Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 14 ~ Ingkar Janji (Boby POV)


__ADS_3

Menyeduh teh Rosela yang masih sama. Meminumnya dan menatap matahari yang muncul perlahan. Udara sedikit dingin. Tapi bisa ku pastikan cerah di siang nanti.


Bukankah, aku bisa terlihat tampan dengan setelah jeans dan kaus putih ini? Aku begitu bangga karena sore ini aku akan bertemu dengan Astrid.


Bis berjalan dengan pelan sampai berhenti di halte berikutnya. Lalu, mencari jalan yang ku ingat untuk menuju ke toko Astrid.


"Bagaimana kabar anak kita yang satu ini?"


Aku hanya diam menatap mereka. Sangat tidak suka. Meskipun mereka pernah menjadi bagian dari hidupku. Tepat di bagian hidup tergelapku.


Kulihat perlahan. Satu persatu dari mereka mendaratkan tinju di wajah dan perutku. Aku berusaha membalas tapi tak bisa. Tenagaku tidak sebanding dengan jumlah mereka yang lebih dari tiga orang. Hingga aku terkapar di jalanan dan mereka tertawa gembira. Meninggalkanku seperti sampah yang harus di buang begitu saja.


Aku bahkan memintanya dengan baik. Berharap di masa depan juga akan terjadi hal baik. Tapi, semua hal baik tidak datang dengan cepat padaku. Semua menghukum dan memberiku ujian. Seperti aku tak berhak mendapat tempat yang baru.


Lusuh dan payah, ku susuri jalan yang basah karena hujan dengan beribu pemikiran. Berharap, Astrid tidak lagi melihatku, dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan berharap, pertemuan kami cukup sampai disini. Semakin hari, terasa sangat sulit. Sulit sekali mengatakannya. Aku takut kehilangan dia untuk kesekian kali.


Kaki akhirnya sampai di rumah. Membersihkan diri lalu duduk dengan diam. Sampai, terdengar dengan jelas radio di samping vas mulai berbicara.


Kita memerlukan itu kan?


Ya, seperti berhenti melakukan segala hal. Seperti kita sedikit membutuhkan waktu. Mengatakan pada diri kita jika hari masih sama seperti kemarin.


Aku mulai memakan sup yang masih panas. Meniupnya berharap cepat dingin karena perutku cukup lapar. Bahkan, untuk membuka mulutku, terasa sedikit sulit. Wajahku terlalu kaku dan nyeri karena luka itu.


Daun sudah berganti warna, apakah ini pertanda yang bagus? Aku melihat beberapa anak SMA begitu riang. Tapi, apa ini berhubungan dengan itu? Cinta pertama mereka? Ah, cinta pertama memang tidak pernah berhasil. Itu seperti melakukan ujian yang sangat sulit. Tapi, bukan berarti selalu berjalan buruk.

__ADS_1


Sendok akhirnya mendarat di atas mangkuk. Aku urungkan makan karena napsu makan ku lenyap setelah mendengar radio itu.


Waktu itu, adalah hari terindah dalam hidupku. Saat aku dan Astrid bertemu. Berpikir dia adalah keajaiban karena aku bisa mendapatkannya. Duduk di sana dan menyapanya.


Aku mulai ingat jika Astrid senang dengan suara radio. Ku tulis catatan kecil untuk menyampaikan semua hal yang tidak bisa ku katakan. Berharap saat sedang bersantai, dia bisa mendengarnya. Tahu alasan kenapa aku masih bersembunyi tanpa berani menemuinya, dan terduduk cukup lama untuk itu.


Suara jangkrik kian memekakkan telinga. Beberapa kali, juga sempat terdengar deru mobil meski hanya sesaat. Kemudian kembali pada derik jangkrik. Malam juga kian dingin, aku meringkuk memikirkannya. Benar-benar berharap banyak pada radio itu. Astrid ada di sana dan mendengarnya.


Halte bis berikutnya adalah pemberhentian ku. Setelah memastikan surat itu terkirim, aku berjalan menyusuri trotoar yang sedikit lebih ramai. Sampai tanpa sadar, aku malah berjalan ke arah toko Astrid.


Aku terdiam cukup lama sebelum menyadarinya dengan benar. Tokonya terlihat sepi. Sudah tutup, tapi pintu teralis terpasang. Aku bahkan lupa jika beberapa hari yang lalu, tidak ada teralis disana. Mendekatinya dan kemudian duduk di pelataran toko itu cukup lama. Mengenang masa-masa indah saat aku dan Astrid saling tersenyum untuk pertama kalinya. Menatap jalanan dimana kami berdiri satu sama lain sambil melihat ke arah tiang lampu tua yang cahayanya temaram. Lalu, asap teh Rosela masih mengepul dan kami tertawa sambil memasukan donat ke mulut.


Aku tertawa kecil sesaat. Menikmati rasa nyaman saat punggung ini bisa mencium teralis besi yang terpasang di toko Astrid sembari mengingat itu semua. Hal menyenangkan yang aku nikmati sesaat.


Aku terbangun ketika mendengar suara klakson mobil yang melewati jalanan di depan sana. Rupanya tertidur. Ku tengok jam dan menyadari ini sudah sangat malam. Hingga kakiku bangkit dan berjalan pulang. Kembali ke rumah.


Aku datang dengan rasa penasaran. Dimana studio itu berjarak cukup jauh dari tempat tinggalku.


Laki-laki itu lalu tersenyum setelah melihat surat yang ku kirimkan. Dia memintaku memberikannya izin untuk menulis novel dengan ide surat itu. Aku hanya tersipu. Tak pernah berpikir sejauh itu. Bagiku, Astrid mendengarnya, itu sudah cukup.


Setelah selesai, aku keluar dan di sana kembali bertemu. Tidak menyadari sedikitpun jika hal itu sangat tiba-tiba. Aku bahkan tidak tahu jika Astrid ada di tempat itu. Sebuah kebetulan yang mengejutkan. Ketika berharap tidak bertemu, kami justru saling menatap satu sama lain.


"Agak aneh.."


"Aku, juga."

__ADS_1


Astrid terdiam begitupun denganku. Kemudian, kaki berjalan begitu saja. Tanpa aba-aba, menyusuri gelapnya malam yang berhias lampu jalanan.


Dengan telaten, Astrid mengobati semua luka yang terlihat di tubuhku. Dia begitu cekatan. Aku memandanginya cukup lama. Menyadari, jika ada sesuatu disana.


Sedikit gemetar, juga merasa kelu di hadapan Astrid sekarang ini.


Sore itu.."


"Aku tidak pergi."


"Hanya berpikir begitu banyak."


"Aku ingin meninggalkan semua itu. Tapi, mereka tidak membiarkanku begitu saja. Aku sangat takut. Menjelaskan bagaimana keadaanku sampai memilih tidak datang."


Berusaha mengatakan semua hal yang membuatnya menunggu. Tapi, Astrid hanya diam tanpa suara. Sedikit tahu, jika mungkin dia lelah dengan sikapku. Dia tidak butuh alasan untuk itu.


Astrid bangkit dan meninggalkan obat-obatan itu di sampingku setelah pamit. Berjalan meninggalkanku seorang diri. Tanpa suara tanpa kata dan bahkan, tanpa memandangku untuk ke dua kalinya.


Teringat akan permintaan yang aku ucapkan. Tapi, bukan seperti ini. Tidak seperti ini cara yang seharusnya. Aku bahkan menghilang sebelum dia menyadari jika aku tidak disana. Aku benar-benar merasa terpukul.


Ku ikuti langkahnya dari kejauhan. Aku juga tahu, Astrid pasti menyadari jika aku berada di belakangnya. Tapi, dia memilih terus berjalan tanpa henti. Seolah memintaku mengejarnya yang takan bisa ku raih, meski hanya sebentar saja.


Dia sudah tidak terlihat didepanku. Sosoknya hilang setelah memasuki pintu tempat tinggalnya. Tapi, dari bawah sini, aku bisa melihat lampu menyala di sana. Memantulkan bayangannya dengan sangat jelas. Aku berdiri cukup lama. Sedikit lebih lama sampai Astrid membuka jendelanya. Duduk di sana dan memandang ke kejauhan yang aku tidak tahu.


Aku masih di sini bahkan saat tahu jika udara cukup dingin dan hari semakin larut. Begitupun Astrid, masih duduk di ambang jendela dan menatapku dengan cangkir ditangannya. Radio juga masih terdengar, mengalihkan pendengaran Astrid dari suara angin yang lewat dengan lantunan lagu malam pengantar tidur.

__ADS_1


Mata kami masih saling tertuju. Dia bangkit dan kemudian mematikan radio. Sebelum menutup jendela, dia sempat menghembuskan napas kasar dan tanpa permisi menutup jendela itu tanpa melihatku lagi. Lampu tempat tinggalnya perlahan padam satu persatu. Dia mulai merasa jika hari terlalu malam untuk duduk di sana dan memilih tidur.


Alih-alih pergi, aku masih saja seperti orang bodoh. Memilih tetap berdiri di sana dan menatap jendela Astrid. Lalu, merasakan angin menusuk telingaku dengan tajam dan berpikir, kesempatan apapun masih datang padaku. Itulah kenapa hari ini, Astrid dan aku tetap bertemu meski sudah menghindar begitu kuat.


__ADS_2