
Lalu suatu pagi yang cerah. Masih di musim panas di hari berikutnya. Saat komplek pertokoan mulai sedikit ramai. Aku bergegas duduk menunggu dengan deretan kue di rak kayu yang begitu menggemaskan. Astrid terdiam di bangkunya. Mejanya setinggi dada, hingga bisa kulihat bagian wajahnya yang begitu bersinar ikut menunggu seseorang datang membuka pintu.
"Bagaimana kamu bisa membawa seikat Rosela pagi itu?"
"Apa kamu menyukainya?"
"Ya, tentu saja."
Pintu terbuka saat itu juga. Decitannya bahkan membuat telingaku sedikit terganggu. Kulihat dua orang perempuan sudah tersenyum menatap ke arah Astrid.
Mereka kemudian saling memeluk. Sedang yang satu, bisa ku tebak usianya masih belasan tahu. Dia terdiam karena belum mengenal Astrid.
"Lena."
"Boby."
Lena mulai berbicara mengenai gadis itu. Gadis yang memakai sweater biru dengan rok pendek serta sepatu berkaus kaki selutut. Dia sepertinya sedikit riskan dengan keberadaan ku.
"Namanya Ririn."
"Hai, kamu bisa datang ke sini setelah pulang sekolah."
"Baiklah."
__ADS_1
Astrid begitu ramah pada Ririn meskipun ini kali pertama mereka berkenalan. Bahkan, hal itu sedikit membuat perasaanku bahagia. Aku suka saat Astrid mengatakan salam dan membungkuk setelah beberapa orang datang ke toko.
Sampai siang itu, Astrid tengah duduk menghitung uang dan menulis catatan di buku kecilnya. Ririn baru saja tiba dan berjalan ke belakang untuk mengambil celmek. Dia kembali dan mulai melakukan suatu pekerjaan.
"Apa aku bisa merapikan beberapa ikat permen di sana?"
Astrid dan aku saling memandang heran.
"Apa adik kita perlu berkata formal sekarang? Aku masih sembilan belas tahun, bahkan belum genap."
"Aku paman yang akan menginjak dua puluh tahun bulan depan."
Astrid dan aku tertawa. Ririn pun ikut tersenyum. Dia tersipu dengan perkenalan kami dan hanya menundukkan kepala lalu bergegas pergi menghampiri pekerjaannya.
Saat jarum jam menyapa kami di angka delapan. Udara masih saja panas dengan Sepoi angin yang hanya datang sedikit. Pintu terkunci setelah Ririn menghilang dari pandangan.
"Cukup manis. Dia sedikit pendiam."
Astrid terus membicarakan Ririn. Gandengan tangannya bahkan tak melonggar meski dia membicarakan anak itu seribu kali.
Cahaya temaram masih setia ada di sekitar jalan menuju tempat tinggal Astrid. Pot-pot berisi tanaman juga masih ku lihat berada di teras rumah depan gang masuk. Sampai, kami tiba di depan pintu masuk dan Astrid melepas tangannya.
"Em, hari ini cukup menyenangkan. Aku juga merasa sedikit lelah."
__ADS_1
"Baiklah, istirahat. Selamat malam."
"Maksudku, apa kamu bisa mampir? Aku tidak keberatan asal kamu bisa memakluminya?"
Aku tersenyum mendengar tawaran Astrid yang mengajakku mampir. Kami pun mulai berjalan menaiki anak tangga yang cukup membuat kaki pegal.
"Aku bahkan suka menguncinya hingga beberapa kali. Kamu tahu, ini seperti ini menjaga brankas."
Dia terlihat gugup membuka pintu. Aku bahkan bisa melihat tangannya sedikit berkilau karena butiran keringat.
"Kenapa disini jadi sedikit panas?"
Dia bergumam menutupi rasa gugupnya.
Pintu terbuka dan dia mempersilahkan aku masuk. Aku melihat, dia adalah gadis yang lumayan rapi. Semua barang-barangnya tertata rapi. Hanya sedikit barang yang bisa ku lihat tak sedap dipandang. Selain itu, Astrid punya selera seni yang tidak biasa dalam menata ruang ditempat tinggalnya.
"Mungkin tidak banyak, tapi sepertinya cukup."
Astrid meletakan sekantung keripik jagung dengan rasa manis. Dia juga meletakan dua kaleng minuman, sepertinya cola, di samping keripik itu.
"Bagaimana kehidupan sebelum ini. Apa semua baik-baik saja?"
Dia menikmati cola itu sambil sesekali membersihkan sisa percikan di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Aku selalu lari. Aku pernah mengenal beberapa orang yang tidak cukup baik dan sekarang mendengarkan radio di toko roti."
Astrid tersenyum mendengar jawabanku. Dia terlihat puas. Lebih tepatnya, tak mempermasalahkan aku akan mengatakan hal apa setelah dia bertanya. Dan, sesekali dia berkata sesuatu yang membuatku tertawa kecil mengenai kehidupannya. Aku tidak menjawab apapun, hanya diam menjadi pendengar yang baik.