
Tanpa sengaja aku duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan. Bertemu dengan Ririn di tengah jalan. Sampai akhirnya, di sinilah diriku berada.
"Dia seperti itu selama beberapa tahun belakangan."
Ririn mulai memandang jalanan sepi sambil meneguk soda di depannya. Bahkan, beberapa potong sate ikan masih panas hingga mengepulkan asap yang begitu jelas.
"Hidupnya, radio. Semua itu benar-benar membosankan. Tapi, dia masih bertahan. Menurutmu, apa dia akan sekuat itu?"
Aku hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Ririn. Menuangkan soda pada gelas kecil di depanku dan meminumnya kemudian.
"Sesekali, Astrid akan mengatakan jika dia sedang berjalan jauh. Tapi, saat aku melihat dia, dia masih berdiri. Tempat itu bahkan masih sama."
"Aku juga."
"Kenapa, hubungan kalian serumit itu? Bisakah kalian bersama-sama saja?"
"Seperti itukah? Aku juga berharap demikian."
"Kenapa?"
"Kamu masih belum bisa berpikir seperti orang dewasa."
Aku mengusap kasar kepala Ririn dan dia cukup heran. Dia tetap saja Ririn yang begitu lugu. Meski usianya sudah sedikit lebih dewasa. Namun sikapnya masih seperti anak-anak.
"Kamu memang pilihan yang tepat."
Ririn menatapku dengan senyum yang begitu hangat. Dia kembali pada jalanan sepi di seberang sana. Lalu, menghabiskan soda di kaleng itu dan melamun.
"Aku bahkan harus menunda keberangkatan ku."
"Kenapa?"
"Jika sudah, kita pasti tidak akan duduk di tenda pinggir jalan ini. Lampu yang remang-remang. Makanan yang sederhana dan jalanan yang sepi dan seorang teman lama."
Aku hanya tertawa kecil mendengar ocehan Ririn yang sedikit ngelantur. Dia juga terlihat tertawa mendengar ucapannya sendiri.
__ADS_1
Meski begitu sepi, dengan beberapa orang di tenda itu. Suasana sedikit cair karena suara radio yang bertengger di atas meja dekat kasir. Aku jadi teringat, jika Astrid begitu suka suara radio. Begitupun Ririn, yang lalu menoleh ke arah radio itu dan menggelengkan kepala menatapku.
*Apa ada seseorang yang berteriak di sana? Dia benar-benar gila melakukannya. Jam bahkan sudah berada di angka sebelas tapi kegilaan itu belum berakhir. Seperti saat dia baru mendapat hadiah dari neneknya. Itu sangat lucu bukan? Berharap bukan sweater rajutan atau semacamnya. Tapi tetap saja, dia bahagia karena itu adalah hadiah.
Dengar, itu kamu bisa mendengarnya? Lampu-lampu sudah mulai padam. Orang-orang sudah pulang karena penat. Bisnis juga sudah berakhir tapi beberapa masih berlari. Itu benar-benar keterlaluan. Sedikit membuat orang pusing*.
"Orang tua memang suka hal-hal klasik."
Tawa kami kemudian pecah mengisi suasana. Beberapa orang bahkan memperhatikan kami. Karena terlalu bahagia di waktu selarut ini.
Ririn mulai bicara tidak karuan. Dia mabuk dan terus mengatakan hal yang tidak jelas. Aku berusaha mencari nomor yang setidaknya bisa ku hubungi untuk mengantar Ririn pulang. Tapi, tidak ada nomor yang mengangkat telepon atau membalas pesanku.
Jam terus saja berputar. Sampai di depan rumah Ririn, aku melihat keadaan yang begitu sepi. Dia tinggal seorang diri. Aku sedikit bingung saat harus membuka pintu rumahnya, tapi di antara kesadaran yang setengah-setengah, Ririn memberitahukan kode kuncinya.
"2256"
Pintu terbuka beberapa saat kemudian. Ku letakan tubuh Ririn di sofa dan membuka sepatunya. Dia langsung tidur begitu saja. Aku bergegas pergi. Sebab, pamit pun Ririn tidak akan tahu. Tapi, langkahku tercegat. Ririn menggenggam jari kelingkingku. Meski bisa ku lihat jelas, matanya masih tertidur.
Perlahan, aku mencoba melepaskan tangannya, tapi, Ririn masih saja berusaha menggenggam kelingking yang sama. Begitu erat, membuat ku sedikit berempati karena tidak tega melihat wajahnya. Aku pasrah, duduk di samping sofa dan kemudian menunggu gadis itu bangun untuk pulang.
Beranjak ke dini hari saat aku sadar dari rasa kantukku. Saat itu juga aku sadar, sebuah selimut memelukku dengan hangat. Ririn juga masih tertidur di sofa, tapi dia sudah melepaskan jariku. Aku lega, karena aku bisa pergi. Setelah memindahkan selimut itu ke tubuh mungilnya, aku bergegas pergi dan menutup pintu.
Membuat teh Rosela dan menggoreng adonan donat. Aku tidak pernah bosan menyambut hari dengan kedua hidangan itu. Aku selalu menikmatinya dengan suara berisik radio. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah merasakan kebiasaanya yang begitu dia sukai.
Setelah selesai dengan kedua hal itu, aku bergegas membuka sepatu dan mengeluarkan kaus kaki dari sana. Memakainya dengan rapi lalu bercermin. Menatap diri jika aku sudah bersiap berangkat kerja.
Sibuk dengan catatan mesin di tangan. Sesekali juga ikut menarik mesin. Mendengar suara yang begitu keras dan memeriksa jika pekerjaanku sudah beres.
Setiap hari selalu berdoa. Kapan hari akan menjadi baik. Tapi, sebagian orang mengatakan jika ini semua sudah terlalu bagus. Memulai dengan sedikit percikan. Kamu tahu? Dropped-percikan. Kamu akan mendengarnya dan tersenyum. Ini seperti keajaiban yang tidak bisa di katakan.
Kita akan menikmati hari dengan sedikit kesibukan. Hari-hari berikutnya seperti "oh, hari ini datang lagi. Seperti biasa bukan" tapi kemudian, ada beberapa hal yang menggiring kehidupan kita untuk terus bekerja keras. Ini adalah ke indahan. Tidak semua, beberapa saja.
Suara berisik itu masih masuk ke telingaku. Dengan beberapa orang yang terlihat penat di dalam bis sesak ini. Aku masih menatap jalanan dan membayangkan nya. Begitu menikmati setiap kalimat yang mengudara. Lalu sesekali mengangguk karena merasa kalimat disana begitu tepat.
Saat halte berikutnya sudah tiba. Aku selesai dengan bis ini dan turun. Menyusuri jalanan yang sama seperti setiap harinya. Dengan earphone-ku yang begitu berisik. Setidaknya, tidak membuat aku merasa sendirian. Mendengarkannya sepanjang jalan sampai aku tidak sadar jika hari semakin gelap dan aku tiba di rumah.
__ADS_1
"Hanya kebetulan lewat."
Ririn tersenyum dengan sebuah kotak ditangannya. Dia berdiri tepat di depan pintu rumahku.
Aku mempersilahkan Ririn masuk dan membuatkannya teh Rosela. Selain itu, aku tidak akan menawarkan apapun.
Dia memperhatikan setiap jengkal sisi tempat tinggalku. Apa yang dia pikirkan hingga membuat kepalanya sesekali mengangguk.
"Apa sewa bulanan?"
"Iya."
"Kamu menyukainya?"
"Iya."
Dia lalu meneguk teh hangat itu dan sedikit merasa aneh. Aku tahu, bagi sebagian orang, teh Rosela memang bukan rasa yang enak. Selain warna merah, rasanya juga sedikit langu dan masam.
"Ini bukan minuman kesukaanku."
Aku tertawa kecil. Lalu berjalan ke dapur dan memberikan Ririn sekaleng soda.
Dia menyambut ku dengan riang. Membuka kaleng itu dan meneguknya kemudian. Disanalah wajah Ririn yang bahagia muncul. Lalu kemudian, melihat ke atas meja dan mendapatkan fotku bersama Astrid yang begitu bahagia menikmati musim dingin di masa lalu. Dia menghela napasnya.
"Masa lalu memang menyenangkan."
"Iya."
Mendengarnya, entah kenapa aku jadi merasakan kembali dimana Astrid dan aku masih saling tertawa bersama. Suaranya masih jelas terdengar olehku. Begitupun mata dan bibir Astrid yang begitu ceria. Terpancar sangat jelas disana.
Setelah menghabiskan makan malam, Ririn memakai sepatunya. Dia berdiri mengalungkan syal dan kemudian terhenti saat di ambang pintu. Ririn berbalik menatapku yang berdiri tepat di belakangnya. Menatapku tajam dan dalam.
Satu menit berlalu sebelum dia memelukku. Setelahnya, aku dibuat kaget luar biasa dengan kecupan singkat di bibirku. Dia tersenyum ceria dan melanjutkan langkahnya setelah melambaikan tangan. Aku masih saja berdiri tak percaya. Semua seperti kilat yang datang begitu cepat. Aku masih terhanyut dalam ketidak percayaan. Lalu, mendapati langkah Ririn di jalanan dan kulihat seseorang sudah berdiri di sana menyambut mataku dengan datar. Wajahnya menahan sesak yang begitu dalam. Ririn juga di buat terkejut sama sepertiku.
Dengan pasti, Astrid memutar langkahnya dan kemudian pergi tanpa sepatah katapun. Dia bahkan tidak mengatakan apapun pada Ririn yang sudah ada didepannya.
__ADS_1
Aku rasa, Astrid marah karena kecupan itu. Dia juga marah pada sikapku. Tapi untuk Ririn, jika aku berada pada posisinya. Astrid juga pasti akan marah. Aku mematung. Kakiku tiba-tiba kelu untuk mengejar langkah Astrid yang perlahan menjauh. Benar, beberapa saat kemudian, Astrid sudah hilang dari mataku.
Ririn hanya diam ditempatnya berada. Dia masih tertunduk tidak percaya. Matanya menyorot dengan jelas ke arahku. Mengatakan jika ini semua tidak akan baik-baik saja.