
*Hari baru untukmu sekarang. Saat kami datang dan berkata 'selamat pagi'. Kami kembali untuk bertanya bagaimana kabar tetangga sebelah. Lalu, setiap hari, terik panas dan kamu bisa membeli sekaleng soda. Menikmatinya bersama teman dan saling mengatakan jika kalian tidak begitu suka dengan sodanya.
Sinar matahari sudah masuk musim panas. Bahkan di malam hari kamu bisa mendengarkan dengan mengipaskan kardus. Sambil berkata 'oh, baiklah. Hari ini memang sedikit panas'. Sebelum keluar dan kembali membawa sesuatu yang dingin. Apa itu? Aku kira itu bukan es balok. Itu seperti udara dingin yang sangat sejuk. Begitukah*?
Boby masih sibuk dengan kreasinya pada cupcake di hadapannya. Guratan glaze berwarna hijau muda dengan taburan sprinkle warna-warni. Seperti bisa ku lihat, mungkin hari ini Boby melihat pelangi yang sangat indah. Bukan di langit, tapi entah dimana.
Setelah selesai, dia mengantarkan padaku dengan girangnya. Pria seperti ini sangat pas dengan celmek abu-abu bergurat hijau toska dan kotak kayu berisi sesuatu yang manis. Mengharapkan pujian dariku atas karya seni yang dia buat di atas cupcake itu.
"Apa?"
Aku heran namun berusaha sekuat tenaga menahan tawa yang siap meledak. Aku benar-benar ingin tertawa sekarang.
Boby hanya tersenyum menutupi malu yang membuat satu tangannya menggaruk tengkuk lehernya.
Satu kotak sudah memenuhi rak kayu tempat kue-kue bertengger. Sekarang Boby kembali ke dapur dan memenuhi meja dengan adonan baru yang siap dia sulap.
Beberapa menit sepertinya terlalu cepat. Aku juga ikut geram saat melihat tangan Boby begitu lihai membuat kue-kue cantik itu. Dengan adonan, warna yang cantik, isian, selai dan beberapa permen. Dia memandangku. Mengatakan dalam matanya jika aku bisa ikut bergabung.
__ADS_1
Disanalah aku sekarang. Berdiri bersama Boby dengan cekatan. Kami membuat kue dengan begitu bahagia. Menikmati betapa susah payah dan sabar untuk bisa membuat satu kue yang sempurna. Saling menyiapkan satu dan yang lain.
Ku lihat, beberapa anak TK masuk. Aku bergegas menghampiri mereka yang langsung berlari ke rak kue.
"Apa ini, memutar dan sedikit manis."
Seorang anak perempuan menunjuk krim kue ditangannya yang mengelilingi bolu dan berhias cokelat blok.
"Kakak, di atas ada pelangi."
"Apa kamu menyukai yang seperti ini?"
Aku berharap anak-anak tertawa menjawab pertanyaanku yang begitu tulus. Sampai, semua anak yang datang mengangkat tangan mereka sambil girang bukan kepalang. Guru-guru mereka juga tak kalah tersenyum. Sampai beberapa menit setelahnya, dengan dua bungkus di tangannya, mereka menutup pintu toko dan pergi.
"Ternyata, kamu memiliki selera seperti anak TK."
Boby mendekat dengan sekotak kue yang baru saja dia angkat. Dia lumayan cepat juga dengan pekerjaannya dan aku hanya tersenyum.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Kamu bisa menyebutnya, vintage. Aku suka hal-hal seperti itu."
Aku menaruh satu kue di mulutku. Bentuknya begitu menggoda mata hingga lidahku tak bisa menolaknya.
Begitu masuk ke dalam mulutku, aku bisa merasakan lelehan mentega yang begitu gurih. Serta kenyal kismis dan taburan keju kering.
Aku terbelalak saat menyadari potongan terkahir sudah habis di tanganku.
"Aku bisa jamin, semua orang akan suka dengan ini. Kamu bisa tahu, bagaimana?"
Boby tertawa kecil. Wajahnya lantas pergi kearah dedaunan di pohon depan toko. Bergoyang dengan sedikit mesra karena sayup angin. Beberapa juga terjatuh karenanya. Warna hijaunya mulai sedikit menguning dengan batang cokelat. Teriknya sinar matahari bahkan terlihat seperti semburat emas yang sangat menyilaukan, menerpa pohon itu.
Radio kembali berceloteh. Memperdengarkan sebuah lagu klasik yang sangat familiar. Mengiringi saat-saat ini dengan ungkapan yang tak bisa ku tirukan. Penyiar-nya memang pandai berbicara. Begitu mudah menggambarkan, jika hari ini mulai tidak biasa. Dengan udara panas dan beberapa kotak kue yang berjajar di rak kayu.
Pintu toko terbuka, dan tirai berwarna pink tergerai. Saling menatap jalanan lengang yang terlihat panjang. Aku dan Boby bisa melihatnya begitu jelas. Begitu jelas hingga pantulan masa depan bisa kami bayangkan disana. Entahlah apa yang akan terjadi. Aku berharap, itu hal baik.
__ADS_1