Tune In, Dropped

Tune In, Dropped
Bagian 10 ~ Dia Pergi (Ririn POV)


__ADS_3

Kotak masih terbalik dengan beberapa kue yang berceceran. Aku masih terdiam dan menatap kaget tak terhingga. Matanya begitu menusuk saat aku bertanya-tanya dalam benak terdalamku. Dia lebih memilih menitipkan Astrid untuk memberinya beribu penjelasan dan permintaan maaf.


Dua orang berseragam itu membawa Boby pergi. Lalu, menghilang begitu saja dengan suara mesin mobil yang begitu keras.


Daun diseberang jalan jatuh perlahan tertiup angin musim panas. Warnanya sudah memerah meski beberapa masih berwarna kuning. Pintu juga masih terbuka dengan jejak tangan Boby tertinggal disana. Sementara Astrid, terduduk lemas di bangku dekat radio tua yang masih menyala.


Dia terlihat begitu terpukul. Melihat Boby dipaksa pergi tanpa berkata apapun. Tiba-tiba menghilang begitu saja.


Aku mendekatinya. Merangkul pundaknya penuh keyakinan. Dia terlihat ragu menatap cahaya matahari yang merangsak lewat celah kaca pembatas. Mereka juga lewat di antara sela pintu hingga bayangan lampu jalan yang berada tepat didepan toko bisa ikut masuk terlihat.


Perlahan, aku bisa merasakan airmata Astrid yang hangat jatuh di atas lenganku. Dia menangis tanpa suara.


Semakin ku eratkan lenganku. Memberinya tumpuan agar bisa menumpahkan semua beban yang sedang dia rasakan.


Memasuki musim dingin tahun ini. Dengan sedikit salju menutupi semua tempat. Daun sedikit hijau dengan bunga yang terlihat beku. Orang-orang juga lebih suka berada didalam rumah karena udara yang dingin.


Setiap malam, lampu temaram selalu terlihat lebih gelap karena salju yang turun berterbangan. Sedikit lebih tebal, bahkan menyusahkan beberapa orang yang berjalan.


Astrid sibuk dengan catatan di meja. Sesekali dia juga memeriksa dengan kalkulator dan kemudian kembali mencatat dengan cekatan.

__ADS_1


Aku masih berdiri persis didepan pintu. Menatap garis trotoar dan penyebrangan yang masih bisa ku lihat. Bahkan, sesekali orang yang lewat juga bisa masuk ke penglihatan ku. Menatap langit saat salju perlahan turun dan kemudian menyalakan lampu warna-warni di teras toko.


Sekarang semua orang memakai jaket tebal. Berjalan ditrotoar dan menggosok tangan mereka. Udara sangat dingin. Bahkan tulangku seperti tertusuk panah yang cukup dalam. Apa? Semua orang bisa melihat, salju tebal dimana-mana.


Kamu masih berjalan dibawah payung. Sementara salju sudah menggunung diatasnya. Bertanya kapan musim dingin seperti ini berakhir. Sepertinya masih beberapa hari lagi.


Bisa membuat perapian menyala lagi. Mendekatkan cangkir cokelat dan menghangatkannya. Duduk di sofa hangat dengan selimut rajut buatan nenek. Warnanya pastel dan biskuit serta beberapa makanan sudah tersedia diatas meja.


Aku juga masih berdiri di depan pintu setelah menaruh buku dan tasku dibelakang. Hari ini, Astrid membuat banyak kue. Dia bahkan masih sibuk dengan adonan dan oven yang masih menyala.  Membuat dirinya sibuk dan lupa beberapa hari yang lalu.


Seorang anak datang dan aku mengenalnya. Dia mendapatkan sebuah kue cokelat dengan taburan kismis diatasnya. Memintaku membungkusnya beberapa dan bersama temannya, dia pergi beberapa saat kemudian.


Aku mengantar kepergian kedua anak itu sambil menutup pintu toko.


Datang tiga orang laki-laki dengan jaket tebal dan sepatu hitam. Mereka terlihat seperti pemuda berandal yang lebih suka membuat keributan daripada membeli kue dan pergi.


Mereka langsung masuk dan berdiri didepan rak. Melihat-lihat beberapa. Seorang membuka pintu freezer dan membuka kaleng susu, meminumnya dengan perlahan.


Dia meminta temannya untuk bertanya pada Astrid yang sibuk dengan hiasan kue.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Hey Argo! Tanyakan!"


"Diam, aku bisa bertanya sendiri!"


Mereka mengacuhkan bocah didepan mereka yang penasaran bahkan sempat melempar pertanyaan. Memilih Astrid dan menghampirinya.


"Berikan ini pada Boby."


"Dia sudah tidak berada di tempat ini. Karena orang seperti kalian?"


"Aish!"


"Tenanglah Rayan. Kita akan mencarinya. Bos pasti sudah marah-marah."


"Mari kita pergi."


Mereka membuka pintu toko dan menyalakan mesin sepeda motor beberapa saat. Roda berputar dan benda itu membawa ketiga orang itu pergi di bawah hujan salju.

__ADS_1


Astrid masih berdiri. Menatap lantai yang terlihat mengkilap karena cahaya lampu. Terlamun dalam ingatan saat seseorang pergi dan menatapnya dengan berkata 'maaf'.


__ADS_2