
Fajar akhirnya berganti dengan temaram lampu jalanan. Kerumunan orang yang hilir mudik perlahan memudar. Meski, kelip lampu hias disamping pelataran dan depan-depan toko masih menyala.
Aku berjalan, menyusuri trotoar untuk bergegas pulang. Letih dan penat. Saat itu, aku hanya ingin duduk dan meluruskan kakiku. Bahkan, badan kumalku tak bisa kurasakan betapa bau dan sangat kotor. Aku mendesis sejenak melihat keluar jendela dengan seikat Rosela di tanganku. Ku lihat kembali kaos yang dia masukan dibalik celana kain berwarna itu. Dia begitu menarik. Caranya berpakaian bahkan mengalihkan perhatianku. Belum lagi, darimana dia mendapat Rosela ini.
Teko berbunyi sampai menumpahkan airnya yang mendidih. Selesai mandi dan handuk masih menutup rambut basahku. Aku mengangkat teko listrik itu. Menyiramkan ke tumpukan Rosela yang sudah ku potong didalam gelas. Baunya begitu harum. Warnanya yang cantik dan begitu menggoda mata. Beberapa sendok gula batu juga sempat ku tambahkan agar tidak terlalu hambar.
Ku buka catatan pengeluaran bulan ini. Ku periksa dengan sangat teliti karena, buku inilah yang akan menentukan masa depanku kelak.
Tetes demi tetes seruputan cairan berwarna merah itu membasahi lidahku. Sampai aku sadar saat malam datang begitu larut dengan suara derikan jangkrik yang menggema. Aku sudah menghabiskan minuman yang kubuat itu. Aku merasa, aku benar-benar menikmatinya.
Cuaca biasa saja pagi ini. Dengan sentuhan angin kecil yang menari mengitari perjalananku. Aku tidak berniat ke toko itu hari ini. Hanya ingin melepas penat sambil mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
Masih pagi, dan aku terhenti pada penjual ubi bakar di seberang jalan.
Manis dan empuk. Aromanya juga harum sekali. Aku bahkan menghabiskan dua potong ubi tanpa sadar. Itu cukup jadi menu sarapan ku pagi ini.
__ADS_1
"Apa untungnya tetap disana?"
Lena mulai mengoceh meski mulutnya dipenuhi makanan.
"Bagaimana bisnismu?"
Rasa penasarannya bahkan lebih besar dari porsi donat yang sedang dia makan.
"Mungkin, aku harus menunggu seseorang memberiku resep."
"Begitukah?"
"Kenapa tidak coba membuat pastry? Itu sangat mudah dan semua orang bisa memakannya dengan bahagia."
"Bagaimana denganmu? Apapun membuatmu bahagia asalkan itu gratis?"
__ADS_1
Lena tertawa kecil. Pipinya memerah karena malu.
Berganti dari itu, dia mengangkat sepotong donat didepannya. Dengan sungguh-sungguh, aku kenal raut wajah serius Lena kali itu.
"Kamu lihat ini? Ini bukan sekedar makanan yang bisa membuat kamu kenyang dan pergi begitu saja. Kuncinya adalah kebahagiaan. Kamu pasti bisa membuatnya."
"Ibu juga memberiku beberapa resep kue pie dan cupcake yang mudah. Kamu bisa mulai membuatnya dan menaruhnya di toko tua itu."
Aku tersenyum dengan ide brilian Lena. Tapi, aku masih mengambang untuk segera mengatakan aku menyetujui pikiran Lena tentang isi toko ku. Aku di batas keraguan tapi ada dorongan yang sedikit membuatku terganggu.
Persimpangan jalan sudah didepan mata. Lena melambaikan tangan dan kemudian menghilang dibalik tembok pembatas. Aku sendirian sekarang. Menenteng payung hitam panjang menyusuri jalanan. Langit terlihat cerah malam ini. Bersih dan tak terlihat awan bergerumbul. Aku bisa melihat ribuan bintang saling berkedip, meski sang bulan masih tak nampak.
*Bukankah malam ini udara sedikit dingin? Apakah kamu bisa melihat bintang-bintang itu? Lalu kamu bisa mengatakan apa yang kulakukan hari ini begitu menyenangkan. Aku bisa melihat daun-daun terbang seperti musim panas. Udara cukup terik di siang hari dan kamu masih sibuk di atas meja kerjamu.
Dan kamu tahu kenapa di jalanan banyak orang hanya diam saja? Mereka akan saling mengatakan, ini adalah hari indah dengan cara mereka sendiri. Lalu satu orang datang dan mengatakan 'hallo' untuk pertama kali*
__ADS_1
Suara radio itu semakin membuat semangatku menggebu. Sudah habis lima lembar catatan yang kubuat mengenai rencana apa yang akan aku lakukan kedepannya.
Toko tua, radio lama dan meja lusuh. Semua benda yang akan jadi kenangan di masa depan saat aku mengatakan pada dunia. Mereka adalah kenangan yang menemaniku saat aku tidak punya apa-apa.