
2001
Saat udara di langit meruntuk. Hujan bersiap terjun meski surya sudah mengambil aba-aba. Sepatu kets hitam di kakiku masih memberiku langkah. Dengan erat ku pijak bumi yang berputar pasti. Sampai dia mengantar tubuhku di sebuah jalanan yang penuh dengan komplek pertokoan tua.
Aku tertegun. Sadar hujan turun dan akhirnya memberiku jeda untuk istirahat didepan toko yang tak berpenghuni. Aku bisa merasakan, hujan ini akan sebentar datangnya. Pantulan dicermin, membuat aku penasaran. Apa isi toko itu, toko apa itu, sebelumnya. Aku mengintip di antara kumalnya debu di kaca pembatas toko yang tertutup rapat. Tak banyak, hanya sebuah radio tua yang tergeletak diatas meja kayu yang lusuh. Tapi, kokoh dan sepertinya menyimpan banyak sejarah. Seluruh dindingnya kosong. Tapi, di pojok belakang, aku bisa melihat sebuah bayangan benda yang sayang terhalang oleh tirai penutup kaca. Aku semakin penasaran.
Aku masih berdiri. Menanti hujan yang perlahan mereda. Aku beranikan diri melangkah pergi meski hatiku masih terpagut dengan isi toko tua itu.
Lebih sering aku lewat didepan toko kosong itu. Masih saja tak berpenghuni meski satu bulan aku memperhatikan dengan jelas.
"Sisanya akan ku susul akhir bulan. Terimakasih!"
__ADS_1
Aku membungkuk setelah wanita paruh baya itu keluar dengan puteranya. Mereka memberikan sertifikat serta beberapa kunci toko tua itu. Aku tersenyum. Keputusan yang kubuat tidak membuatku peduli begitu banyak. Udara bahkan terasa lebih segar hari ini. Sepertinya, nanti malam bintang akan bertaburan di langit sana.
Di hari berikutnya yang masih biasa saja. Hidungku mencium bau debu tebal yang menutupi seluruh toko itu. Beberapa kali aku bersin. Ya, karena debu itu membuat hidungku tidak nyaman. Satu persatu benda yang tidak bisa di pakai ku singkirkan. Sedangkan sisanya, ku rapikan dan ku tata dengan posisi seni yang bisa ku nikmati. Hampir semua benda ku buang. Tapi, sejak awal aku melihatnya, sama sekali aku tidak berniat menyingkirkan benda klasik yang mencuri perhatianku.
Radio tua dan meja kayu yang membuatku terdiam. Aku tidak yakin akan memindahkannya, jadi biarlah benda kenangan itu tetap pada tempatnya. Meneguhkan toko ini, bahwa masih ada kenangan yang tidak berubah.
Perlahan namun pasti, benda-benda berwarna pastel mulai mengisi toko tua ini. Dengan sedikit sentuhan vintage disetiap sisinya. Rak kayu yang berlapis pernis juga mulai terpampang dengan cantik didepan kaca. Sehingga, bisa ku pastikan orang-orang diluar bisa melihatnya.
Aku hanya melihatnya berdiri sebelum dia datang dan masuk. Dia menatapku dan bertanya dengan tenangnya.
Laki-laki berumur dua puluhan itu menoleh. Pandangannya terhenti pada meja berisi radio usang yang sengaja ku nyalakan.
__ADS_1
"Sekedar mendengar radio?"
Aku tersenyum mendengar laki-laki muda itu bertanya. Dia mengenakan jaket jeans dan celana kain dengan kaus yang dia masukan. Bahkan sabuk mengkilapnya bisa terlihat jelas oleh mataku. Sepatunya berwarna cokelat pekat dengan tali terikat cukup rapi.
Dia memberikanku seikat Rosela dan menyuruhku menyimpannya.
"Kau bisa menyeduhnya?"
Dia lantas membuka pintu toko dan menuruni tangga yang hanya berisi beberapa anak tangga. Sekejap kemudian, kakinya sudah membuatnya hilang dari depan toko tempatku mematung.
Aku membatu. Tangan kotorku bahkan penuh dengan debu dan kain lap yang cukup kotor. Pandangan samarku masih terhenti di pintu. Bahkan, jingganya sinar mentari yang merangsak di latar kaca membuat perhatian ku tak terabaikan. Aku memandangi Rosela yang begitu merah di meja dekat radio. Aku berpikir, dimana dia menemukan tanaman ini. Dia mengatakan aku bisa menyeduhnya.
__ADS_1
Aku berlari segera membuka pintu dan mencari jejaknya yang sudah hilang. Sayang, mataku tak bisa menangkapnya. Dia sudah pergi tanpa aku tahu kemana arahnya.
Kembali ke dalam dan menyelesaikan pekerjaanku. Sementara Rosela merah itu sudah ku taruh di dalam gelas dengan posisi berdiri. Meski terlihat sepintas seperti kuncup mawar yang siap mekar, aku membuatnya untuk bisa terlihat. Sepertinya, sore nanti aku akan menyiramnya dengan air yang ku hangatkan dari teko.