Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 1 ~ Donat dan Teh Rosela (Boby POV)


__ADS_3

***Untuk kamu yang mendengar ini


Kamu mungkin menyangka aku sudah lupa


Atau bahkan, saat ribuan bintang di langit mengatakan hal yang sama tapi kamu tetap percaya


Tapi, dalam kesendirian yang melelahkan ini aku selalu mengejarmu


Aku selalu berada di kejauhan yang membuatku tak nampak oleh kelopak mata indahmu


Apakah kamu tahu?


Setiap aku mendengar sesuatu yang mengira aku tak lagi berada ditempat itu


Aku merasa jika kakiku hanya mengejar fatamorgana yang membahagiakan


Tapi, saat aku bisa meyakinkan diri jika ini bukan efek Mandela, aku merasa lega


Kadang aku masih berpikir


Apakah disana, ditempatmu berada kau masih bisa mendengar aku yang sedang bernapas untukmu?


Apakah, cerita yang kita tulis dengan pena akan kita baca bersama dikemudian hari?

__ADS_1


Hanya sekedar tanda tanya yang aku sendiri masih penasaran akan jawaban pastinya


Sepertinya aku harus mengatakannya


Aku, tidak memintamu menungguku


Tapi, aku sedang berjalan ke arahmu


Berusaha menggapai bintang paling terang yang pernah ku lihat


Dari seseorang yang tinggal di kubah bulan dengan tenda berwarna abu-abu***


Aku terdiam cukup lama di depan toko familiar yang menghentikan langkahku. Cat nya sudah berganti warna. Sebab, terkahir ku ingat, disini masih pastel dan kini berwarna cokelat tua. Selera pemiliknya rupanya telah berubah.


Langit sore ini mendung dengan sedikit gerimis yang begitu deras. Orang-orang juga masih berlalu lalang melewati jalanan didepan ku. Sementara dia, masih saja sibuk menaburkan gula halus di atas donat panas yang baru di angkat oleh sahabatnya.


Itulah cara dia makan donat goreng. Selalu membuat gulanya meleleh karena panas. Dengan seduhan teh Rosela, dia pasti akan begitu lahap menikmatinya. Apalagi, sore ini gerimis cukup deras. Bukankah, itu adalah waktu yang cukup pas untuk sedikit bersantai dari berjualan pastry?


Bahkan air mengering tanpa aku sadari. Rupanya matahari sudah terbenam saat dia mulai merapikan kue yang ada di rak dan menutup tirai tokonya. Dia berjalan keluar dengan tas mungil yang menggelayut di tengah tangan dan pinggangnya.


"Aku duluan ya?"


Sahabatnya, mulai menjauh dari sana. Beberapa saat, aku bahkan tak lagi melihat bayangannya.

__ADS_1


Dia masih sibuk memainkan ponsel. Mungkin, dia sedang membalas pesan atau sejenisnya. Sampai-sampai dia tidak menyadari keberadaan ku yang sudah berdiri cukup lama didepannya.


Dia mulai menatap mataku nanar. Seseorang yang mungkin baginya sudah lenyap, tiba-tiba berdiri memandanginya dari jarak sedekat ini. Aku percaya, dia sedikit kaget.


"Boby?" Tanyanya dengan datar.


Aku tersenyum. Dia masih bisa mengenaliku rupanya. Aku akui, aku lega karena itu.


Meskipun tak percaya dan ini seperti mimpi. Nyatanya, dia terlihat terpukul. Kembali bertemu denganku saat dia mungkin sudah tak ingat pernah mengenalku.


"Bagaimana kabarmu?"


Dia masih terdiam. Mata nanarnya perlahan tergenang air mata bening yang siap tumpah namun dia tahan. Dia lemas mendapatiku adalah kenyataan yang harus kembali dia lihat setelah sekian lama.


Segukan tangis akhirnya pecah. Dia tersedu ditengah derasnya hujan yang tiba-tiba turun.


Langit muram dengan tetesan hujan. Pintu-pintu toko sebagian mulai tertutup. Lampu-lampu jalan juga sudah menyala terang. Hingga membuat buih hujan semakin terlihat jelas menerpa wajahnya yang mengurung kesedihan.


Dia menangis tersedu dengan perasaannya yang tak bisa ku tebak. Setelah menghapus air mata, dia langsung mengejarku yang masih diam ditempat. Dia memelukku dan terus menangis. Bisa kurasakan, dia takut jika aku kembali pergi. Pergi jauh meninggalkannya tanpa kepastian.


"Kenapa kamu baru pulang sekarang? Kamu kemana Bob? Kamu pergi kemana? Kenapa aku tidak bisa menemukan kamu?" Berondong bibirnya yang basah karena air hujan.


Dia masih saja menangis meski aku membalas erat pelukannya. Dia begitu takut.

__ADS_1


Hujan masih saja mengguyur meski hari sudah beranjak malam. Dalam keheningan air hujan berlatar langit hitam bercampur abu. Dia menangis dalam pelukanku untuk waktu yang cukup lama.


__ADS_2