Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 2 ~ Di Tengah Pemukiman Padat (Boby POV)


__ADS_3

Setelah memberikan handuk untuk mengeringkan kepalaku, Astrid menawariku kopi. Aku menggelengkan kepala karena aku tak menginginkannya. Dia tersenyum dan pergi ke dapur. Beberapa saat, bisa ku dengar gelas berdenting terkena adukan sendok. Bau teh juga tercium dan begitu wangi. Aku bisa menebak dengan jelas, Astrid membuatkan aku teh Rosela. Ya, karena dia begitu gila dengan teh berwarna merah itu.


"Aku tidak percaya, kamu bener-bener disini, sekarang."


Astrid duduk di sampingku dan mengusap pelan pipiku. Dia masih percaya jika aku hanyalah bunga tidurnya yang tak nyata.


"Aku disini. Aku duduk disamping kamu sekarang."


Aku tersenyum dan menatap tajam lagi dalam pupil matanya yang begitu legam. Dia masih terlihat cantik, sama seperti terakhir aku melihatnya.


Kami pun mulai bercerita. Banyak hal mengenai kehidupan kami selepas kami saling berjauhan. Menceritakan hal-hal kecil yang tak pernah kami rencanakan sebelumnya. Bahkan, jauh dari sekarang. Kami tak tahu, jika suatu hari kami harus berpisah tanpa kabar dan tanpa aba-aba.


"Apa kamu sudah bosan dengan warna pastel, tokomu terlihat tua dengan cat cokelat."


Astrid tersenyum mendengar celotehku. Dia bergeming menatap kedepan. Setelah meniup teh Rosela hangat beberapa kali, dia menyeruput cairan berwarna merah muda itu dengan hati-hati.


"Kita butuh sedikit perubahan agar dunia tidak berhenti."


Astrid kembali melempar pandang padaku. Dia tersenyum dan aku tahu. Aku tahu dia mengatakan apa dibalik senyuman itu.


"Sebentar saja, aku hanya butuh waktu sebentar."


Astrid terlihat heran. Dia membelai keningku dengan hangat. Tangannya masih terasa menenangkan. Dia kemudian terdiam dari geraknya.

__ADS_1


"Aku penasaran. Apa yang kamu lakukan saat itu? Apakah, kamu benar-benar kesepian?"


"Tidak banyak, hanya diam menunggu sambil bertahan agar aku tetap hidup."


"Apa kamu juga bisa seperti itu?"


"Sayang sekali, aku tidak terlalu modern."


Astrid tertawa mendengar jawabanku. Dia tak percaya aku mengatakan hal kuno itu. Baginya, itu terlalu klasik di zaman yang serba canggih ini. Bahkan untuk menekan satu tombol saja, aku merasa sedikit gugup.


Hari yang tadinya sore berganti malam. Awan pekat pertanda hujan sudah hilang berganti dengan butiran bintang menghias langit. Suara derik jangkrik menggema ditengah pemukiman padat tempat Astrid tinggal. Hanya sesekali, suara orang berbincang yang kebetulan lewat, terdengar. Tak banyak juga, beberapa kendaraan bermotor juga lewat.


Astrid berjalan ke kamar sebelah. Aku masih duduk tanpa bertanya apa yang akan dia lakukan. Sampai, dia kembali menggendong setumpuk kasur lipat dan selimut di pelukannya.


"Kamu baik-baik saja."


"Bob?"


"Hem?"


"Aku baik-baik saja kan sekarang?"


"Hm."

__ADS_1


Astrid tersenyum. Dia meraih tanganku yang tidur dikasur bawah, di samping dipan tempat tidurnya. Dia masih menatapku sebelum akhirnya kelopak mata itu terpejam dan dia mulai terlarut untuk mengarungi mimpi yang dia inginkan.


Pagi masih temaram. Tapi, kesibukan dunia sudah terjaga begitu jelas. Dia terbangun sebelum aku sadar jika mentari sudah datang. Menyisir rambutnya yang bergelombang dengan warna merah gelap, Astrid meraih ikat rambut dan menguncir dengan cekatan.


"Hai?"


Dia lalu duduk di sampingku. Tersenyum dan untuk sekian kali menyentuh pipiku. Aku terbuka untuk melihat betapa bersinar wajahnya. Ditengah udara pagi yang masih sepi ku rasakan.


"Tidur nyenyak semalam?"


"Sedikit."


"Aku kedepan sebentar."


Aku hanya diam dan mengangguk. Sambil tersenyum dan kembali menenggelamkan wajahku kedalam bantal hangat milik Astrid.


Setelah selesai dengan sarapan. Astrid membawa piring-piring kotor dan gelas itu ke belakang. Ditaruhnya ke wastafel dan beberapa saat, ku dengar keran air mengucur. Dentingan piranti itu juga bisa kudengar. Aku menghampirinya dan mengamati bagaimana luwes tangannya mencuci semua benda-benda kaca itu.


Dia menoleh saat sadar aku bersandar di pintu dan menatapi gerak-geriknya.


"Apa?"


Dia terheran. Tapi, itu tidak cukup. Kami berdua malah tersenyum malu bersamaan. Butiran air melayang menghujam wajahku. Dari tangan Astrid yang begitu kecil, dia menciprat

__ADS_1


kan air itu agar bisa mengenai diriku. Aku menghindar dengan gesit. Tapi, dia tak berhenti. Ku tangkap tubuhnya dan kudengar tawa bahagianya. Sudah lama, cukup lama hanya untuk mendengar tawa ini.


__ADS_2