di ikut. Lagian di perusahaan mana anak magang ikut serta bertemu klayn.


"Ini perintah Tuan"


"Hehhh. Apa lagi yang kau rencanakan Tuan raja tega?" batinnya


"Jangan salahkan saya jika ada masalah nantinya, ini perintah Tuan dan Bapak menyetujuinya jadi, jika ada masalah bapak yang bertanggung jawab" ancamnya, masih berusaha bisa lolos.


"Saya akan bertanggung jawab dan nilai kamu jadi taruhannya"jawab Delvin, menatapnya dengan senyum yang sulit di artikan.


"Hai Pak, tidak adil" Yona memanyunkan bibirnya dan tangannya dibawah meja mengepal menahan kesal.


"Sudah tidak usah cerewet, kamu cukup diam, perhatikan dan lakukan yang diminta" peringat Delvin sekaligus menenangkan Yona yang ia rasa kawatir dengan sikapnya yang bicara semaunya.


"Satu lagi, Jangan panggil saya 'Pak'. Saya buka Bapak kamu" Ucap Delvin lagi, keberatan dengan panggilan Yona padanya.


"Terus panggil apa? Tuan?" tanya Yona


"Tidak" Delvin tidak mau di panggil Tuan, tidak tau alasannya bahkan di sendiri tidak punya alasan.


"Lalu?" Tanya Yona bingung. Panggilan apa yang di berikan orang kepada atasannya memang? Dia sangat bingung.


"Om? Paman? Bos? Ibuk? Atau Tante" tanyannya lagi karena tidak ada jawaban dari Delvin, tawanya pecah setelah mengucapkan kata terakhir.

__ADS_1


Delvin menatapnya tajam.


"Tidak ada yang lucu, cari panggilan yang lain. Mulut kamu memang ya. Gak bisa direm"


"Ais... ribet banget. Bapak udah kayak di novel Romantis aja, kayak perjodohan gitu. Mintak di kasih panggilan kusus aja"omel Yona, mereka sungguh seperti pasangan sewaktu bicara. Tidak terlihat bahwa Yona adalah bawahannya atau sebaliknya.


"Jawab yang saya minta aja. Kamu terlalu banyak bicara" kata Delvin datar


"Susah. Yaudah Sayang aja"kata Yona. Ia hanya asal jawab, mengingat kejadian dalam novel romantis yang sering ia baca. Kata itu yang selalu di inginkan pasangan mereka. Tapi, ia salah. Ini bukan tentang perjodohan dan sejenisnya.


Delvin tersentak dan menatapnya lekat, ia langsung menghentikan aktifitasnya.


"Apa gadis ini serius? Aku tidak salah dengar?" batinnya


"Apa?" tanyannya dengan ekspresi kagetnya


"Hahahahh. Susah Pak, nanti aja saya cari panggilannya. Lagi malas mikir"ucapnya canggung dan malu. Tapi lihatlah wajah polosnya yang menyembunyikan beribu rasa malu itu, memang paling bisa menyembunyikan kelemahannya.


Setelah perdebatan yang panjang yang selalu ada jawaban dari gadis pembangkang itu, Delvin adalah pemenangnya. Mereka berangkat dengan mobil Haikel yang di kendarai oleh Delvi. Delvin dan Yona di depan dan sang Tuan muda di bangku penumpang duduk santai.


Ada yang berbeda kali ini, mulai dari mereka berangkat dan duduk di cate bersama bahkan sampai pulang menemui klain Haikel tidak ada berdebat dengan Yona, bahka bicara sepatah katapun tidak. Yona hanya acuh dengan sikap Tuan Muda yang ia sebut Raja Tega.


"Dasar aneh, kenapa aku harus mengikuti mereka? Padahal kerjaku hanya melihat, menyimak dan duduk tanpa melakukan apa apa" gerutu Yona dengan wajah kesalnya. Ia sudah kembali ke ruangan Delvin, karena Delvin memerintahkan ia agar keruangan lebih dulu.


Dilain tempat Tuan muda sedang tertawa puas ditemani Sekertarisnya yang hanya diam tanpa ekspresi. Mereka menatap layar yang menampilkan CCTV di laptop. Mereka adalah Haikel dan Delvin, melihat ekspresi kesal Yona adalah hiburan yang sangat menyenangkan.


"Dia bisa bersikap sopan ternyata" ujar Haikel, tawanya sudah berhenti ia kembali mengingat kejadian saat di Cafe. Yona sangat sopan dan ramah pada klain mereka. Memang klain itu sudah berumur, sekitar empat puluhan. Delvin hanya diam menanggapi Tuan mudanya.


"Padahal disini dia sangat judes" ucapnya lagi.


"Mungkin karena pertemuan pertama kalian yang kurang mengenan Tuan" Ucap Delvin, yang di angguki oleh Haikel tanda mengerti. Dia terdiam dalam lamunannya, bayangan tentang gadis yang sedang mereka lihat melalui CCTV itu berputar di ingatannya.


"Benar juga" ucapnya dengan sedikit senyum di wajahnya. Ya. Dia sadar pertemuannya dengan Yona yang tidak mengenankan adalah pemicu sikap kurang ajar gadis itu. Padahal semakin lama mengenal gadis itu ia sadar, Yona adalah gadis yang berbeda. Sikap ramah dan sopan santunnya berbeda dengan wanita yang sering ia temui.


Kedua peria itu masih setia memandangi layar yang menampilkan gadis bernama Yona. Ponsel gadis itu berbunyi, Yona meraih benda pipih itu. Wajah kesalnya seketika sirna berganti dengan senyum bahagia.


"Hayyy"sapa Yona dengan senyum mengembang menghiasi wajanya, Haikel penasaran dengan si penelfon. Bagaimana wajah gadis itu berubah.


"Hahahahh..." tawa lebar gadis itu, menambah rasa penasaran Haikel. Ia berdiri dari duduknya, melangkah menuju kursi kebesarannya. Setelah sampai di sana ia merai telpon kantor memanggil seseorang. Beberapa kali dering tidak ada yang mengangkat, sehingga Haikel mengendus beberapa kali.

__ADS_1


"Keruangan saya sekarang" perintahnya setelah panggilan tersambung. Tanpa mendengar sahutan dari seberang ia langsung mematikan panggilan sepihak. Delvin masih duduk disofa, hanya menatap bergantian Haikel dan layar Laptop di depannya.


__ADS_2