
Hari itu masih sore bagiku. Matahari baru saja tenggelam. Aku diam membuka buku di halte biasa. Setelah beberapa bis lewat, aku masih diam ditempat ku. Menunggu bis tujuanku datang.
Bis berhenti tepat di depan halte. Hari ini sedikit penuh dengan orang-orang. Hingga tanpa sengaja, saat memeriksa bangku yang kosong. Aku melihat seseorang yang tengah duduk melihat keluar kaca jendela. Meski sedikit ragu, aku berusaha memastikan. Mendekatinya lalu bertanya namanya.
"Boby?"
Sapaku ramah saat dia mulai merasa heran melihatku yang kemudian duduk disampingnya. Dia sedikit asing dengan penampilanku yang sekarang. Ya, beberapa buku dan kacamata di depan wajahku.
"Sibuk kuliah sampai mata jadi minus."
Jelasku sambil membetulkan letak kacamata yang bergeser sedikit.
Dia hanya tersenyum. Lalu, aku mulai mengenang masa lalu. Membicarakan segala hal yang sudah kita lalui bersama. Demi melihatnya tersenyum sekali lagi, aku bahkan bercerita banyak tentang Astrid selepas dia pergi.
Wajahnya tetap sama. Dia terlihat tampan meski waktu sudah beranjak. Boby yang begitu dewasa dan lembut. Dia juga suka dengan hal-hal klasik dan tidak suka dengan kecanggihan. Entah kenapa, aku merasa pertemuan kali ini sedikit berbeda. Ada rasa senang karena kembali melihatnya setelah sekian lama.
Aku terlalu banyak bicara sampai tidak sadar jika bis sudah berhenti di halte tujuanku. Setelah mengucap salam, aku turun dan masih memandang Boby dari luar. Lewat kaca bis yang sedikit kusam, aku bahkan merasa senang melihat wajah itu.
Kaki akhirnya sampai di rumah. Segera setelah meletakan jaket dan buku-buku tebal itu, aku langsung merebahkan diri di kasur. Melihat ke arah langit-langit kamar dengan berangan-angan. Wajah Boby tiba-tiba muncul di sana. Dia benar-benar tidak berubah sama sekali.
Ku raih ponsel dan ku putar keras sebuah lagu pengiring rasa bahagiaku. Aku bahkan masih memasang senyum meski sudah beberapa menit berlalu.
Katakan padaku sayang
Katakan jika aku akan mengejarmu
Katakan itu hingga ke ujung dunia
Katakan dimana kau akan membawaku
Apakah ke langit ke tujuh?
Atau ke samudera biru nan luas?
Aku merasa menjadi Ririn kecil. Saat pertama kali aku menatapnya takut dan tidak suka. Sampai perlahan, setiap harinya sepanjang waktu, aku mulai memperhatikan perlakuan Boby pada Astrid.
Laki-laki yang begitu lembut dan perhatian. Selalu menghibur meski hanya dengan melakukan hal kecil. Aku bahkan tidak sadar akan hal itu, sampai aku lupa jika aku pernah melakukannya.
Mendengar kebersamaannya bersama Astrid. Lika-liku hubungan mereka yang begitu rumit. Membuat aku semakin penasaran siapa sebenarnya laki-laki bernama Boby ini. Hingga membuat Astrid selalu menunggunya.
Astrid tersenyum setelah menyuguhkan semangkok mi instan dan soda. Dia lalu melihatku makan dengan lahap.
"Apa kamu berusaha menyembunyikan sesuatu dariku? Kamu bilang ingin pergi. Sepertinya masa tugasmu tidak berakhir."
Goda Astrid meledekku. Aku hanya tersenyum malu sambil menarik mi itu ke dalam mulutku.
"Bagaimana dengan hal-hal kuliah? Bukankah itu menyenangkan?"
"Apa kamu senang melihatku bekerja keras?"
Aku tertawa kecil. Astrid sedikit kesal hingga gemas, aku mencubit pipinya.
Dia lalu menunjukan kesepuluh jarinya di depanku. Dengan sombongnya, dia mulai berbicara mengenai pekerjaan barunya.
"Kamu tidak akan mendengar siaran yang bagus jika bukan karena ini."
__ADS_1
Ledek Astrid yang langsung membuatku berpura-pura takjub.
"Palsu, aku tahu itu."
Astrid tahu jika aku hanya memasang mimik palsu. Tak mau melihatnya kesal lebih jauh, aku pun meminta maaf dan kembali menikmati mi itu hingga akhirnya habis.
Setiap akan berkata, selalu merasa tertekan. Bukan karena hari ini sedikit basah karena hujan. Tapi, terlalu biasa. Apakah kamu ingat? Orang-orang mulai mengemasi barang-barang mereka. Mencari tempat untuk libur di akhir pekan. Itu seperti mengurangi stres. Orang-orang akan lebih membutuhkan hal seperti itu.
"Radio itu berisik sekali."
"Sst!"
Aku dan Astrid tertawa kecil. Menikmati malam di teras depan sambil memandang keheningan jalan yang berhias lampu temaram dengan cahaya kuning remang-remang. Lalu, sesekali ada orang lewat dengan berjalan kaki tapi menghilang setelahnya.
Bau tanah yang basah terguyur hujan begitu menyengat. Bahkan, daun-daun masih menitikan air sisa-sisa hujan yang tertinggal. Begitu basah dan bening.
"Seperti berlari, sedikit melelahkan."
"Entahlah, aku tidak berpikir seperti itu."
"Kamu masih terlalu kecil."
"Omong kosong."
Astrid terdiam sesaat. Hanya tawa kecilnya yang menyambut ucapanku.
"Apakah dia mendengarnya malam ini?"
"Kalian berdua orang tua yang membosankan jadi pasti dia akan mendengarnya."
"Aku sudah sejauh ini mengejarnya. Tapi, kesempatan baik tidak datang juga."
"Baiklah, terserah kalian saja. Membuatku merasa rumit."
Aku meneguk soda di tanganku. Sementara Astrid, dia sibuk dengan teh Rosela yang begitu merah.
"Suara-suara itu membuatku berada di masa-masa itu. Semuanya sudah berubah dengan cepat, aku masih mendengarkan hal yang sama."
"Itu kuno."
"Boby memang suka hal seperti itu."
Aku setia mendengar Astrid yang kembali membicarakan Boby. Topik yang tidak akan pernah berubah selama kita berbincang dalam keheningan.
"Entahlah, aku bahkan tidak tahu bagaimana. Rasanya seperti meluap begitu saja."
"Apa kamu tahu sesuatu?"
Astrid menoleh ke arahku heran. Dia melihat kaleng sodaku.
"Apa itu tidak bersisa?"
Aku menggoyang ya perlahan. Memastikan pada Astrid jika soda ini masih tersisa sedikit.
"Kamu tidak perlu mengejar apapun jika memang memiliki sisi baik. Dia juga tidak akan datang padamu, karena kesempatan akan mempertemukan kalian di sini."
__ADS_1
Aku menjelaskan sekat antara jari telunjuk kanan dan kiri ku setelah meletakan kaleng soda itu di meja.
Astrid mengangguk paham apa yang aku katakan. Dia kembali pada teh rosela-nya dan donat itu kini masuk ke dalam mulutku. Donat yang sama seperti yang Astrid buat dulu. Mengenyangkan dan membuatku merasa tenang.
Kami kemudian melanjutkan malam hingga terlelap dalam bunga tidur.
Satu Minggu setelah selesai dengan semua surat-surat yang ku urus. Berjalan seorang diri di tengah malam untuk pulang. Tanpa sengaja, aku bertemu dengannya di tengah jalan. Dia terlihat penat hingga aku menawarinya duduk di warung pinggir jalan.
Dia sedikit tidak fokus. Aku sudah bisa menebak apa yang Boby pikirkan sekarang.
"Dia seperti itu selama beberapa tahun belakangan."
Aku mulai membicarakan Astrid demi membuka percakapan dengannya. Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin, Boby sedang memikirkan Astrid. Terlihat begitu jelas di mataku.
"Hidupnya, radio. Semua itu benar-benar membosankan. Tapi, dia masih bertahan. Menurutmu, apa dia akan sekuat itu?"
Boby justru tertawa kecil. Membuat aku merasa baru pertama kali melihat tawa itu saat tidak bersama Astrid.
"Sesekali, Astrid akan mengatakan jika dia sedang berjalan jauh. Tapi, saat aku melihat dia, dia masih berdiri. Tempat itu bahkan masih sama."
"Aku juga."
"Kenapa, hubungan kalian serumit itu? Bisakah kalian bersama-sama saja?"
"Seperti itukah? Aku juga berharap demikian."
"Kenapa?"
"Kamu masih belum bisa berpikir seperti orang dewasa."
Boby mengusap kasar kepala ku dan membuatku heran. Tangannya begitu hangat dan menenangkan. Memandangku dengan lembut. Sikapnya membuatku tersentuh.
"Kamu memang pilihan yang tepat."
Aku menatapnya dengan senyum. Meyakinkan diriku bahwa Boby benar-benar laki-laki sempurna. Bukan karena Astrid, tapi aku yang mengatakannya dari diriku sendiri. Lalu kembali pada jalanan karena memikirkan apa yang baru saja aku pikirkan.
"Aku bahkan harus menunda keberangkatan ku."
"Kenapa?"
"Jika sudah, kita pasti tidak akan duduk di tenda pinggir jalan ini. Lampu yang remang-remang. Makanan yang sederhana dan jalanan yang sepi dan seorang teman lama."
Hari semakin larut tapi Boby masih terlihat jenuh. Aku berusaha menghiburnya dengan ocehan tidak karuan berharap ada sedikit senyum yang terlukis di wajah Boby. Tapi, jam memaksa Boby membawaku pulang karena terlalu larut untukku masih berkeliaran di luar sana. Meski jujur, aku merasa tenang karena aku bersamanya.
Boby memapahku dengan susah payah. Setelah tadi berhenti di depan rumah. Aku memberitahu alamat rumahku padanya. Dia terlihat sedikit bingung saat sampai di depan pintu. Dalam hati, aku menahan tawa. Tapi, aku memberitahunya kemudian.
Pintu terbuka dan dia langsung melepas sepatuku. Aku tidak benar-benar mabuk malam itu. Kemudian membaringkan tubuhku di sofa dan masih memejamkan mataku.
Boby bangkit hendak pergi. Tapi, tanganku malah meraih jarinya begitu saja. Boby berusaha melepaskan dan aku tidak merelakan hal itu. Dia kemudian duduk dan menunggui-ku dengan sabar.
Memastikan mata Boby tidur dengan lelap saat dia duduk di sampingku. Aku terbangun memperhatikan jengkal wajahnya. Menyadari wajah yang begitu membuat Astrid merasa tersiksa sepanjang waktu. Membuat Astrid berada dalam kondisi yang rumit. Tapi, aku menyukainya. Belakangan, bertemu dengannya adalah hal yang membuatku tersenyum sepanjang waktu.
Aku bangkit dan menyematkan selimut ke tubuhnya. Sampai aku lupa jika aku justru ikut tertidur.
Mataku tanpa sengaja terbuka saat dini hari hampir menjelang fajar. Aku langsung menoleh ke arah dimana Boby duduk. Dia sudah pergi. Aku berpikir sesaat. Kenapa aku merasa sedikit aneh dengan ini. Aku benar-benar memikirkannya dengan sengaja. Suatu hal yang membuatku merasa sulit. Berada dalam situasi yang tidak biasa saat bersama Boby. Hanya, merasa senang seakan aku begitu bahagia. Meski hanya bertemu dengannya.
__ADS_1