Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 12 ~ Tempat Yang Sama (Boby POV)


__ADS_3

Aku berpikir banyak pada akhirnya setelah benar-benar melihat jeruji itu. Saat aku berlari dan menemukannya sedang tersenyum. Menyapaku tanpa ragu. Membuatku merasa, aku diberi kesempatan kedua dan inilah saatnya semua berjalan normal. Sesaat aku lupa jika aku adalah bagian dari dunia gelap.


Satu hari saat selesai sarapan. Berdiri di lapangan setelah menjemur pakaian. Melihat langit yang berwarna biru. Mendengar radio yang diputar dan berkata jika hari masih sama. Mencium wangi Rosela yang baru saja dia seduh dan tersenyum.


Kembali ke dalam setelah selesai. Duduk diam dan masih melihat tempat yang sama. Hanya berjanji, saat aku bisa memperbaiki, akan lebih baik jika semua kembali biasa. Aku berjanji, saat datang perbedaan, aku akan benar-benar meninggalkannya. Merasa lelah karena terus saja di kejar dan berlari entah kemana.


"Makanlah yang banyak."


Astrid tersenyum. Duduk di seberang ku dengan penuh kehangatan. Aku masih diam seribu bahasa. Saat dada terasa sesak. Ingin mengatakan hal yang terlalu banyak namun bingung harus memulai darimana.


Sementara dia, siap jadi pendengar yang baik. Aku merasa, dunia berhenti tepat di depanku. Bahkan, rumput kering di lapangan membumbung kan tinggi bunga-bunga yang masih terlihat hijau. Udara masih sedikit sejuk diluar sana.


"Bagaimana kamu sampai?"


"Argo."


Aku langsung menatap tajam mata indahnya. Sungguh, ini tak membuatku merasa tenang. Jika mereka mulai menyentuh kehidupan yang aku sembunyikan.


"Pergilah saat mereka datang."


Tegasku dengan wajah tidak suka. Ku lihat, Astrid hanya menahan rasa kecewa.


Riuh tahanan membuat aku selalu terjaga saat malam. Hanya bisa melihat langit yang sama dari kejauhan. Membayangkan saja membuatku sedikit bahagia.


Lalu, empat tahun berlalu begitu saja. Kembali pada bulan Oktober saat musim dingin pertama ku hirup diluar bangunan itu. Tahun ini datang lebih cepat.


Salju masih tipis tapi sedikit lebih deras. Membiarkan pori-pori kulitku sedikit terbuka. Menikmati udara segar yang yang sedikit basah. Berjalan menjauhi tempat itu dan kemudian menghilang dalam bayangan salju.


Aku terlalu takut. Bahkan sekedar bertanya bagaimana kabar dan keadaanmu. Butuh waktu banyak bagiku mengakui penyesalan hingga rasanya sedikit sulit. Tunggulah saat keadaan membaik dan aku bisa menghubungimu lagi.


Aku berdiri didepan persimpangan jalan menuju toko Astrid. Hendak mampir sekedar melihat tapi urung dan pergi ke arah sebaliknya. Aku merasa itu belum cukup sampai disana. Merasa tidak pantas.


Salju semakin lebat menutup jalanan. Aku berjalan menghapus jejak trotoar. Menjauhi bangunan itu dengan langkah pasti.


Saat siang tiba dan aku sudah memasuki halaman rumah Argo. Dia baru saja keluar hendak mengirimkan beberapa paket. Melakukan pekerjaan yang masih sama bersama yang lain.


"Kapan datang?"


"Aku berhenti. Jangan cari aku lagi."


Aku berbalik arah dan pergi keluar dari halaman rumah Argo yang dipenuhi salju tebal. Hanya butuh waktu semalam membuat halaman ini bisa dipakai untuk bermain ski.


Argo mematung dengan barang ditangannya. Dia tidak mengatakan apapun selain 'Baiklah'.


"Apa di sini disewakan?"


Tanyaku pada seorang yang tengah duduk didepan rumah itu. Dia berdiri dan menghampiri dengan cepat.


"Terimakasih."


Dia lalu pergi setelah membuka pintu dan menyerahkan kunci rumah padaku.


Duduk diambang pintu dan menatap rumah-rumah warga setempat yang begitu padat. Kabel yang saling terhubung dan beberapa burung terbang berlalu-lalang. Menghembuskan napas untuk berterimakasih. Hari ini adalah keajaiban karena suatu alasan.

__ADS_1


Saat sore tiba dan kran air membuat seluruh dapur basah karena bocor. Atau, saat lampu kamar mandi tidak dapat menyala karena rusak. Saat aku harus tidur tanpa selimut dalam udara sedingin ini. Aku menikmatinya dengan baik.


Datang pada sebuah tempat dan mengatakan semua yang bisa dilakukan. Merencanakan segalanya dengan mencari uang.


"Kamu harus mencatatnya dengan teliti. Dari bagian ini, hingga ujung. Jika sudah silahkan salin dan kirimkan padaku."


Seorang teman baru memberitahu cara aku bekerja disebuah pabrik tekstil. Diam dan patuh, itulah yang jadi peraturan pertama ditempat baru ini. Bekerja di sebuah pabrik dengan mesin yang begitu cepat. Aku bahkan tidak bisa melihat apakah hari ini cerah atau tidak.


Duduk sendirian menikmati makan siang di bangku. Di ruang istirahat yang cukup besar ini. Memakan nasi dengan telur dan sayur. Lalu meminum banyak air putih dan kembali pada rutinitas setiap harinya.


Ini tidak begitu sulit. Meski sebagian orang akan mengatakan jika tahun ini datang, maka beberapa toko akan tutup. Bisnis masih cukup lancar. Bahkan, beberapa orang bisa datang ke kedai dan menghitung laba mereka.


Lalu, sebagian yang lain menjualnya dengan harapan jika satu hari setelahnya ada keberhasilan.


Rasanya begitu penat. Bahkan membuat tengkuk leherku hampir lepas. Tapi, begitu menikmati karena ini adalah hidup yang sangat normal. Berhasil pergi dari mimpi terburuk merupakan anugerah. Selain itu, masih bisa bahagia karena memberikan kesempatan seperti ini.


Satu hari di musim berikutnya. Duduk dalam bis sesak, saat seseorang permisi karena ingin disebelah ku. Dia menatapku dengan ragu.


"Boby?"


Menoleh. Gadis itu tersenyum memberikan tangan ingin mengucapkan selamat. Dia menenteng beberapa buku dengan kacamata yang cukup tebal.


"Sibuk kuliah sampai mata jadi minus."


Ririn membetulkan kacamatanya. Aku tersenyum dan mulai mendengar ocehannya tentang masa lalu dan kabar Astrid sekarang.


Bis berhenti setelah berjalan cukup lama, di sebuah halte. Ririn turun tapi masih saja melihatku. Dia berdiri didepan halte dan melambaikan tangan mengucap jumpa lagi. Melihatnya dari kaca bis yang sedikit kusam. Sementara bis perlahan kembali melaju dan bayangan gadis itu memudar diganti lampu-lampu jalanan yang bersinar diatas aspal. Tanpa melupakan senja yang mulai menyambut hari.


Aku kembali sendiri. Menatap jalanan dengan laju bis yang sedikit lambat dari biasanya. Berpangku tangan memikirkan hari berikutnya dan apa yang akan terjadi. Lalu perlahan, hanyut pada jalanan yang dipenuhi orang berlalu-lalang.


Berjalan ke dapur. Membuka wadah terigu dan memulai aksi disana. Astrid akan mengatakan jika sulap sudah dimulai. Aku tersenyum kecil.


Minyak sudah panas dan berlalu satu jam lamanya. Sementara itu, donat mulai masuk dan terus mengembang. Aku duduk dan melihat jelas asap masih mengepul. Taburan gula halus yang meleleh membuat donat goreng itu mengingatkan ku pada Astrid. Aku memakannya. Terus sampai piring kosong dengan beberapa kaleng soda. Kemudian mencucinya dan menaruhnya di rak.


Membuka catatan setelah menyalakan radio. Disana bahkan ada foto Astrid yang sengaja ku selipkan. Sebagai pengingat masa indah yang pernah aku alami meskipun sebentar. Sampai aku siap, setidaknya.


Kamu menghilang begitu saja saat aku datang


Bahkan, tanpa lebih dulu mengatakan salam


Setidaknya kamu bisa memberikan seikat Rosela berwarna merah


Itu sangat menyenangkan


Memberikanku tanda jika sekarang tidak baik-baik saja


Membuat dunia sedikit rumit karena aku terus bertanya 'kenapa?'


Lalu perlahan, kebiasaan itu mulai hilang


Aku mulai tak melakukannya karena lupa


Karena aku berpikir menunggu adalah sesuatu yang mustahil

__ADS_1


Ini mungkin lebih mudah dari bayangan


Membiarkan masa-masa sulit menguasaimu dengan erat


Tapi, kaki masih harus berjalan bukan?


Bersiaplah sebentar saja


Karena saat kamu kembali, mungkin aku tidak berada disana saat itu


Astrid dari toko kue tua diseberang jalan dengan radio yang berisik


Masih terdiam mendengar siaran malam itu. Lagi, dia memberiku pesan yang sedikit menakutkan. Hingga ku banting pena dan berlari sekuat tenaga keluar rumah. Menuruni jalanan sepi dan mengancing baju yang sempat terbuka.


Berdiri menunggu bis datang dengan harapan segera. Lalu duduk dengan perasaan tidak tenang karena hujan turun begitu lebat. Kakiku bahkan terus memantul hingga bis berhenti dan aku masih berlari setelahnya. Meski rintikan hujan yang perlahan deras mulai mengguyur tubuhku. Tak begitu memperdulikannya.


Aku terdiam cukup lama di depan toko familiar yang menghentikan langkahku. Cat nya sudah berganti warna. Sebab, terkahir ku ingat, disini masih pastel dan kini berwarna cokelat tua. Selera pemiliknya rupanya telah berubah.


Dulu, dia sangat suka warna pastel. Baginya, itu adalah keceriaan yang begitu menenangkan. Lembut dan sangat identik dengan kepribadian aslinya.


Langit sore ini mendung dengan sedikit gerimis yang begitu deras. Orang-orang juga masih berlalu lalang melewati jalanan didepan ku. Sementara dia, masih saja sibuk menaburkan gula halus di atas donat panas yang baru di angkat oleh sahabatnya.


Itulah cara dia makan donat goreng. Selalu membuat gulanya meleleh karena panas. Dengan seduhan teh Rosela, dia pasti akan begitu lahap menikmatinya. Apalagi, sore ini gerimis cukup deras. Bukankah, itu adalah waktu yang cukup pas untuk sedikit bersantai dari berjualan pastry?


Bahkan air mengering tanpa aku sadari. Rupanya matahari sudah terbenam saat dia mulai merapikan kue yang ada di rak dan menutup tirai tokonya. Dia berjalan keluar dengan tas mungil yang menggelayut di tengah tangan dan pinggangnya.


"Aku duluan ya?"


Sahabatnya, mulai menjauh dari sana. Beberapa saat, aku bahkan tak lagi melihat bayangannya.


Dia masih sibuk memainkan ponsel. Mungkin, dia sedang membalas pesan atau sejenisnya. Sampai-sampai dia tidak menyadari keberadaan ku yang sudah berdiri cukup lama didepannya.


Dia mulai menatap mataku nanar. Seseorang yang mungkin baginya sudah lenyap, tiba-tiba berdiri memandanginya dari jarak sedekat ini. Aku percaya, dia sedikit kaget.


"Boby?" Tanyanya dengan datar.


Aku tersenyum. Dia masih bisa mengenaliku rupanya. Aku akui, aku lega karena itu.


Meskipun tak percaya dan ini seperti mimpi. Nyatanya, dia terlihat terpukul. Kembali bertemu denganku saat dia mungkin sudah tak ingat pernah mengenalku.


"Bagaimana kabarmu?"


Dia masih terdiam. Mata nanarnya perlahan tergenang air mata bening yang siap tumpah namun dia tahan. Dia lemas mendapatiku adalah kenyataan yang harus kembali dia lihat setelah sekian lama.


Segukan tangis akhirnya pecah. Dia tersedu ditengah derasnya hujan yang tiba-tiba turun.


Langit muram dengan tetesan hujan. Pintu-pintu toko sebagian mulai tertutup. Lampu-lampu jalan juga sudah menyala terang. Hingga membuat buih hujan semakin terlihat jelas menerpa wajahnya yang mengurung kesedihan.


Dia menangis tersedu dengan perasaannya yang tak bisa ku tebak. Setelah menghapus air mata, dia langsung mengejarku yang masih diam ditempat. Dia memelukku dan terus menangis. Bisa kurasakan, dia takut jika aku kembali pergi. Pergi jauh meninggalkannya tanpa kepastian.


"Kenapa kamu baru pulang sekarang? Kamu kemana Bob? Kamu pergi kemana? Kenapa aku tidak bisa menemukan kamu?" Berondong bibirnya yang basah karena air hujan.


Dia masih saja menangis meski aku membalas erat pelukannya. Dia begitu takut.

__ADS_1


Hujan masih saja mengguyur meski hari sudah beranjak malam. Dalam keheningan air hujan berlatar langit hitam bercampur abu. Dia menangis dalam pelukanku untuk waktu yang cukup lama.


__ADS_2