Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 18 ~ Setengah Dari Jawaban (Ririn POV)


__ADS_3

Rasanya benar seperti teh Rosela yang begitu Astrid gilai. Aku tahu kenapa dia begitu suka dengan cairan merah itu. Bukan karena rasa, tapi karena ada magnet bernama Boby di dalam sana. Aku tahu ini sedikit gila, tapi aku juga ikut tertarik meski jujur, aku tidak suka dengan rasa teh itu.


Lalu, pagi datang setelah semalam aku membereskan semua barang-barangku. Menumpuknya dengan rapi di koper yang sudah ku siapkan jauh hari.


Semua sudut ini, membuatku tersenyum sesaat. Sebelum mataku jatuh pada sebuah benda di atas nakas, yang begitu familiar. Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan aku menyimpan foto Boby di sana.


"Ini mudah, kamu yang membuatnya sulit Boby!"


"Lalu, apa kamu pernah bertanya pada Astrid, apa ini mudah untuk dilakukan?"


"Aku tidak ingin tahu apapun, membuatku sedikit penat Boby. Apakah di tempat yang sama, kamu bahkan memberinya seikat Rosela itu?"


"Ya."


"Bagaimana denganku?"


Aku terhenyak dari lamunanku. Kemudian membuka bingkai foto itu dan mengeluarkan foto Boby. Ku lipat dengan kasar sebelum akhirnya mendarat di dalam dompetku. Tepat di mana aku sering lupa keberadaan kantong tersembunyi dalam dompetku itu.


"Ada sesuatu hal, ya, disana."


"Bodoh!"


"Hahaha, kamu terlalu kecil untuk memahaminya."


Aku lagi-lagi tersenyum mengingat hari itu. Saat semuanya belum serumit ini. Bahkan aku bisa melihat Astrid memakan satu mangkuk mie tanpa jeda.


Aku bahkan bisa bernapas lega sekarang. Menghirup udara kebebasan saat aku berhasil pergi dari semua masalah yang ku buat sendiri. Berdiri cukup lama di samping kotak surat. Berkali-kali pula, aku mencoba membuat diriku yakin meninggalkan sepucuk surat itu di sana. Bahkan, kakiku kembang kempis karena jongkok dan berdiri merasakan ketidak yakinan dalam hatiku.

__ADS_1


Bahkan aku tidak tahu saat Boby sudah berdiri di depanku. Dia menatapku dengan ramah, seperti biasanya.


"Kamu benar-benar orang yang cukup berani untuk itu."


"Setidaknya, aku berusaha."


"Aku sudah membuatnya."


"Baiklah."


Boby berdiri dan mengulurkan tangannya meminta koper yang sejak tadi bertengger di depanku. Aku tersenyum semanis mungkin menyambutnya. Lalu, Kemi berjalan menuju jalanan di ujung gang untuk mencari taksi.


Sepanjang perjalanan, Boby hanya diam menatap pemandangan di luar jendela. Terlalu sibuk memikirkan segala hal. Tapi, tak lupa jika di sisinya masih ada aku yang sedang duduk dengan tenang.


"Lalu, kamu akan bagaimana di sana?"


"Begitu normal."


Aku tertawa mendengar jawaban itu. Mungkin sejak dulu, aku kurang normal, bagi Boby.


"Tidak begitu baik kan?"


Boby langsung menoleh kasar ke arahku. Dia heran.


"Kamu tahu, itu selalu berputar di otakku. Rasanya rumit."


Aku menatap mata Boby dengan dalam. Berusaha mendapatkan diriku di pupil kecilnya.

__ADS_1


"Kadang, mengatakan pada diri sendiri. Ini sangat sulit sebelum aku mencobanya. Tapi, memang benar. Memberikan sedikit rasa percaya, aku tidak benar-benar buruk karena sudah mencoba banyak cara."


"Keadaan memang tidak selalu baik. Tapi, ada cahaya yang bisa menuntunmu."


Aku memberikan Boby isyarat bahwa aku sungguh baik-baik saja.


Sampai akhirnya mesin mobil berhenti dan kami turun dari taksi. Bandara begitu ramai, tapi dari kejauhan aku bisa melihat siapa yang sedang berdiri bersama seseorang di sana. Tatapannya bahkan lurus ke arahku berdiri sekarang. Tak sampai sepuluh menit aku sudah berdiri tepat di depannya.


Astrid mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Aku tersenyum, kemudian memberinya jabatan hangat yang dia inginkan. Feri pun ha ya tersenyum setelah mengatakan "hai"


"Aku tidak tahu harus mengatakan hal apa. Setidaknya, beberapa hari ini aku benar-benar mengukir sedikit kenangan."


Astrid menarik napasnya cukup dalam. Feri tersenyum dan menepuk bahuku pelan. Memberiku semangat yang memang sangat aku butuhkan.


"Ini adalah bagiannya?"


Ucap Astrid mengacungkan surat ditangannya. Menunjukan padaku jika segel amplop itu sudah terbuka dan dia sudah membaca surat yang sempat ku tinggalkan di dalam box.


Dengan haru aku langsung menubruk tubuh Astrid dan erat memeluknya. Air mataku bahkan nyaris tumpah karena rasa haru itu. Tapi, Astrid mendekap ku. Dia meyakinkanku jika di dunia ini masih ada hari baik yang akan menanti di luar sana.


"Jaga dirimu baik-baik."


"Jangan khawatirkan apapun. Aku masih punya satu karton ramen."


Aku tertawa kecil meraih koperku. Astrid, Boby dan Feri ikut tertawa menyambut leluconku yang tidak lucu itu. Kemudian perlahan, aku mulai melangkah pergi meninggalkan bayangan ketiga orang itu. Menuju pintu di depan sana hingga tidak lagi terlihat dari mataku ketiga sosok itu, utamanya sosok Boby.


Ringan langkahku. Beban itu sudah hilang, setidaknya aku masih memiliki satu kenangan yang bisa ku simpan. Aku tidak yakin ingin mengingatnya, karena itu membuat semuanya terasa rumit. Tapi setidaknya, aku sudah duduk di pesawat meninggalkan semua masalah itu. Bersiap menghadapi hal baru yang sudah menungguku daripada sepiring donat dan secangkir teh merah juga suara berisik dari radio di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2