Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 17 ~ Sepadan (Astrid POV)


__ADS_3

Aku hanya mematung. Bahkan bisa ku dengar jelas suara di telingaku. Radio itu begitu dingin malam ini. Jalanan juga masih terasa lengang. Sungguh membuat aku merasa begitu sesak. Boby hanya diam menatapku seperti orang bodoh. Aku hanya memberinya isyarat, aku butuh penjelasan. Bahkan, saat kakiku berbalik dan melangkah pergi, dia tetap jadi orang bodoh.


Langkahku sedikit terhuyung beberapa kali. Betapa singkat kecupan bibir Ririn mendarat di bibir Boby. Begitu saja sampai aku tidak sempat melihat, bagaimana wajah Ririn saat melakukan itu. Dia benar-benar melakukannya. Itu sungguh di luar dugaan ku.


Di samping lampu jalan yang temaram. Ku pikir, jaraknya sudah cukup jauh untuk bisa menangis. Setidaknya menjatuhkan sedikit air mata yang menimbun di kelopak mataku. Di bawah sanalah, aku menangis. Menangis kenapa hatiku merasakan sakit yang begitu dalam. Ini tidak begitu sakit, tapi sangat menusuk di bagian itu.


Pagi datang seperti biasa. Aku sibuk dengan keyboard dan paragraf yang harus aku edit pagi ini. Lalu, dia datang memberiku segelas kopi. Duduk di samping ku dan menatapku sedikit intens.


"Ini tidak sepahit itu."


Feri mencoba menghiburku. Dia tahu mataku sembab dan menebak tangisanku semalam. Aku hanya tersenyum. Dia sudah berusaha.


Kuraih kopi itu dan tersenyum. Meneguknya beberapa kali setelah meniupnya karena masih panas.


Feri bangkit kemudian. Aku masih saja menikmati kopi itu. Sampai berbalik melihat pintu dan dia berdiri di sana. Menatapku dengan pasti.


Kopi yang ada di tanganku bahkan hampir jatuh. Tapi, aku bisa mengendalikannya. Aku mengetik keyboard itu, membiarkan Boby berdiri di sana.


Meskipun sedikit baik tapi kita tidak mendapat cukup surat pagi ini. Setidaknya, akan membacakan kisah yang membuat jantungmu menjadi sedikit gusar. Dengan daun-daun yang bergerak dan berjatuhan. Apa kamu suka kisah seperti itu? Itu tidak membuat romantis. Jujur saja, aku lebih suka cinta yang patah hati. Itu menggelikan bukan?


Siaran akhirnya berjalan dengan cepat dan sempurna. Lalu, sinar matahari yang masuk di antara meja kerjaku, hilang. Berganti cahaya kuning lampu. Aku masih duduk. Semua orang sudah pulang dan aku tidak mau mengangkat kakiku.


"Apa semuanya baik-baik saja?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


Feri menilik jam di dinding dan kembali mengarah padaku yang masih terdiam mengerjakan beberapa tugas yang seharusnya aku kerjakan besok.


"Tidak terlihat baik-baik saja?"


"Sedikit."


Feri tertawa kecil. Dia sangat jenius menebak isi hatiku.


"Katakan."

__ADS_1


Sekeras hati aku menggelengkan kepala. Menolak Feri yang memintaku mengatakan semua masalah yang menggangguku.


"Baiklah, aku ada di atas saat kamu sudah selesai."


Feri menepuk pundak ku dan pergi kemudian. Aku sibuk begitu saja. Terlalu menikmati pekerjaan yang menumpuk sampai tidak sadar, Boby berdiri di belakangku.


Aku menoleh saat melihat pantulan dirinya di layar komputer. Jujur saja, itu membuatku sedikit kaget.


"Itu diluar kendaliku."


"Aku rasa semuanya baik-baik saja."


"Begitukah?"


Boby terlihat sedikit kesal. Aku sibuk, terlalu sibuk untuk sekedar berbalik menatap wajahnya.


"Kamu pikir ini akan berjalan? Kamu pikir kamu bisa melakukannya? Ini yang kamu inginkan, hah!"


Boby mulai meninggi-kan nada bicaranya. Meraih lenganku dan memaksaku berdiri untuk mengarahkan wajahku tepat di depan matanya.


"Seeprti itukah? Apa ini begitu mudah, sampai-sampai kamu lupa dengan begitu cepat?"


Bukan seperti ini, aku mendorong tubuhnya dengan cepat dan langsung menamparnya sekeras yang aku bisa. Sesak sekali rasanya. Aku benar-benar merasa mengatakannya akan sia-sia.


Boby mematung. Tidak percaya telapak tanganku mendarat di pipinya. Bisa ku lihat jelas bola matanya menampakan warna merah yang begitu menyala. Dia marah.


Aku menunduk dengan senggukan tangis kecil setelah beberapa menit bayangan Boby tak terlihat. Lalu, seorang datang dan menarikku perlahan dalam pelukannya. Sampai aku tersedu meluapkan semua yang membuatku sakit, disana.


"Kamu bisa tinggal beberapa hari. Semua akan baik-baik saja selain kita akan sedikit lambat mengedit siaran."


Hibur Feri setelah menepikan mobilnya di jalanan dekat tempat tinggalku. Aku hanya tersenyum kecil. Memberinya balasan dan membuka pintu mobil.


"Kamu bisa menghubungi, aku di sana sepanjang waktu."


Salam Feri memberiku pesan. Aku hanya membungkuk menerima bantuannya yang bagiku lebih dari cukup. Lalu, mobilnya pergi dan aku tidak bisa melihatnya lagi.

__ADS_1


"Hai?"


Ririn menyapaku dengan hangat. Sepertinya dia sudah berdiri cukup lama di depan pintu.


"Hanya ini yang aku punya."


Ku letakan teh Rosela di atas meja. Tepat di depan Ririn duduk. Dia bahkan masih belum mengangkat wajahnya.


"Bagaimana harimu?"


"Baik saja."


"Aku sedikit berat belakangan ini."


"Itu bukan masalah."


"Astrid."


"Bagaimana jika aku menyukai Boby?"


"Lalu?"


"Aku minta maaf."


Aku hanya tertawa kecil. Menatapnya sekilas dan menarik cangkir tehku lalu menyesapnya. Menikmati udara malam yang menusuk. Menatap cahaya bintang di atas sana dan beberapa kali derik jangkrik. Kebiasaan di tempat tinggalku yang begitu membuatku terbiasa. Lalu, suara motor juga terdengar sekilas. Sebelum akhirnya menghilang pergi, tak lagi terdengar.


Aku sudah berdiri di ambang pintu saat Ririn memakai sepatunya. Dia bersiap pergi dan pandanganku mencegatnya.


"Terimakasih teh-nya."


Aku hanya diam. Anggukan kepala bagiku lebih dari cukup daripada menjawab ucapannya. Lalu kemudian, Ririn pergi.


Saat hari begitu sibuk dengan keadaan. Semua berkata jika ini adalah anugerah. Kamu tahu jika ada hal-hal yang membuat pekerjaan kita sedikit melelahkan, dan itu semua sepertinya balasan yang setimpal. Lalu, musim gugur datang dengan beberapa pohon yang terlihat kerontang. Batangnya juga cokelat. Tapi, di bawah sana, kamu bisa melihat ada beberapa rumput harum yang masih basah.


Aku tertawa, orang-orang ini benar-benar lucu. Kita akan mengejarnya. Tidak-tidak, aku tidak mau berlari. Itu melelahkan. Padahal hariku sudah cukup. Itu cukup, aku berkata jujur, tidak ingin merasakannya lagi.

__ADS_1


Berisik yang masih mau menemaniku dalam kesunyian malam. Aku tidak tahu, Boby atau Ririn. Bahkan aku tidak tahu apa itu Feri atau siaran ang akan datang dengan beberapa salah ketik. Merasa benar-benar sunyi dan ingin membuang yang membuatku terluka. Tapi, itu tidak merasa cukup. Sampai, tirai jendela bergerak karena angin, dan aku tersenyum. Di sana aku berhenti dan menikmatinya dengan tanpa sengaja. Aku berjalan perlahan mendekatinya dan membukanya dengan lebar.


Ku lihat jalanan di bawah sana, aspal yang hitam dan beberapa pagar besi. Lalu, lampu yang sama yang ku tatap setiap hari dan lagi, bayangan hitam masih ku lihat jelas berdiri di bawah sana. Menatapku dengan permohonan. Lalu aku tersenyum dan menitikkan sedikit air mata. Sebelum akhirnya, kakiku dengan cepat membuka pintu, menuruni tangga dan berlari ke dalam pelukan Boby, begitu saja.


__ADS_2