Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 13 ~ Tiga Sisi Yang Berbeda (Astrid POV)


__ADS_3

Berdiri di depan pintu sambil memastikan jalanan. Tapi, Boby belum terlihat meski dua hari sudah lewat. Dia tidak meninggalkan pesan apapun selain hanya menyuruhku menunggu karena dia akan datang.


Lalu hujan kembali turun membuat butiran air jatuh mengenai papan menu di teras depan. Aku bahkan merasa sedikit lelah hingga mata mulai berat.


Hujan sudah hilang dan Ririn duduk di sebelahku sejak mataku terbuka.


"Aku harus menyelesaikan tugas akhir dan berangkat ke Jepang. Apa sekarang kamu akan memberikan gaji bulan ini?"


"Ya."


Aku memeluk gadis itu. Dia membalasnya dengan hangat lagi erat. Menunggu Boby membuatku lupa jika ini adalah hari terkahir aku dan Ririn bersama. Dia lalu memakai mantelnya dan pergi beberapa saat kemudian.


Menengok jam dinding dan menghabiskan beberapa cangkir teh Rosela ternyata tak cukup. Lalu, merasa lelah sampai akhirnya memutuskan pulang tanpa hasil.


Satu langkah sudah ku ambil. Memastikan diri, aku kembali membalik wajah melihat ke arah jalan dimana Boby tak datang. Benar saja, bahkan bayangannya juga tidak terlihat.


Membuatku merasa terbangun dari mimpi. Karena secepat angin dia menghilang tanpa kabar dan kembali, lalu, dia pergi lagi. Aku merasa tawaku terbebas beberapa hari belakangan tapi Boby membuatku menunggu lagi dan sepertinya aku sedikit lelah.


Tepat satu Minggu setelah kepergiannya. Aku bergegas mengepak barang terakhirku yang tersisa di toko itu. Truk sudah menunggu dan aku keluar setelah membawa satu kotak lagi barang. Mengunci pintunya dengan benar lalu bergegas ikut masuk sesaat sebelum truk berjalan pergi.


Setelah memutuskan untuk kembali kuliah, keuanganku sedikit terganggu hingga aku merasa paceklik melanda. Ku putuskan menjual toko itu untukĀ  biaya kuliahku. Bahkan berkat bantuan Lena, sekarang aku bisa hidup cukup normal hingga mendapat pekerjaanku yang baru.


Kembali di hari Minggu. Kamu bisa menyambut pagi dengan lagu pop yang penuh semangat. Lalu kami akan setia duduk sambil membaca surat yang sudah masuk ke meja redaksi dan sedikit bersantai


Memberi aba-aba pada penyiar di dalam ruang kedap suara, jika lagu pengiring akan diputar dan dia sudah selesai mengedit teks selanjutnya. Maka mereka bisa jeda sebentar untuk bernapas.


"Woa, kita akan kedatangan banyak sekali iklan jika memiliki editor secepat dirimu."


"Terimakasih, itu pujian yang membuatku tersanjung."


"Benarkah."


"Hai, kamu bisa melihat pipinya merah. Dia merasa malu."


Aku hanya diam menyembunyikan wajah. Mereka selalu menggodaku setiap Feri memuji kerja kerasku.


Gelak tawa terdengar. Mereka terlihat menikmati candaan yang menurutku sangat berlebihan. Hanya sebatas rekan dan aku masih menunggu seseorang yang sedang berada di suatu tempat, meski jujur aku sedikit payah.


"Hai Astrid!"


"Hai Fer?"


"Bagaimana menurutmu makanan pinggir jalan?"


"Tidak perlu, aku harus pulang."


Feri menarik tanganku dengan girang menuju mobilnya. Dia memaksaku ikut bersamanya untuk makan malam bersama. Tentu, aku tidak bisa menghindar pergi.


Deru mesin mobil mengiringi perjalanan kami. Tenda-tenda penjual makanan pinggir jalan. Lampu itu seolah berjalan beriringan dan hiruk-pikuknya kehidupan malam ditengah kota.


"Terimakasih makan malamnya."


"Kenapa begitu? Kamu menikmatinya bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sangat menikmatinya."


"Lalu, apa malam ini kamu benar-benar jatuh cinta padaku? Dengan makan malam dan sedikit rayuan."


Aku tertawa menutupi kondisi yang sering datang seperti ini. Dia laki-laki yang baik, mapan dan juga rupawan. Beberapa orang bahkan membuatku merasa menjadi orang beruntung karena dekat dengannya. Tapi, itu adalah hal yang tidak mudah.


"Kenapa tertawa seperti itu. Apa kamu mengejekku?"


Feri juga ikut tertawa melihatku dengan tatapan heran.


"Baiklah, sampai jumpa lagi di studio besok pagi. Aku harus kembali."


"Baiklah, selamat malam Astrid."


Feri masih berdiri diambang pintu tangga menuju tempat tinggalku. Dia masih disana sampai memastikan aku kembali ke pelataran rumah.


Aku berhenti, melihat ke arahnya yang perlahan berjalan membelakangi arahku. Menyusuri jalanan sepi dengan lampu berjejer disepanjang jalan. Dia juga sesekali menoleh untuk memastikan beberapa hal disekitarnya. Mungkin, memperhatikan rumah-rumah padat atau suara yang mampir di telinganya. Sampai, dia menghilang di gelapnya malam tanpa jejak.


Masih biasa saja. Hari berjalan dengan cepatnya. Aku masih sibuk dengan keyboard didepan komputer. Bekerja keras dengan jariku. Lalu, memastikan jika tulisan ku sempurna agar hari yang semua orang lalui mendapat suka cita karena mendengarnya dengan bahagia.


Saat mereka mulai memberikan aba-aba, aku mengirimkannya dan boom! Siaran dimulai dengan penuh semangat dan segelas kopi yang sedikit pahit dan beberapa cahaya matahari yang menembus jendela kaca tentunya.


Surat-surat itu mulai masuk. Beberapa dengan kata manis karena jatuh cinta hingga membuat semua orang tersenyum. Dengan masalahnya yang lain, beberapa juga terdengar patah hati karena terluka. Seperti itu kehidupan di studio ini.


Feri memberi aba-aba pada Katerin. Lalu, mulut perempuan itu mulai berceloteh membaca tulisanku yang dikirim lewat monitor.


Woa! Hari ini sedikit berangin. Daun merah berjatuhan dengan cepat. Aku tidak sadar bahkan jatuh berserakan.


Ada hal yang harus di lupakan meskipun bukan saatnya. Lalu, setiap mendengar radio tua di meja kayu itu, aku bertanya. Apakah ini kesempatan yang baik? Benarkah itu menghampiriku?


Aku langsung mengangkat wajahku melihat Katerin yang tengah tersenyum membaca surat pertama kami. Itu benar-benar membuatku berdebar karena merasa tidak asing mendengarnya.


Lalu saat aku kembali pergi, apakah kamu mencariku? Sepertinya aku berbohong lagi kali ini. Maaf


Hanya tidak bisa mengatakan, tapi aku sedikit lega. Karena hal tak baik memang harus dijauhi dengan begitu, semua akan baik-baik saja.


Aku tahu siapa yang menulis surat itu. Tapi, aku hanya bisa terdiam mendengar suara Katerin membacanya dengan nada yang begitu menyentuh. Tubuhku sedikit gemetar.


Feri menurunkan tombol dan acara jeda sejenak. Aku membuang napas panjang dan kembali menatap layar komputer itu. Mengalihkan perhatian dari beberapa menit yang lalu, yang begitu mengganggu pikiranku.


"Hai, siarannya bagus."


"Benarkah?"


Feri duduk dimeja yang berada tepat di depanku. Dia memperhatikanku begitu jelas. Tapi, aku memilih mengabaikannya dengan kepura-puraan jika aku tidak tahu. Menyibukkan diri dengan paragraf naskah yang akan ku tayangkan sore nanti. Dia, mendekati jariku dan berhenti di sana.


Aku terhenti. Mulai menatapnya penuh tanya dan begitupun dia. Menatapku dengan tanya yang sama. Aku bingung kenapa tapi aku sudah mengerti ada apa dengan semua ini.


Feri tertawa kecil dan mulai mengatakan beberapa hal.


"Sesuatu..., Itu. Apakah ada di sana? Aku tidak pernah melihatnya."


"Itu, tersembunyi."

__ADS_1


Feri lagi-lagi tersenyum. Dia hanya menghembuskan napas lalu memalingkan wajahnya sejenak pada ruang kedap suara didepan kami.


Bahkan sekarang keadaan semakin stabil dengan beberapa roti dan kacang dimeja. Bisnis juga semakin bagus karena kita bekerja keras.


Aku masih mengaduk kopi pahit di depanku. Sambil sesekali memikirkan ucapan Feri, duduk di depan komputer. Lalu, setelah pekerjaan selesai, aku bergegas membuka pintu, keluar. Berharap langkah kakiku yang kecil ini bisa segera sampai dirumah. Nyatanya, tidak secepat itu. Aku terpagut dengan langkahku. Menatapnya yang hanya berjarak beberapa meter.


Masih saja memakai kaus yang sama. Dengan celana jeans dan sepatu bertali. Dia memandangku cukup lama. Sangking lama sampai aku sadar jika wajahnya terdapat luka lebam hingga dibagian lengannya juga ikut membiru.


"Agak aneh."


"Aku, juga."


Daun mulai bergoyang. Malam juga semakin berjalan jauh menemani pertemuan kami yang begitu menyedihkan. Saling diam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Memberi alasan apa atau sekedar bertanya ada kabar apa. Itu seperti hal yang sudah meledak begitu saja. Hingga sangat sulit untuk di ungkapkan.


Sementara dari balik bayangan lampu, bisa ku lihat sosok Feri berdiri diatas. Berada ditengah situasi ini meski tanpa Boby sadari. Dia terdiam menatap ke arahku yang berpura-pura tak tahu. Hanya berharap, jika dia mengerti keadaan yang tempo hari sering ku jelaskan padanya. Itu sangat sulit. Memberi tahu seseorang dengan perlahan. Dia begitu gigih, tapi aku menyerah. Di tempat itu masih ada Boby meski ku tolak dengan mentah. Meski aku berusaha pergi. Tetap saja, Boby dan selalu Boby yang tinggal di sana.


Setelah mendapatkan salep dan kapas, aku keluar dari minimarket. Menghampiri Boby yang masih duduk lesu didepannya. Keadaanya kurang baik. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dariku dengan air mata tertahan. Aku tahu ada rasa menyesal yang begitu dalam di balik wajah itu.


Ku tarik lengannya dengan paksa karena dia menolak. Membasuhnya dengan kapas yang ku tetesi alkohol dan mengolesnya dengan salep.


Lalu, lengan selesai dan kini aku hadapkan wajahnya tepat di depanku. Birunya begitu jelas. Lebam itu lebih lebar daripada yang ada di lengan. Aku bisa menebaknya dengan yakin. Boby mendapatkan luka karena berkelahi. Melihat lengan, jari dan wajah yang begitu biru kehitaman dan dari sikapnya yang demikian.


"Sore itu.."


"Aku tidak pergi."


"Hanya berpikir begitu banyak."


Boby berusaha mengatakan suatu hal. Tapi, aku memilih bungkam dengan salep dan kapas yang ku oleskan ke wajahnya.


"Aku ingin meninggalkan semua itu. Tapi, mereka tidak membiarkanku begitu saja. Aku sangat takut. Menjelaskan bagaimana keadaanku sampai memilih tidak datang."


"Sudah selesai, aku harus pulang."


Aku bangkit dan meletakan semua obat itu disamping Boby. Tanpa mempedulikannya lagi, aku pergi begitu saja. Aku sedikit lelah karena semua keadaan ini.


Ku tinggalkan dia di tempatnya duduk. Berjalan di atas jalanan kering yang begitu sunyi. Berteman pohon di sepanjang jalan yang diterangi lampu temaram. Dari kejauhan, aku masih bisa mendengar suara radio yang masih menyala.


Kita akan berjumpa saat kita tidak menyadarinya


Kita bahkan akan bertemu saat kita tak memintanya


Seakan kita sudah berjanji untuk memulai semuanya


Tetap saja, keadaan tak mengubah apapun meski itu hanya hal kecil


-Mercusuar-


Beberapa lembar novel yang pernah ku baca bersama Boby terbuka karena tertiup angin malam. Aku masih terdiam diambang jendela melihat dia yang masih berdiri di bawah sana.


Boby bahkan menatap ke arahku dengan tajam. Aku membisu. Tak bisa melakukan apapun selain diam.


Hari semakin larut dan pintu serta daun jendela mulai tertutup. Hari-hari penat berganti dengan malam panjang yang begitu indah di bawah mimpi. Begitu juga denganku, mulai tertidur tanpa sadar dan kemudian bermimpi dengan lelapnya.

__ADS_1


__ADS_2