
Ini bukan tentang kita bertiga. Meskipun ini masalah yang sedikit lebih rumit, aku tidak memilih. Ini jawabanku sendiri, karena aku sudah tahu. Aku pasti akan baik-baik saja.
~Ririn~
Aku masih menggenggam surat Ririn di tanganku. Berdiri tepat di antara Boby dan Feri yang masih menatap arah, dimana Ririn menghilang.
"Bagaimana denganmu?"
Suara Feri menggoyahkan lamunanku. Dia menatapku begitu juga Boby. Membuatku heran dan sedikit tertekan. Lalu, kami bertiga berjalan ke tempat parkir dan Feri menderukan mesin mobilnya. Menyusuri jalanan ramai dengan hiruk pikuknya. Belum lagi, beberapa suara yang berantakan dengan cahaya lampu kelap-kelip di sepanjang jalan. Kedai-kedai makanan dan beberapa warung tenda kecil yang temaram.
Kami bertiga akhirnya sampai disebuah tempat langganan Feri. Menikmati semangkuk pancake dan beberapa kaleng soda. Sate yang masih tercium wangi dengan asap yang mengepul dan keadaan yang bagiku biasa saja.
"Ini sedikit ambigu."
Feri menatapku dengan binar yang begitu terpancar jelas.
Boby yang sibuk dengan pikirannya sedikit terhenyak. Menatap kaget ke arah Feri yang tidak peduli dengan hal di sekitarnya.
"Sekarang apa?"
Lanjut Boby menengahi kecanggungan yang semakin membuat diriku terpojok di sudut situasi.
Feri tertawa kecil menekuk wajahnya. Dia juga sempat membetulkan letak kacamata di wajahnya yang berbentuk bundar.
Aku meneguk soda-ku. Tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Baik Feri dan Boby mungkin ingin mendengarnya, tapi aku memilih diam. Hanyut dalam suara di depan sana yang begitu melelahkan.
__ADS_1
Aku bisa mengatakannya hari cukup baik. Melihat bagaimana orang-orang tumbuh dengan cepat. Sedikit lebih merasa lega. Ini seperti beban dari puncak gunung. Woa! Bukan begitu lebih baik? Disanalah kita akan tahu bagaimana hari yang akan datang bukan?
Apakah kamu juga bisa menulisnya menjadi catatan? Terselip di antara buku yang biasa dibaca dan baru memahaminya. Seperti mengatakan "oh, aku tahu sekarang" seperti itu.
"Aku sudah tahu jawabannya bukan?"
Boby membuka kembali pembicaraan. Membuat pandangan di mataku teralih padanya. Begitu juga Feri dengan kaleng soda di tangannya.
"Lusa aku akan berangkat wajib militer."
"Kehidupan tidak akan berhenti."
"Begitu juga dengan segala hal."
"Kadang ada sesuatu yang tidak bisa kita jalani namun terus memaksa keadaan. Itu sedikit menyakitkan."
Feri dan Boby menghentikan pembicaraan itu setelah mendengar tukas yang aku ucapkan.
"Aku harus pulang. Terimakasih untuk hari ini."
Aku bangkit setelah menghabiskan soda di meja. Memakai mantel dan berjalan keluar dari tempat itu. Di ambang pintu aku menarik dalam napas ku dan menengadah ke arah langit malam yang sedikit cerah. Berjalan pergi meninggalkan kedua orang yang masih terpagut di meja itu.
Beberapa hari yang membuat pekerjaan sedikit berantakan. Menyeduh teh yang sama dan menikmati hangatnya donat yang baru ku angkat dari penggorengan. Membuat taburan yang sempurna dengan gula halus yang terlihat seperti salju yang mulai mencair. Lalu, sibuk seperti biasa. Lupa dengan hal lain selain kehidupan membosankan di atas kertas dan papan keyboard yang berbunyi keras. Lalu, saat malam sudah datang. Aku mulai kembali menjalani mimpi dan terlelap bersama alam bawah sadar. Sedikit lupa jika di luar sana, aku sedang di hadang pada sebuah keadaan yang begitu rumit.
Pagi datang dengan sejuknya. Membawa kehangatan yang begitu jernih. Bersama kicau burung di langit dan daun hijau yang begitu gemersak tertiup angin. Aku bergegas mengunci pintu. Menuruni tangga dengan sepatu pantofel berwarna biru. Ya, berharap aku bisa terbang ke langit cerah di atas sana.
__ADS_1
Kembali duduk di bis yang sama. Berdesakan dan menikmati beberapa suara berisik yang sering ku dengar untuk menyambut hatiku.
Wanginya kopi membuatku begitu bersemangat. Aku akan melanjutkan surat yang sudah masuk pagi ini.
Halo, nona donat. Ini aku yang sedang duduk di atas pipa. Ini seperti benang yang kusut, bagiku. Aku juga tidak begitu tahu persisnya. Tapi, sungguh membuat otakku akan meledak. Aku juga tidak tahu bagian mana yang harus aku ambil. Di sana sudah seperti tempat yang hanya ada teh dan donat, seperti katamu.
Aku datar menatap jalanan di luar jendela bis. Mendengar lantunan penyiar yang setiap hari aku dengar suaranya dalam bis ini. Lalu, halte berikutnya tiba dan aku turun. Beberapa kali memutar ke tempat lain tapi hanya ada suara gemersak sampai aku tiba dan Feri menyambut kedatanganku. Dia menunjukan sebuah buku di tangannya. Lalu pergi setelah memberikan buku itu.
Rosella
Berbentuk kuncup merah denganĀ salju yang mencair.
Aku sedikit terkejut melihat sampul buku berwarna hijau muda itu. Langsung berlari mengejar Feri yang sudah ada di atas. Napasku bahkan sedikit tersengal setelah sampai di hadapan Feri. Feri tersenyum dan mengangguk lirih. Aku tersenyum begitu lebar. Langsung saja aku turun dari tangga. Bahkan aku tidak peduli jika aku terjatuh. Berusaha mencari taksi tapi tak juga lewat. Melihat jalanan yang sibuk dan begitu padat. Aku berlari sekuat kaki. Berusaha agar aku bisa cepat meski hanya satu menit saja.
Tak ada jalanan lengang. Bahkan aku harus turun ke jembatan dan memutar ke terowongan meski kakiku sedikit sakit. Aku sudah berlari cukup jauh dan peluh yang terus mengalir membuatku tertawa. Aku begitu lega, kelegaan yang sesungguhnya sekarang. Tidak terhimpit dalam pilihan apapun. Sampai kemudian, deru kereta terdengar. Tempat yang tidak asing saat aku melihat papan di atas.
Berusaha mencari wajah itu. Di antara kerumunan orang yang begitu banyak. Dia sudah melihatku dan berdiri dengan seragam tentaranya. Aku menangis haru dan langsung berhenti untuk mengambil napasku yang lelah. Cukup jauh untuk mengejar keberangkatan Boby. Lalu, setelah cukup dan kembali. Aku menyambar dadanya yang begitu bidang dan memeluknya begitu erat.
"Aku di sini. Aku selalu di sini."
Aku mencoba meyakinkan Boby dengan keyakinanku. Aku percaya jika dia juga meyakini apa yang aku ucapkan.
Setelah itu, Boby mengangkat wajahku dan menatap mataku dengan binar. Sebelum akhirnya kereta yang dia tunggu datang. Sesaat Boby menoleh ke arah kereta yang berhenti tepat di sebelah kami. Dia melepas pelukanku dan mengusap rambutku. Mengangkat tas yang sempat di letakan lalu melepas perlahan jarinya dariku. Memasang wajah terbaik sebelum pintu tertutup. Dengan begitu bahagia dan sangat membuat aku terbang. Membawa semua yang bisa ku bawa meski harus beberapa hari lagi aku akan menunggu.
Aku mengangguk memberi Boby jawaban yang sangat pasti. Memberinya hal yang begitu dia pertanyakan jawabannya. Di balik topi itu, wajah Boby memerah sampai akhirnya gerbong bergerak membawa Boby perlahan. Begitu pula kakiku yang perlahan mengikuti kereta dan terus melambaikan tangan. Tapi, saat tiba di ujung jalan, aku tidak bisa lagi mengejar kereta dan masih saja tersenyum.
__ADS_1