
Bab 27 (Bab 27)
"Bu, Bu ... Buka pintunya!" Aku berusaha membujuk ibu.
Tak ada jawaban dari dalam. Beberapa kali di ulang, Ibu tak menjawab. Aku semakin khawatir.
Lalu kami putuskan untuk masuk ke dalam kamar secara paksa dengan cara mendobrak pintu kamar ibu. Ketika masuk kami melihat ibu sedang tidur.
Saat diperiksa ternyata itu pingsan atau tak sadarkan diri. Lalu aku dan kak Ayu, membuat Ibu sadar dengan cara cara memberikan minyak kayu putih di depan hidungnya, selain itu memijat-mijat jempol kakinya.
Setelah itu Ibu sadar, ia terdiam melihatku. Malah sampai memalingkan muka.
Kuberikan Ibu minum yang telah dibuatkan oleh kak Ayu. Tadinya Ibu menolak, tapi ku paksa untuk segera diminum.
"Bu, apa Ibu sudah makan? tanyaku kepada Ibu.
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Ibu nggak lapar, Den! Ibu hanya ingin sendiri karena ibu malu. Saat ini Ibu tidak punya muka lagi untuk bertemu ibu-ibu arisan. Mereka sudah memblack list ibu. Ibu sedih, Den!"
"Enggak apa-apa, Bu. Justru Ibu terbebas dari membayar arisan yang sangat besar itu."
"Tapi, Den. Ibu sangat malu," katanya.
"Nggak usah malu, Bu. Sabar ya, Bu," ucapku.
Ku pegangi tangan ibu. Tapi ibu malah melepaskannya.
"Ibu kecewa sama kamu, Den! Kamu malah mementingkan perempuan kampung itu dibandingkan ibu."
"Bukan seperti itu, Bu. Ku hanya ingin bersikap adil. Harusnya Ibu sadar, telah banyak kesalahan yang ibu lakukan pada Niar."
"Tapi Den, Ibu lebih berhak atas kamu dibandingkan dia."
"Ibu benar, tetapi tidak seperti itu juga. Aku punya istri dan anak. Kewajibanku untuk memenuhi semua kebutuhan mereka, kewajibanku juga sebagai pemimpin mereka."
"Alasan terus kamu, Den. Ibu tuh lebih penting, kamu harusnya lebih mengerti perasaan Ibu. Dulu saja, kakekmu lebih mementingkan ibunya. Dia sangat sayang dengan ibunya. Sampai Nenek diberi nafkah jauh dibawah yang diberikan pada ibunya."
"Lalu, Nenek bagaimana? Pasti protes sama kakek."
"Nggak Den, nenekmu gak pernah protes. Dia hanya diam saja terhadap perlakuan suaminya. Nenekmu perempuan yang hebat."
"Lalu sikap ibu bagaimana? Apakah menyukai sikap Kakek yang seperti itu?"
"Awalnya Ibu tidak menyukainya, tetapi lama-lama Ibu mengerti kalau ibunya kakekmu harus didahulukan."
"Pantas saja sekarang Ibu memaksakan kalau ibu harus didahulukan daripada Niar."
"Ya, karena hal itu adalah pelajaran ibu dapatkan sejak dulu."
"Namun, anggapan Ibu mengenai harus didahulukan itu salah. Bukan berarti aku harus memberikan uangku lebih banyak pada ibu dibandingkan pada keluargaku. Kan sudah kujelaskan tadi, tanggung jawabku terhadap keluarga lebih besar. Sehingga nafkah yang kuberikan pun harus lebih besar kepada mereka."
Ibu mencebik. Tetap tak mengerti dengan semua yang kukatakan.
"Kalau Ibu tak percaya Ibu bisa menyaksikan video dari tausiah ustaz ternama di YouTube. Aku akan selalu memenuhi kebutuhanmu, Bu. Asal Ibu mau mencintai istri dan anak-anakku," ucapku.
Ibu bergeming tak mau menjawab pernyataanku.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang ibu pikirkan dulu. Aku takkan pernah melupakan kewajibanku sebagai anak, asal Ibu minta maaf atas segala kesalahan ibu selama ini. Kasian Niar, dia menanggung lukanya sendiri sejak kehamilan Farhan."
Ibu merebahkan dirinya di atas ranjang, ibu memunggungiku. Tapi aku berharap dia mendengarkan.
"Bu, aku pulang dulu, ya! Semoga hati ibu terbuka. Kita bisa rukun dan selalu berdampingan."
Kuhampiri ibu ke ranjang, lalu ku kecup rambut ibu.
"Kalau ibu butuh apa-apa, telepon Deni ya, Bu!"
***
Kak Ayu menghubungiku. Katanya Ibu ingin pindah dari rumahnya. Ibu tak tahan selalu disindir para tetangga.
"Ya sudah, nanti aku iklankan rumah ibu. Dan kucarikan rumah yang baru untuknya," kataku pada kak Ayu.
"Ya, Den, kakak setuju karena kalau di sini terus pun, kasihan Ibu. Yang ada nanti Ibu sakit karena banyak pikiran."
"Baiklah, Kak. Nanti Deni carikan rumah yang baru untuk ibu."
"Tapi kakak nanti bakal pindah juga, soalnya bang Aldo sudah dapat rumah baru untuk kami."
"Jadi kak Ayu nggak bakal tinggal sama ibu lagi dong nanti?"
"Nggak, Den. Tapi nanti ibu tinggal sendiri, bagaimana ya? Setelah ku kabari Ibu kemarin, ibu diam saja, Den," kata kak Ayu.
"Sudah, nanti dicoba dulu, kan ada Bibi yang menemani Ibu," kataku.
"Iya, Den."
Aku memasang iklan untuk menjual rumahku di internet. Lalu mencari rumah yang sesuai buat ibu. Kuusahakan yang dekat rumahku atau rumah kak Ayu.
Tak lama ada yang ingin menawar rumah ibu. Dia menghubungiku via aplikasi hijau. Kami memutuskan bertemu melihat rumah lusa nanti.
"Baiklah, Pak Karso. Sampai bertemu lusa ya. Alamatnya nanti saya kirim."
"Baik, Pak."
Aku mengabarkan pada kak Ayu, kan ada yang melihat rumah lusa nanti.
***
"Niar, kamu bagaimana sekarang perasaanmu? Ada yang ingin kau sampaikan?" tanyaku malam ini.
"Perasaanku semakin baik aku jarang mengalami rasa sedih."
Aku pegang tangannya. Dan bersyukur kalau dia sudah tak mengalami rasa sedih.
"Kamu lebih banyak melakukan kegiatan positif saja," kataku.
"Ya, Bang. Aku ikut senam bersama ibu-ibu di perumahan ini. Lalu aku sering ikut kegiatan bikin kue juga di beberapa tetangga di sini."
"Bagus dong, kapan kamu praktekkan membuat kue di rumah?" Ku tatap kedua mata istriku, ia balas menatapku.
"Secepatnya aku akan membuat kue yang baru aku bisa. Tapi nanti rasanya jangan di protes ya!" Niar terkekeh saat mengatakannya.
"Enggak lah, pasti nanti kue buatanmu bakal enak," kataku.
__ADS_1
"Bang Deni bisa aja!" ucapnya sembari mencubit perutku.
Lalu ku tarik tangannya,wajah kami pun berdekatan. Tiba-tiba Niar malah mencubit pipiku. Keduanya terasa panas setelah dicubit oleh Niar.
Niar merasa bersalah, lalu mengobati pipiku dengan minyak herbal. Ia mengoleskan minyak pada pipiku.
"Nanti Abang kalau aku salah pada Abang."
"Iya, nggak apa-apa," jawabku sembari mencolek hidungnya.
Kami pun tertawa bersama.
***
Waktunya untuk bertemu dengan Pak Karso. Lalu ketika aku sudah menunggu di rumah Ibu, Pak Karso datang.
"Permisi, ada Pak Deni?"
"Saya sendiri, Pak!"
"Oh iya. Saya Pak Karso."
Laki-laki itu sudah berusia seperti ibuku. Dia laki-laki yang kelihatan masih sehat dan segar bugar.
"Mau dilepas berapa rumahnya?" tanya laki-laki itu.
"Maunya 800 juta. Karena ada lantai dua juga di sini," jawabku.
"Boleh saya tawar?"
"Bicara sama ibu saya saja kalau soal itu. Karena ini rumah beliau," kataku.
"Boleh, mana ibunya? Boleh dipanggilkan?"
"Sebentar ya, Pak!" Aku menemui ibu di kamarnya. Memintanya untuk menemui calon pembeli rumah ini.
Tadinya ibu tak mau, aku memaksanya ikut.
Kami keluar dari kamar, lalu menemui Pak Karso. Saat melihat wajah Pak Karso, wajah ibu berubah. Wajahnya memerah. Aku jadi bingung, apa yang terjadi dengan Ibu?
"Bu, ada apa?"
Ibu menghela napas pendek.
"Nggak, nggak ada apa-apa," katanya sambil terus memandang Pak Karso.
Pak Karso juga terkejut melihat Ibu.
"Kamu? Ratih kan?"
Aku bingung dengan semua ini. Pak Karso kenal dengan ibu ternyata.
"Ini anakmu? Ayu mana Ayu?" Tiba-tiba saja Pak Karso mengenal kak Ayu.
Siapa Pak Karso? Mengapa sampai kenal dengan ibu dan kak Ayu?
Bersambung
__ADS_1