
Astrid masih saja tertawa melihat saudari barunya yang begitu kaku. Aku bahkan hanya bisa tersipu dengan kaus milik Astrid yang sekarang melekat di badanku. Celananya bahkan terasa kekecilan karena aku merasa sedikit susah bergerak. Tubuhnya memang kecil.
"Aku bisa mengatakan pada ibu jika saudariku sudah datang."
Tawa Astrid seraya memastikan baju itu melekat dengan baik dibadanku.
"Apa aku terlihat keterlaluan?"
Astrid makin menjadi dengan tawanya. Sampai dia bosan dan melihat ke arahku dengan teliti.
Tangannya meraih sehelai benang yang menjulur didadaku. Dia mengambil korek dan memutuskan benang itu agar tidak semakin terkurai. Setelah api padam dan benang masih menyala oleh percikan api, Astrid meniupnya perlahan hingga membuat aku bisa merasakan hembusan napasnya di dadaku. Aku menggigil geli, tanpa dia sadari jika aku merasakan sesuatu.
"Boby, apa kamu sudah tidur?"
"Belum."
__ADS_1
"Kadang,.... aku,.... merasa aneh menatap trotoar di depan toko. Merasa suatu saat seseorang pergi melewatinya."
"Kamu bisa berlari untuk memastikan. Aku datang dan berdiri di sana saat itu."
Aku berterus terang mencoba memberikan Astrid ketenangan yang membuatnya berpikir tentang hal yang dia khawatirkan, sedangkan itu belum tentu terjadi.
"Satu hari di kemudian hari, aku hanya berpikir jika aku tidak baik-baik saja. Tapi, sepertinya kehidupan ini lebih dari cukup. Sementara ada hal-hal yang begitu membingungkan namun indah di luar sana."
Menggambarkan pemikiran yang sangat kontras dengan hidupku sekarang. Aku benar-benar merasa, hal itu sangat meyakinkan jika aku bisa memulai segalanya dari awal. Seolah memberikan aku pengampunan dari pelarian ku yang sangat melelahkan. Tujuan yang tidak pasti, sampai aku menemukan kehangatan rumah.
Dia berbalik badan menatapku dibalik selimut yang dia kenakan.
Aku menoleh dan ikut mengganti posisi tubuhku. Ku ulurkan telapak tangan dibawah selimut yang menutupi ku, hingga tangan kecilnya mengeratkan jari ke tanganku. Dia membuat dirinya merasa tenang dan baik-baik saja.
Sampai musim panas dengan udara sejuk menyapa karena kipas angin yang menyala sepanjang malam. Bunyi binatang bahkan tak terdengar. Sepertinya di luar cuaca cukup cerah malam ini. Aku masih saja menatapi wajah Astrid yang begitu bersinar. Dia mulai terlelap dalam mimpinya. Sementara dengan setia, aku masih berharap besok semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Alarm berbunyi cukup keras untuk membangunkan ku dan Astrid dari tidur kami. Melipat selimut, dan duduk didepan meja sarapan. Astrid datang dengan dua cangkir teh Rosela dan donat goreng yang masih hangat. Dia juga membawa sekotak gula dan menaburkannya beberapa saat kemudian. Gula putih berubah jadi bening dengan perlahan. Dia meleleh seperti air dan mengalir melalui celah donat yang masih mengepul asap. Astrid lalu menatapku. Seolah mengatakan jika donat siap masuk ke mulutku kapanpun.
Tangan kami masih bersatu disamping piring dan cangkir sarapan. Mulut kami bahkan sibuk mengunyah. Di tambah, siraman teh Rosela. Membuat mulut kami ingin meleleh di pagi hari yang sedikit abu-abu ini.
Kaki kami menuruni tangga. Berjalan bersama melewati jalanan kecil menuju toko. Hari masih pagi karena jam masih di angka delapan. Tapi, masih saja langit abu-abu.
Sangat mudah hari ini. Segelas teh untuk semangat. Dunia masih mau memperkerjakan orang-orang yang melewati batas. Lalu, sedikit percikan dengan sentuhan musim panas.
Sepertinya tahun ini bisnis berjalan normal. Jika begitu, kamu bisa memulai untuk mencatatnya di nota lalu menempelkannya di dekat cermin. Setiap hari bisa terbaca bahwa di masa yang akan datang, kamu akan tersenyum dan melihat bagaimana kamu tumbuh dan berkerja begitu keras.
Astrid masih meletakan kepalanya di pundak ku. Dia membuka buku dan terlihat begitu larut. Bahkan, earphone di telinganya dia bagi satu ke telingaku dan tersenyum. Berpikir, siaran pagi ini harus aku dengarkan juga.
Bis cukup penuh. Beberapa orang berdiri dan bergeser dengan cepat karena tujuan sudah hampir sampai. Celah jendela bis juga terbuka sedikit, hingga rambut di puncak kening Astrid bergerak membelai matanya.
Beberapa kali dia berkedip dan masih saja melanjutkan buku ditangannya. Sesekali, dia juga melihat ke arahku, sesaat dan kembali terbenam oleh suara radio dan beberapa halaman yang sudah dia buka.
__ADS_1