
Menyalakan radio berisik yang tergeletak di atas meja kayu. Membuka tirai berwarna pink dan menurunkannya. Musim dingin perlahan pergi dan berganti musim semi. Kayu-kayu lusuh sudah berganti menjadi warna putih. Dinding toko dengan warna cokelat muda seperti susu hangat yang baru saja di aduk. Rak-rak kayu masih tetap sama, hanya sedikit berganti model dan sentuhan.
Pojok dimana gantungan mantel berada sudah diganti dengan rak cokelat dan permen yang begitu manis. Sementara dapur, sekarang terlihat lebih lega dengan sedikit barang.
Tetap saja, radio dan meja itu membungkam pagi dengan suaranya. Semerbak bunga dan wangi dedaunan begitu menyengat hidung.
Hari ini Ririn tidak datang karena ujian. Sehingga aku memutuskan menyesap teh Rosela dengan bubuhan gula meleleh diatas donat goreng yang berwarna keemasan. Aku sengaja membuatnya, karena cuaca cukup baik dan hari berganti dengan cepat.
Lihatlah hari ini. Seikat bunga mendarat dimejaku. Dia mengatakan jika cuaca di hari pertama musim semi sangat baik.
"Sepertinya tidak juga. Aku bahkan masih meminum teh ini."
Aku bergumam mengajak radio tua itu berbicara.
Kamu bisa melihat matahari terbit dan mencium bau lebah yang terbang disekitarmu. Mereka akan bertanya dimana bunga-bunga lavender tumbuh. Tapi, di kebun hanya ada bunga lili dan itu juga sedikit jumlahnya.
Aku tersenyum tanpa sadar. Sampai sebuah kaki masuk dan berdiri cukup lama. Dia memandangku dan aku cukup kaget untuk itu.
"Aku tidak datang untuk mengganggumu."
Bayangan Argo datang lebih cepat dari langkah kakinya yang mendekat ke arahku. Dia datang dengan tenang dan tidak terlihat jika mereka benar-benar berteman baik.
"Aku tidak berhak memberitahu jika Boby adalah temanku. Sepertinya kehidupan yang Boby impikan sudah dia dapat dengan baik."
Argo meletakan sepotong kue dan dia meminta aku untuk membungkusnya. Beberapa saat, dia pergi tanpa meninggalkan kalimat atau apapun itu tentang Boby.
Aku terdiam. Bayangan lampu bahkan mulai merangsak masuk melalui kaca tanpa permisi. Ku tatap jalanan di depan sana. Trotoar dengan garis putih yang masih lurus dengan pintu toko ini. Ternyata, orang itu adalah Boby. Aku hanya perlu waktu untuk sadar dengan yang aku pikirkan saat itu.
Berjalan melewati supermarket, karena hari semakin malam dan suasana semakin sepi. Kakiku melangkah cukup cepat dan berhenti saat aku menemukan bangku dalam bis yang sesak oleh penumpang.
Jendela bis yang begitu bening. Bahkan, bisa ku lihat, bekas lapnya masih berjejak kering. Lampu-lampu di pinggir jalan bahkan terlihat lebih terang. Dibawahnya, terdapat pot-pot bunga yang berjajar. Sementara orang-orang sekitarku terlihat penat dengan hari mereka.
Untuk kamu yang mendengar ini
Kamu mungkin menyangka aku sudah lupa
Atau bahkan, saat ribuan bintang di langit mengatakan hal yang sama tapi kamu tetap percaya
Tapi, dalam kesendirian yang melelahkan ini aku selalu mengejarmu
Aku selalu berada di kejauhan yang membuatku tak nampak oleh kelopak mata indahmu
Apakah kamu tahu?
Setiap aku mendengar sesuatu yang mengira aku tak lagi berada ditempat itu
__ADS_1
Aku merasa jika kakiku hanya mengejar fatamorgana yang membahagiakan
Tapi, saat aku bisa meyakinkan diri jika ini bukan efek Mandela, aku merasa lega
Kadang aku masih berpikir
Apakah disana, ditempatmu berada kau masih bisa mendengar aku yang sedang bernapas untukmu?
Apakah, cerita yang kita tulis dengan pena akan kita baca bersama dikemudian hari?
Hanya sekedar tanda tanya yang aku sendiri masih penasaran akan jawaban pastinya
Sepertinya aku harus mengatakannya
Aku, tidak memintamu menungguku
Tapi, aku sedang berjalan ke arahmu
Berusaha menggapai bintang paling terang yang pernah ku lihat
Dari seseorang yang tinggal di kubah bulan dengan tenda berwarna abu-abu
Pesan menyentuh ini membuatku merasa sedang jatuh cinta namun langsung patah hati. Bagaimana mungkin itu terjadi di saat bersamaan.
Radio di earphoneku masih saja berceloteh. Rupanya, pesan yang ku kirim terbaca. Aku hanya tersenyum. Dari kejauhan, melihat Boby duduk dan mendengarkannya. Lalu aku terbangun dan berdiri menghadap ke arahnya.
Malam makin pekat saat jam memberiku angka sebelas. Derik jangkrik bahkan masih berbunyi menemani malamku. Gemersak angin menggoda dedaunan disamping jalan. Aku masih saja melihat baju yang pernah Boby pakai. Bertengger di dinding dan masih rapi disana sejak terkahir Boby menggantungkannya.
Kelopak mataku menarik bayangan Boby. Dia begitu lugu. Dia bahkan tidak keberatan saat mengatakan jika dia keterlaluan karena menjadi saudari yang tampan. Aku tersenyum kecil di gelapnya lampu tempat tidurku. Tidak jelas namun bisa ku lihat. Wanginya yang dari kejauhan masih menusuk hidungku. Itu benar-benar hal membahagiakan yang kudapat belakangan ini.
Kicau burung datang menjadi alarm yang begitu asri untukku. Membuat sarapan dengan beberapa ons terigu, telur dan satu buah pisang serta segelas susu dan sedikit mentega.
Teko juga sudah berbunyi dan ku angkat setelah potongan Rosela itu terdiam didalam gelas. Warna merahnya mulai membaur dengan air. Hari ini, tidak ada gula di dalamnya. Lalu, ku letakan di atas meja dan menyantapnya sambil melihat jendela dengan tirai putih yang bergoyang kecil.
Jalanan sedikit lengang dengan langit berwarna biru cerah. Pohon-pohon sangat rindang hingga meneduhkan jalanan. Bunganya bahkan jatuh berserakan karena tertiup angin.
Beberapa meter lagi aku akan sampai dan membuka pintu toko. Membuka tirai putih dan mulai sibuk dengan terigu dan mentega.
Menyiapkan apa yang akan ku buat hari ini dengan sungguh-sungguh. Lalu menunggu orang datang dan membayar uang di atas meja sambil mendengar radio yang berisik.
Ririn sudah datang. Seperti biasa, membuat toko terlihat lebih hidup. Menata kue-kue itu di rak dan membuat hiasan kecil yang dia atur dan tempel sedemikian rupa. Dia meletakkannya di atas pintu di luar jendela. Lampu kemudian terpasang. Bergambar bintang dan bulan hingga beberapa bentuk binatang. Ririn tersenyum menatap ke arahku.
"Aku sengaja membuat tempatnya tinggi. Apa kamu menyukainya?"
Aku mengangguk dan memberikan dua jempolku dengan girang. Ririn tertawa kecil. Mendapat pujian dari tuan rumah.
__ADS_1
"Lalu bagaiamana ujianmu?"
"Tentu hasilnya akan bagus bukan?"
"Jika kamu bekerja keras."
"Aku rindu dengannya."
Ririn menoleh segera dari atas tempat duduknya, ke arahku.
Aku bingung bagaimana mengatakannya. Hanya tak bisa mengungkapkan karena terlalu berharap jika Boby akan datang suatu hari nanti.
"Dia orang yang baik. Kenapa aku merasa sedikit tekanan disini."
"Apa kamu juga begitu?"
"Apa?"
"Merindukan dia?"
"Ya."
"Berapa lama dia ada di sana?"
"Entahlah, mungkin tiga sampai lima tahun."
"Apa saat keluar, dia akan kembali?"
"Tidak tahu."
"Mari kita menunggunya bersama-sama."
Riang Ririn dengan polosnya. Aku tersenyum menyambut wajah itu dan terangguk.
Bahkan hari semakin menua. Berganti dengan cepatnya. Tirai putih berganti manik berbentuk bunga Daisy. Cat pelataran yang berwarna cokelat tua dan dinding putih yang begitu mencolok didalamnya. Rak kayu sudah hilang berganti dengan rak kaca yang terlihat bening. Membuat kue-kue imut itu terlihat semakin cantik. Beberapa bangku juga ku tambahkan di teras toko. Barangkali, beberapa orang ingin duduk disana sambil menikmati secangkir teh atau hanya duduk sambil mengobrol.
Aku lebih suka mendengar radio sambil menulis di catatan kecil. Merangkai paragraf agar bisa terbaca oleh penyiar radio dengan sempurna. Berharap seseorang duduk mendengar pesanku dari benda berisik itu. Meski didalam jeruji besi, aku yakin Boby bisa dengan jelas mendengarnya.
Lalu, suatu pagi saat udara sedikit berangin. Aku datang ke studio. Kembali mengirimkan surat untuk Boby.
"Kamu begitu rajin mengirimkan nya? Apa tidak lelah menunggu?"
Feri heran menerima surat yang ku bawa untuk kesekian kali. Dialah yang selama ini menjadi perantara suratku agar bisa masuk ke radio.
"Terimakasih bantuannya. Aku harus pergi sekarang."
__ADS_1
Kakiku beranjak setelah memberikan Feri sedikit senyum. Membawa bekal makan siang dan berharap masakanku dapat dia terima untuk pertama kalinya. Meski sedikit gemetar, aku benar-benar yakin akan mengunjunginya hari ini.
Halte dan bis. Seperti itulah perjalanan ku. Tak jauh dari kedua hal itu. Sampai aku tiba di sebuah pos tahanan. Aku terhenti didepan gerbang. Jantungku berdegup cukup hebat. Aku masih ingat, banyak orang mengatakan jika jeruji besi adalah tempat bagi orang yang jahat. Entahlah, aku jadi berpikir. Apakah Boby orang jahat?