Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 3 ~ Mercusuar (Boby POV)


__ADS_3

Pagi terlewat sangat cepat. Dia mengajakku pergi ke bakery miliknya. Tempat kenangan yang sudah lama aku tinggalkan. Kaki berjalan dengan beriringan. Antara langkah ku dan langkahnya. Kami saling menggenggam tangan sepanjang jalan seolah takut jika jari-jari ini akan kembali terlepas. Menyusuri trotoar yang penuh dengan hiruk pikuk pejalan kaki dimana kami masuk didalamnya.


Astrid membuka pintu kaca berlapis tirai manik berbentuk bunga Daisy itu. Terlihat setelahnya, seseorang yang juga familiar bagiku.


Dia bangkit dan menatapku tak percaya. Dia bahkan menutup mulutnya karena terkejut. Dengan bangga Astrid menggandeng tanganku seolah menunjukan jika aku benar-benar nyata.


Ririn hanya tersenyum berbinar sambil sekali menyebut namaku.


Kaki kami melangkah menjauhi bakery. Bangunan berwarna cokelat tua itu akhirnya sirna dari hamparan pertokoan yang berdiri tegak menghalangi pandangan kami.


Rumput hijau dengan desiran angin yang cukup kencang. Pinggir jalan dipenuhi pohon rindang yang begitu lebat dengan daunnya yang berwarna kuning. Terlihat berjatuhan karena di goyah oleh angin. Bahkan, pemandangan seperti ini terlihat seperti hujan daun yang begitu indah. Menghampar hingga menggerus jalanan aspal yang tak nampak bentuknya.


Astrid begitu senang dengan pemandangan seperti ini. Dia pasti sering ke tempat ini. Dia menarik tanganku dan menengadah-kannya keatas untuk menangkap daun yang berguguran. Dia tak berhenti sampai aku berhasil menangkapnya meskipun hanya satu helai.


Setelah bosan dengan guguran daun itu, Astrid duduk di bangku dekat ladang disamping jalan. Aku hanya mengekor dan ikut duduk setelahnya. Dia mengeluarkan dua buku dari tas kecilnya. Buku berjudul Mercusuar dia berikan padaku. Sementara ditangannya, bisa kulihat buku berjudul Apel Dan Cinta Pertama. Kedua buku yang ditulis oleh orang yang sama-Rosania Clifft.


Kubuka lembar pertama halaman buku bersampul putih bercorak ungu kehitaman itu. Didalamnya, aku langsung disambut oleh gambar mercusuar berwarna putih. Lanjut ke lembar berikutnya, aku terdiam sejenak. Berhenti di sana tanpa aku sadari.


Bahkan saat aku tak mengerti

__ADS_1


Aku semakin berlari menjauh darinya


Saat itu aku terlampau lelah


Hanya untuk menoleh


Aku tidak sanggup


Tapi tetap baik-baik saja


Aku tidak tahu, bagaimana dia akan menemukanku akhirnya


Berbekal lampu untuk mencari jalan kembali


Dia benar-benar menemukanku


Aku tertahan disana. Pandanganku goyah mengarah ke wajah Astrid yang tengah serius membuka lembar buku miliknya. Dia begitu serius sampai tak sadar jika aku mengamatinya sejak tadi.


"Saat itu aku benar-benar percaya kamu akan pergi. Tapi, begitu saja?"

__ADS_1


"Ya, tiba-tiba saja. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku pergi."


"Itu kata-kata romantis yang baru aku dengar. Kamu bukan pujangga yang baik."


"Benarkah?"


Astrid tertawa kecil menutup buku bacaannya yang belum selesai. Tapi, tidak denganku yang sudah merampungkannya sejak tadi.


"Hari itu tanggal 1 Oktober. Benarkah aku melewatkannya?"


"Aku rasa tidak."


"Aku harus menghubungi seseorang. Lusa aku akan datang kembali."


Ku lihat raut wajah Astrid dengan penuh kesabaran mencoba mengangguk. Menyetujui ucapanku yang ditolak mentah oleh hatinya.


"Aku akan datang ke toko."


"Baiklah."

__ADS_1


Kami berdiri saling menghadap. Tangannya begitu erat menggenggam tanganku. Jarinya bahkan menautkan diri ke jariku. Aku tahu, berat untuknya karena rasa percaya itu. Tapi, setidaknya. Di toko aku akan menemuinya. Aku tidak akan berandai-andai terlalu tinggi. Membawanya terbang dan meninggalkannya dalam kekosongan. Cukup di pagi saat hari masih temaram, aku datang dengan teh Rosela dan donat goreng. Lelehan gula halus yang begitu mengkilap, menatap ke arah mata Astrid dan mengajaknya duduk. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.


__ADS_2