
Hari masih terlalu sore untuk kembali ke rumah. Sementara itu, melihat Feri dan Astrid, merasa dunia begitu sempit. Di tempat ini, bahkan begitu hening meski banyak pengunjung memesan.
Aku hanya merasa, dimana ada Astrid, di sana pasti ada gemersak radio. Begitupun malam ini. Tapi, dia terlihat biasa saja. Menyelesaikan segala pemikiran yang begitu jelas di sudut kepalanya. Lalu, suara muncul mendahului ucapanku.
"Ini sedikit ambigu."
Feri menoleh ke wajah Astrid dengan tatapan yang sangat jelas. Lalu, aku juga terhenyak sedikit. Menatap Feri heran dengan pertanyaan yang dia ajukan.
"Sekarang apa?"
Feri hanya tertawa kecil melihat sudut meja. Membiarkan Astrid dalam situasi canggung. Tanpa meminta Astrid menjawab atau memberikan wajah yang membuat kami mempercayai pertanyaan kami.
Astrid hanya tersenyum dan meneguk soda. Melihat jalanan di luar sana. Membiarkan aku terkatung-katung dengan jawaban yang tak kunjung dia berikan.
Lalu keheningan itu di isi dengan suara yang datang dari meja pelayan. Mendengarnya membuatku melihat Astrid yang tak menyadarinya.
Aku bisa mengatakannya hari cukup baik. Melihat bagaimana orang-orang tumbuh dengan cepat. Sedikit lebih merasa lega. Ini seperti beban dari puncak gunung. Woa! Bukan begitu lebih baik? Disanalah kita akan tahu bagaimana hari yang akan datang bukan?
Apakah kamu juga bisa menulisnya menjadi catatan? Terselip di antara buku yang biasa dibaca dan baru memahaminya. Seperti mengatakan "oh, aku tahu sekarang" seperti itu.
"Aku sudah tahu jawabannya bukan?"
Aku menggugah Astrid dengan pikiranku. Tebakan yang sudah bisa ku nilai dengan cara yang ku mengerti. Membuat Astrid memberikan tatapan itu padaku dengan seketika. Dan satu hal lain, Feri merasa aku terlalu berlebihan. Hingga dia menerobos dinding dimana Astrid masuk, dalam mataku.
"Lusa aku akan berangkat wajib militer."
Mungkin ini sedikit kejutan yang ku siapkan untuk Astrid. Hanya ingin memastikan, bagaimana dia akan mendengarnya dan mencari di mana keberadaanku.
"Kehidupan tidak akan berhenti."
Lagi-lagi, Feri berusaha menyanggahku. Memberiku sekat agar Astrid merasa baik-baik saja.
"Begitu juga dengan segala hal."
__ADS_1
Menjelaskan pada Astrid, tentang arah yang ingin aku tunjukan.
"Heh, begitulah."
"Kadang ada sesuatu yang tidak bisa kita jalani namun terus memaksa keadaan. Itu sedikit menyakitkan."
Aku dan Boby menghentikan pembicaraan yang lebih mirip argumen terselubung setelah Astrid menegur cara kami.
"Aku harus pulang. Terimakasih untuk hari ini."
Ku lihat, dia bangkit dari tempat duduknya dan memakai mantel. Berjalan pergi dan beberapa detik berdiri di ambang pintu sebelum akhirnya menghilang dari tempat ini.
"Kehidupan militer tidak terlalu buruk."
Aku tertawa kecil mendapat penghiburan Feri. Dia pernah merasakannya lebih dulu dariku.
"Dia selalu menghilang saat aku datang. Berpura-pura menjadi menyebalkan. Aku tahu itu, tapi semakin membuat aku merasa dia memang hal terbaik. Astrid."
"Lalu?"
Feri mengangkat telapak tangan kanannya dan memperhatikan dengan wajah yang bisa ku kenali arti dibaliknya.
"Kita tidak tahu, beberapa hal berubah dimasa depan, bukan?"
"Ya, tidak akan terus berputar."
Feri mengangguk kemudian. Dia menuang soda ke dalam gelas dan mulai menyantap makanan yang sudah mulai dingin.
Mobil Feri akhirnya berhenti. Tepat di bawah tempat tinggalku. Membuka pintu bersama dan dia keluar di samping tempatku berdiri. Lalu memberikanku sebuah buku yang sangat asing. Sangat asing sampai aku membaca sampulnya yang berwarna hijau muda. Feri tersenyum menepuk bahuku. Kemudian pergi bersama mobil hitamnya. Menghilang di jalanan lengang yang sepi.
Aku masih menatap intens buku itu. Feri benar-benar melakukannya. Beberapa lembar ku buka dengan tanpa niatan. Lalu, berhenti dalam penggalan kalimat yang begitu mengesankan bagiku. Di antara perjalanan jauh yang sudah tercatat rapi.
Rosella
__ADS_1
Berbentuk kuncup merah dengan salju yang mencair.
Aku akan menulisnya suatu hari nanti, dia juga pasti akan mendengar.
Aku tertegun dengan senyum yang mengembang tipis di pipiku. Ku Naoki tangga dan masih sibuk membaca kelanjutannya. Sampai aku lupa, jika hari semakin larut. Terlalu larut untuk menghabiskan beberapa lembar yang membuatku semakin merasa begitu ada di dalam sana.
Terbangun dengan hari berikutnya. Tanpa kabar dan tanpa suara. Setelahnya, aku berjalan mengisi rutinitas yang begitu biasa. Sarapan, mencuci baju, menyapu lantai, mencuci piring dan segala hal yang biasa aku lakukan. Menulis catatan kecil dan mendengar sesuatu yang begitu menyenangkan. Sampai berjalan keluar dan melihat beberapa mobil berlalu lalang.
Menaiki bis yang sedikit lebih sepi. Menuju tempat dimana kertas di tanganku akan terbaca besok, dan kemudian kembali lagi ke rumah. Menyelesaikan semua barang yang harus aku kemas dan ku bawa.
Lalu, pagi berikutnya saat aku masih terjaga dengan seragam yang sudah ku kenakan. Aku masih memutar radio mencari surat yang ku tulis. Nyatanya, belum juga terdengar sedangkan jarum terus berjalan. Berdiri kemudian di ambang pintu menatap segala hal di dalam tempat itu. Semua sudut ruangan yang biasa ku lihat. Tapi, radio sudah tidak menyala. Mungkin lain kali aku akan mengirimkannya lagi.
Taksi akhirnya mengantarku di antara cahaya matahari yang hangat. Orang-orang juga terlihat sibuk dengan sesuatu. Begitupun denganku.
"Tolong putar radionya."
Sopir taksi lalu menyalakan radio tapi tetap saja nihil. Benar saja, mungkin memang di lain hari karena stasiun kereta sudah ada di depan kakiku.
Taksi itu pergi bersama suara radio setelah menerima bayaran. Dengan pasti, ku lihat tiket dan gerbong di sebelah sana. Berjalan mantap dan duduk menunggu kereta yang akan mengantarku datang.
Wanginya kopi membuatku begitu bersemangat. Aku akan melanjutkan surat yang sudah masuk pagi ini.
Halo, nona donat. Ini aku yang sedang duduk di atas pipa. Ini seperti benang yang kusut, bagiku. Aku juga tidak begitu tahu persisnya. Tapi, sungguh membuat otakku akan meledak. Aku juga tidak tahu bagian mana yang harus aku ambil. Di sana sudah seperti tempat yang hanya ada teh dan donat, seperti katamu.
Aku tertegun mendengar suara itu. Menoleh ke asalnya dan benar, surat itu di baca pagi ini. Aku berdiri langsung dengan harap-harap cemas. Berusaha mendapatkan Astrid. Aku yakin dia mendengarnya. Tapi hampir setengah jam aku berdiri. Membidik wajah satu persatu sampai dengan harap salah satu di antara mereka adalah Astrid. Dan, dia tersenyum dengan peluh di ujung wajahnya. Mengambil napas lelah sambil menitikan air mata.
Dia datang dengan hangat dalam pelukan yang terbuka lebar. Lalu meng-eratkan tangannya.
"Aku di sini. Aku selalu di sini."
Dia benar mendengar suratku. Memahami apa jalan pikiran yang dia rajut untuk memecahkan teka-tekinya. Dengan lantang, dia mengatakan akan ada di sini.
Aku bangga hari ini. Mendongakkan wajahnya yang sedikit bercucuran keringat dan menatapnya dengan matahari di sana. Tapi, momen itu datang saat kereta tepat berhenti di samping kami. Aku menoleh memastikan jika benar itu adalah keretanya.
__ADS_1
Masih menatap mata Astrid yang begitu meluap-luap. Lalu melepaskan pelukannya perlahan dan menyurai rambutnya beberapa kali. Kembali menenteng tas yang sempat ku letakan dan melepaskan jari Astrid yang terikat di tanganku. Tapi, memberinya keyakinan jika aku akan kembali. Membenarkan semua perjalanan yang sudah berjajar di masa lalu untuk di bawa ke masa depan dengan anggukan Astrid yang begitu teguh. Aku bahkan tersipu karena hanya seperti itu jawabannya.
Kereta berjalan perlahan. Di balik kaca, aku bisa melihat lambaian tangan Astrid yang mengejarku dengan perasaan terbang yang begitu tinggi dan kemudian terhenti saat pembatas rel sudah habis dia lalui. Aku bahagia, bahkan hanya sesederhana itu untuk sekedar memahami, dan Astrid cukup untuk mengatakannya.