Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 11


__ADS_3

Ibu meminta bicara padaku. Ia nampak gusar, mungkin mengenai usulku membawa Niar ke Psiater.


"Den, kita lihat dulu ke depan. Kalau misalnya Niar menunjukkan gejala aneh, nanti ibu carikan psikiater untuknya. Alasannya, ibu tak pernah menganggap Niar ada gangguan. Gimana, Den?"


Rasanya tak sependapat dengan hal itu, tapi aku akan mencoba mengikutinya. Lagian sekarang ada kamera pengawas, aku nggak terlalu khawatir.


"Baik, bu. Aku akan mengamati perkembangan Niar ke depan. Jika dia semakin susah diajak bicara, aku kan langsung membawanya ke psikiater," ucapku pada ibu.


"Okey." Ibu setuju dengan pendapatku.


Pagi ini ku lihat Kak Ayu yang sibuk di dapur, ia dibantu oleh kedua anaknya, Farrel dan Ayesa. Terlihat Farrel mengepel lantai setelah Ayesa yang menyapunya terlebih dahulu.


'Baguslah,' pikirku saat melihatnya.


Anakku Icha masih belum bangun, ia masih tertidur. Aku menemui Niar yang sudah terbangun dan salat subuh, karena ku bangunkan.


"Dek, kita jalan pagi, yuk! Olahraga," kataku padanya yang malah berbaring lagi.


"Nggak."


"Ayo, Niar. Aku kan jarang pulang. Ingin sekali kita olahraga bareng, biar kamu dan aku sama-sama sehat." Aku memberikan alasan padanya.


Niar menoleh ke arahku. Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk.


Farhan yang sedang tidur, aku angkat tubuhnya, lalu ku gendong. Lalu kami keluar kamar, Niar mengekor di belakangku.


Ketika bertemu Kak Ayu, dia mundur dan menunduk.


"Eh, Niar, kamu udah cantik. Mau kemana nih?"


Niar terus menunduk. Aku menyenggol istriku, agar ia memberikan jawaban pada Kak Ayu.


"Iya, Kak. Kami mau olahraga," katanya.


"Kak Ayu, aku titip Icha ya! Kalau bangun, kasih tau aja Papa dan Mamanya keluar dulu."


Kak Ayu menatap Niar lekat, lalu pandangannya beralih padaku.


"Iya, Den. Jangan lama-lama, ya!" pesan Kak Ayu.


"Baik, Kak. Kami nggak bakal lama kok jalan-jalannya," kataku.


"Kamu nggak sarapan dulu, Den? Kasian Niar kayaknya butuh sarapan," kata Kak Ayu.


Aku melirik ke arah istriku. Ia tersenyum seperti dipaksakan, aku tau itu.


"Baiklah, kita sarapan dulu ya!"


Kami sarapan bersama, ku lihat sesekali Kak Ayu melihat ke arah kami. Saat kupergoki, Kak Ayu menunduk.


Niar makan lebih banyak dari biasanya. Aku senang hari ini dia terlihat lebih rileks.


"Makan yang banyak, Dek." Aku menambahkan telur ke piringnya.


Tak lama ibu datang, Niar buru-buru menyelesaikan makannya.


"Niar, kamu kenapa? Nggak usah buru-buru makannya. Santai aja," kata Ibu.

__ADS_1


Niar menghentikan kunyahannya. Tak lama ia mengunyah kembali setelah melihat ke arah bola mata ibu.


"Nah, gitu dong. Dihabiskan ya, Niar!" Ibu menyemangati istriku.


Niar makan kembali, sekarang kecepatannya melambat. Sepertinya ia kehilangan selera makan.


Lalu aku mengajaknya berangkat, agar tidak terlalu siang. Bisa-bisa panas di jalan.


"Yuk, Sayang. Kita berangkat sekarang!"


"Cepat kamu ikuti apa kata suamimu, Niar." Ibu mengatakannya sembari mengoles margarin dalam rotinya.


Niar manut, kami berangkat. Ibu menatap kami seolah mengawasi. Pandangannya seakan menghujam, menjadikannya tak enak di hati. Aku pun tak enak jika dipandang seperti ini.


"Dek, kamu mau kita jalan-jalan ke mana?"


"Keliling aja," katanya.


"Oke kalau begitu." Aku menuruti istriku.


***


Farhan terbangun. Ia bingung, malah aku yang menggendongnya, bukan mamanya.


"Farhan dah bangun ya?" tanyaku pada bayi berumur sebelas bulan ini.


Kemudian dia menangis. Wajah Niar yang tadinya manis, tiba-tiba memerah saat mendengar tangisan Farhan.


"Sudah, diam!" bentak Niar tiba-tiba.


Aku terpaku, saat Niar membentak bayi kami.


"Farhan? Ya ampun, maafkan mama!" Niar tiba-tiba terisak, ia ingin menggendong Farhan.


Aku biarkan Farhan digendongnya. Aku ingin dia bisa mereda tangis Farhan dengan caranya. Jangan sampai dia emosi saat menanggapi tangisan anaknya.


***


"Halo, Den. Kalian dimana?" tanya Ibu.


"Masih di taman, Bu. Ada apa?"


"Icha menangis terus. Katanya ia pengen sama Mama dan Papanya. Lagian sebentar lagi mama sama Kak Ayu mau arisan. Ditunggu ya di rumah, Den!"


Huh, ibu selalu begini. Giliran aku sedang senang-senang, eh, malah dihalang-halangi.


"Baik, Bu."


Aku mengajak Niar untuk pulang ke rumah. Dia yang sedang duduk di bangku taman, manut untuk ikut pulang ke rumah Ibu.


"Nanti kita jalan lagi. Sekarang kita temui Icha. Dia nangis saat bangun tidur tadi," kataku pada Niar.


"Baiklah, Bang. Makasih sudah ajak jalan-jalan." Senyum Niar mengembang tipis. Walau seperti itu, aku senang.


***


"Cha, sini!" ajakku pada gadis kecilku ini.

__ADS_1


Icha berlari ke arahku. Dia langsung mencebik.


Niar ku minta langsung ke kamar untuk menidurkan Farhan.


"Papa sama Mama ninggalin Icha!" Bibirnya terlihat lucu saat mengatakan itu.


"Maaf ya, Cha. Soalnya Icha masih tidur, kalau Papa pangku, berat loh. Icha kan udah gede." Aku memberitahunya agar ia paham alasan kami tak membawanya.


"Jadi?"


"Jadi, kalau Icha udah bangun, pasti Papa ajak. Karena Icha bisa jalan sendiri." Aku mengajak Icha duduk di sampingku. "Lagian kalau orang tidur, kalau digendong tuh lebih berat loh, Cha!" Aku terkekeh mengatakannya.


"Ih, Papa. Icha sekecil ini dibilang berat," katanya.


"Kecil apanya. Segini Icha dah berat loh. Mama pinter kasih makan Icha sih ya!"


"Icha dah bisa makan sendiri, Pa. Jadi kalau mama nggak bisa ambilin, Icha ambil sendiri."


"Masya Allah, anak papa pinter banget!" Aku mencium kedua pipi Icha.


"Hehe, Pa, Icha mandi dulu, ya!"


"Oke."


Aku memeriksa kamera pengawas melalui gawaiku. Di sana aman, tak ada apa-apa yang mesti kucurigai.


***


Kak Ayu dan ibu akan berangkat arisan. Terdengar percakapan mereka sebelum berangkat ke arisan.


"Ibu, mau ikut yang berapa sebulan?" tanya Kak Ayu.


"Sekarang Ibu mau ikut yang delapan juta sebulan," jawab Ibu.


Aku kaget. Penghasilan ibu kalau dijumlah paling lima juta saja. Itu pun dariku tiga juta.


"Wah, ibu jadi paling besar dong! Kerennya ibuku!"


Aku buru-buru meninggalkan kamar ibu. Takut ketahuan.


Lalu ku melihat rumah ini masih berantakan walau tadi sudah dikerjakan oleh Kak Ayu dan anak-anaknya. Belum lagi jemuran belum dikerjakan.


'Mereka lambat melakukannya. Palingan ibu tak berani menyemprot Kak Ayu. Bisa-bisa dia balas menyemprot ibu,' gumamku.


Aku memikirkan agar weekend ini berarti untuk istri dan anakku. Ku coba tawarkan pada Niar untuk jalan-jalan ke pantai atau ke gunung.


Kucoba menawarkannya. Tapi ternyata aku tak bisa. Aku harus mengirim file pada atasanku. Belum lagi merekap data yang masih belum ku kerjakan.


'Udah libur, tetep bawa kerjaan,' gerutuku dalam hati.


Lalu aku pun mengerjakannya. Saat fokus mengerjakan tugas, tiba-tiba Niar berteriak di kamar. Aku segera menemuinya.


"Ada apa ini? Kenapa Sayang?"


Niar terperanjat melihatku. Dia duduk dan terdiam.


Aku bingung, apa yang Niar lakukan sehingga dia berteriak?

__ADS_1


Ternyata Farhan sudah ada di lantai. Tapi anak itu tidak menangis. Apa yang terjadi padanya sehingga ada di bawah?


Bersambung


__ADS_2