
Kuraih tangan istriku, kemudian aku memeluknya. Saat ini Niar tak berontak di peluk olehku.
"Sabar, Sayang. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Semua terjadi karena kebetulan, Dek!" Aku membisikkan kata-kata tepat di telinganya.
Lalu dia mendorongku perlahan, langsung menatapku dengan sorot mata yang tajam. Aku juga memandang manik hitam itu.
"Kebetulan tapi berulang," katanya singkat.
"Benar, Dek. Memang dua kali ketemu. Dan kalau kamu keberatan, aku tak akan mengulanginya lagi. Jikapun aku berpapasan dengannya, aku kan memilih menghindar darinya. Bagaimana, Dek? Kamu puas dengan janjiku?"
Niar menghela napas pelan-pelan. Lalu ia mengangguk. Meng-iyakan semua perkataanku.
"Baiklah, Sayang. Aku janji takkan memperdulikannya."
Tapi aku harus tau ini perbuatan siapa? Apa ada hubungannya dengan Ibu? Aku jadi semakin yakin dengan itu.
Kemudian Niar mengangkat bokongnya. Dia ke toilet, lalu kembali ke kamar. Aku pun menyusulnya.
"Dek, kamu harus percaya denganku. Aku tak menjalin apapun dengannya. Ketika aku sudah berkomitmen menikahimu, aku akan menjaganya. Takkan kubiarkan komitmen itu luntur atau ternodai."
"Terima kasih, Bang," ucapnya.
***
"Icha, kita olah raga yuk! Sekarang kan hari Minggu. Kamu mau olahraga apa, Cha?" tanyaku pada Icha.
"Lari, Pa."
"Ayo! Keliling komplek yuk!"
"Ayo, Pa. Icha mau!"
"Mama mau ikut?" tanyaku pada Niar.
Niar menggelengkan kepalanya.
"Kasian Farhan," katanya.
"Ya sudah. Ayo Icha siap-siap, ya, sebelum kita lari!"
"Iya, Pa."
Lalu, Icha dipakaikan sepatu olah raga oleh Mamanya. Ia pun bergegas menghampiriku.
"Yuk, Pa. Aku sudah siap," katanya.
Kami berlari satu putaran, Icha masih ingin melakukannya. Dia semangat sekali untuk berlari.
"Wah, Icha bisa-bisa nanti jadi atlet lari. Soalnya suka banget sama olahraga ini, ya?"
"Iya, Pa. Pa, Atlet itu apa?"
"Itu loh yang suka olahraga, tapi dia dilombakan. Misalnya lari. Nanti ikutan lomba lari, nanti ada juaranya. Juara satu sampai tiga, biasanya," jelasku pada Icha.
"Oh gitu, ya, Pa. Nanti dapet apa hadiahnya? Dapet es krim?"
"Enggak, dapet mendali emas, perak dan perunggu biasanya. Kadang ada tambahan dapat uang juga," jelasku.
"Hehe ... Icha mauuu."
"Berarti harus rajin berlatih, Cha!"
"Iya, Icha mau!"
Kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Lalu, Icha mencolek bajuku.
"Apa, Cha?"
__ADS_1
"Itu siapa yang datang ke rumah?"
"Mana?"
"Udah di dalem, Pa orangnya. Ada mobilnya juga, masa Papa nggak liat," kata Icha.
"Ya udah, ayo kita pulang!"
Setibanya di rumah, ternyata Marcella sudah datang. Ia sedang berbicara dengan Niar.
Aku mengamankan Icha dulu ke kamarnya.
"Icha di kamar dulu, ya!"
"Memang kenapa, Pa?"
"Nanti Papa jelaskan!"
"Jangan lama-lama!" teriak Icha dari kamar.
"Eh ngapain kamu ke sini?" Aku menghampiri Cella.
"Mau main. Emang nggak boleh?"
"Kemarin kamu yang kirim-kirim foto itu?"
"Foto apa?"
"Kamu jangan pura-pura. Foto saat kita mengobrol di cafe dan di kantorku." Aku mengingatkannya.
Aku menoleh pada Niar, dia tertunduk.
"Beneran sumpah, aku nggak tau!"
"Siapa yang berbuat itu? Ada yang tau kalau kita ketemuan?" tanyaku.
"Ada. Ibumu."
"Dek, aku tegaskan sekali lagi sama kamu. Aku nggak ada hubungan apapun dengan Cella. Dan kamu Cella, coba tolong bicaralah. Kalau kita memang bertemu karena tak sengaja, ya kan?" Aku sengaja berbicara agak keras pada Cella.
"I-iya. Itu tak sengaja bertemu. Tapi sebelumnya aku telepon dulu sama kamu kan, Den?"
"Maksudnya?"
"Iya, minta izin padamu apa bisa kita bertemu setelah kamu dari toko?"
"Iya, karena waktu itu aku pikir, tak ada salahnya bertemu denganmu yang sudah lima tahun tak bertemu," ucapku.
"Iya, Den."
"Ya sudah lebih baik kamu pergi saja. Mohon maaf jangan ganggu lagi keluargaku, Cella. Cukup sampai di sini, aku tak terima jika kamu berkomplot dengan Ibu," jelasku panjang lebar.
Cella menghela napas, lalu pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun.
Aku meraih tangan Niar yang sejak tadi duduk di atas sofa.
"Bangun, Sayang. Kamu sudah dengar sendiri, kan? Menurutmu apa aku salah menduga ini ada hubungannya dengan Ibu?"
Niar diam. Aku mengangkat kepalanya dengan meletakkan tanganku pada dagunya.
"Bagaimana, Dek? Sekarang kamu percaya kan padaku?"
Dia mengangguk.
"Alhamdulillah. Aku bahagia, kamu masih percaya padaku. Terima kasih ya, Sayang!" Aku pun memeluk istriku dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Semoga Abang tetap jadi suami yang baik," harap Niar.
__ADS_1
Aku senang dia bisa mengungkapkan perasaannya tentangku lagi.
"Insya Allah ya, Sayang. Terima kasih atas doanya."
Setelah itu tak lupa aku membuka kamar Icha. Dia mencebik karena terlalu lama di kamar.
Aku menghibur Icha dengan mengangkat tubuhnya ke atas bahuku. Dia tertawa lepas, walau agak sesekali takut.
"Icha anak cerdas!" Aku mengatakannya saat dia di atas bahuku.
***
Ibu meneponku. Aku sebenarnya malas menerima teleponnya, tapi aku harus melakukannya. Karena mau bagaimana pun dia tetap ibuku.
"Ada apa, Bu?"
"Kamu kenapa nuduh ibu atas foto-foto itu?"
"Bu, dengan Ibu meneleponku seperti ini. Semakin jelas, pelakunya adalah Ibu," kataku.
"Kamu ini, selalu saja menyalahkan orang tua. Tapi, memang menurut ibu Cella jauh lebih baik dari Niar. Dia lulusan luar negeri dan masa depannya sangat bagus. Kamu menyia-nyiakan berlian, Deni!"
Ya Allah ... Ibu berpikir apa sih? Aku sudah punya istri. Jadi tak akan pernah sekalipun aku mencoba mengkhianati pernikahan kami."
"Munafik kamu, Den! Setiap laki-laki pasti inginkan lebih. Dan lbu lihat sendiri kalau Niar selama ini tak pernah melayanimu. Ibu ingin kamu bahagia, Den. Hidup dengan perempuan normal seperti Cella."
"Bu, berhentilah mengaturku! Cukup! Syurgaku memang ada padamu, tapi aku takkan menuruti perintah yang tak sesuai dengan syariat Allah," timpalku.
"Poligami disyariatkan loh!"
"Tapi itu tidak menjamin para pelakunya memperoleh syurga. Lagian akunya juga nggak mau, Bu!"
"Kamu jadi laki-laki sudah dibutakan oleh perempuan itu. Ingat Den, Ibu yang lebih berhak atasmu dibandingkan Niar!"
Ibu menutup teleponnya. Kata-katanya membuatku tak tahan, untung aku tak menghardiknya. Aku kan tetap menghormatinya selama semua ucapan dan perbuatannya menyeru pada kebaikan.
'Ya Allah, berilah jalan yang lurus untuk kami, terutama ibuku," gumamku sore ini.
***
Aku sudah kembali bekerja di kota ini. Aku berangkat pukul 07.20, sehingga bisa tiba di kantor sebelum pukul 08.00. Untuk jam pulang, bisa sampai rumah jam 16.30.
Dengan begini, aku bisa mengontrol keadaan Istri dan anakku. Terkadang aku bisa pulang untuk kondisi darurat.
Kali ini pun sama, perasaanku sudah tak enak. Aku pun merencanakan untuk pulang. Siang itu, aku melihat istriku sedang tertekan.
"Kenapa, Dek?" Dia nampak kesulitan bernapas. "Kamu tenang dulu, jangan ada pikiran negatif, buang semua dulu."
Dia menurut. Lalu mengatur napasnya. Aku menepuk-nepuk pundaknya.
Lalu ku minta Bibik membawakan air teh hangat. Segera kuminumkan pada Niar.
"Ada apa, Dek?" Aku bertanya setelah dia tenang.
Dia bergeming, tapi terlihat pucat.
"Abang tau pasti ada apa-apa. Cerita, Dek! Abang siap mendengarkan!"
Niar menggeleng. Aku semakin bingung dengan keadaan ini.
Lalu aku mencari petunjuk. Bibik pun tak tau dengan hal yang membuat emosi Niar tak stabil.
Tak lama ada suara pesan di gawai Niar. Niar masih diam, seolah tak mendengar bunyi gawainya.
Aku meraihnya di atas nakas. Ku buka pesan di aplikasi hijau. Ternyata pesan dari Ibu.
[Niar, kamu kirimkan lagi uangmu 6.5 juta. Cepat! Ibu harus membayar arisan.]
__ADS_1
Ternyata ini yang membuat Niar tertekan.
Bersambung