
Aku cukup malu tadi saat marah-marah pada Cella. Padahal dia nggak berbuat apapun pada Niar.
Untung Niar langsung respon dan mengatakan kalau Cella sedang menolongnya. Aku sangat senang, istriku lebih terbuka.
Karena banyak menyimpan luka, ia lebih irit berbicara. Sedikit demi sedikit, ada penerimaan terhadap semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Bang, sudah nih belanjanya." Niar membuyarkan pikiranku tentangnya.
"Oh, iya. Ayo kita ke kasir." Kami membayar semuanya. Lalu membawa semua belanjaan menuju tempat parkir.
"Pa, Tante tadi memangnya siapa sih?" Icha membuka pertanyaan.
"Oh, dia dulu temen Papa."
"Oh, pantes. Kan pernah datang ke rumah ya, Pa?" tanyanya.
"Iya, pernah. Kamu masih inget?"
"Inget, Pa. Icha hanya melihatnya dari jauh, Pa."
"Oh iya," jawabku.
Ternyata Icha bener-bener nanya detail tentang Cella. Sesekali ku lirik istriku, ekspresinya datar.
"Tante Cella cantik ya, Pa."
Lagi-lagi Icha membicara Cella.
"Cantikan Mama," jawabku sekenanya. Eh, tapi bener kok.
Ku lirik Niar yang ada di sebelahku. Dia terlihat merona lalu menundukkan wajahnya.
Setibanya di rumah, kak Ayu sudah datang. Ia membawa kedua anaknya, Farrel dan Ayesa.
"Eh, ada kakak Farrel dan Ayesa, Pa - Ma," ucap anakku Icha.
"Eh iya." Aku menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang tamu.
Icha langsung mengajak main Farrel dan Ayesa. Niar ku minta untuk di kamar saja bersama Farhan. Aku yang menemui kak Ayu.
"Ada angin apa yang membawa kakak dengan anak-anak ke sini?" tanyaku.
"Aku ingin silaturahmi saja, Den. Sekaligus mau membicarakan tentang ibu," katanya.
"Kenapa emang ibu kak?" tanyaku penasaran. "Oya, sebentar aku pesankan minum dulu sama Bibik." Aku ke dapur agar Bibik membuat minuman untuk kak Ayu dan anak-anaknya.
Aku kembali ke ruang tamu menemui kak Ayu.
"Ibu di blacklist dari kepesertaan arisan, Den. Karena terlambat saat akan membayarkannya," kata kak Ayu.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Iya, karena terlambat. Dan mereka tau dari kamu yang bakal menyetop pemberian uang pada ibu," katanya.
"Bagus dong. Ibu nggak usah ikut arisan lagi."
"Uang arisan yang udah masuk, nggak bisa diambil lagi. Sekarang ibu mengunci diri di kamar tak mau keluar sejak tad pagi, Den!"
"Buka aja sama Bang Aldo. Pasti ibu belum makan."
__ADS_1
"Iya belum. Bang Aldo tak ada di rumah, Den. Aku mau minta kamu ikut aku ke rumah untuk membuka kamar ibu. Minimal kita bujuk agar mau keluar," jawab Ayu.
Deni menyipitkan matanya. Aku berpikir takutnya ini akal-akalan Ibu dan kak Ayu agar aku pulang.
"Kak, ini akal-akalan Ibu dan Kak Ayu bukan? Klo ketauan hanya akal-akalan, aku juga akan memblack list kalian," ucapku.
"Bukan, Den. Ini beneran. Aku nggak buat akal-akalan tentang ini. Aku sudah ikuti kata-katamu kemarin. Aku ingin berubah lebih baik dan minta maaf padamu dan Niar," jelas kak Ayu.
Ternyata kak Ayu yang mendapat hidayah terlebih dulu. Ku pikir kak Ayu orangnya keras, jadi nggak bakal mau menjadi rendah dengan meminta maaf pada kami.
Namun, aku salah. Kak Ayu sudah mau melakukan apa yang aku katakan. Tinggal panggil Niar, agar kak Ayu minta maaf sendiri saja nanti.
"Ya sudah, kak. Minum dulu. Nanti kak Ayu yang bicara sendiri dengan Niar. Insya Allah aku kan mencoba membujuk Ibu."
"Oke, Den."
Aku memanggil Niar untuk berbicara dengan Ayu. Lalu kami menuju ruang tamu.
"Iya, kak Ayu. Ada apa?"
"Aku ... Aku mau minta maaf sama kamu, Niar. Aku akui semua salahku dan ibu. Maaf karena aku membiarkan ibu mengambil uangmu."
Niar menunduk. Ia sedang mengatur emosinya, aku tau itu. Lalu aku hampiri dia, mengusap punggungnya, agar lebih baik.
"Ada banyak kejahatan aku dan ibu." Kak Ayu sesekali menyeka air matanya.
"Kejahatan apa?" Aku penasaran.
"Kalian jangan membenciku dan ibu ya!"
"Akui saja dulu, kak." Aku menatap mata kak Ayu. Kak Ayu lalu menunduk, mungkin karena takut.
"Ya Allah, kak. Benarkah itu? Kalian sungguh keterlaluan! Apa lagi yang kalian lakukan?"
Kak Ayu masih menunduk. Ia bicara tak berani menatap mata kami.
"Lalu soal Cella. Ibu menyuruh orang mendokumentasikan saat kamu ketemu Cella di cafe dan saat di Jakarta. Makanya uang ibu habis dipakai hal-hal untuk menyakiti kalian. Kak Ayu sungguh menyesal dengan semua ini."
"Kalian sungguh tega." Aku tak percaya, tapi ini benar. Bisa-bisanya ibu kepikiran untuk melakukannya.
"Iya, Den. Aku jahat. Tapi aku benar-benar menyesal sekarang. Aku takkan pernah melakukannya lagi, Den, Niar! Aku janji!"
Ku lihat Niar menghela napas berkali-kali. Air matanya yang menggenang di sudut matanya, jatuh tak tertahankan.
Aku tetap berusaha menenangkannya. Setidaknya berharap Niar berhasil mengelola emosinya kali ini.
"Terima kasih atas kejujurannya, kak. Aku sangat menghargainya." Aku menimpali kak Ayu. Karena Niar masih diam.
"Kak Ayu, aku masih kaget. Bolehkah aku masuk ke kamar? Hatiku masih mencerna semuanya. Semua yang kak Ayu bicarakan, tiba-tiba berkelebat dalam pikiranku. Dan aku merasa di saat-saat itu. Jadi saat ini, aku masih belum bisa memaafkan kakak."
"Iya, Niar. Kakak tau perbuatan kami sudah keterlaluan. Kamu punya hak untuk memaafkan atau tidak."
Aku mengantar Niar ke kamar. Lalu meminta Bibik menyediakan minum untuknya.
Aku kembali ke kak Ayu.
"Maaf ya, Kak. Niar sepertinya masih belum bisa menerima yang terjadi padanya." Aku menenangkan kak Ayu agar memakluminya.
"Iya, kakak ngerti. Malah mungkin harusnya tidak ada maaf buat kami. Aku tau posisi Niar yang tertekan karena perbuatan kami."
__ADS_1
"Ya sudah. Aku menunggu Niar tenang dulu ya! Kak Ayu makan dulu sana. Nanti kita sama-sama ke rumah ibu."
"Iya, Den. Terima kasih, ya! Semoga pelan-pelan Niar bisa memaafkan kakak dan ibu."
Kemudian aku menyuruh Icha dan anak-anak kak Ayu makan juga. Mereka makan bersama, sementara aku mau menenangkan Niar terlebih dahulu.
"Dek, boleh aku masuk?" Aku mengetuk kamar kami.
"Boleh."
Aku duduk di tepi ranjang. Niar merebahkan dirinya di sana. Aku memintanya duduk di sampingku.
"Dek, apa yang kau rasakan sekarang?"
"Sakit, Bang."
"Abang mengerti perasaanmu. Semua perbuatan ibu dan kakakku memang keterlaluan. Tak mudah untuk memaafkannya Sebelum memaafkan perlu penerimaan terlebih dahulu. Mungkin pelan-pelan kamu bisa menerimanya, Dek! Tak baik menyimpan dendam di hati," kataku.
"Iya, Bang. Tapi, teror Bang Aldo benar-benar membuatku trauma, Bang. Beberapa kali dia menerorku. Dan aku masih ingat, abang tak percaya padaku saat itu. Itu juga membuatku tak mau banyak bicara padamu, Bang. Aku merasa di titik terendah. Tak ada yang memperdulikan perkataanku, bahkan suamiku sendiri. Untuk apa lagi aku hidup? Untungnya tiap aku ingin mengakhirinya, ku ingat wajah Icha dan Farhan. Tapi bahkan Farhan pernah akan menjadi korbanku, karena tak tahan dengan berbagai tekanan yang kualami."
Aku tersayat mendengar penuturan Niar. Panjang dan gamblang. Semua dia utarakan. Tak ada yang disembunyikan. Tinggal perbaikan pada diri ini, untuk menjadikannya berharga.
Pengabaianku saat itu menjadikannya terluka dalam, bahkan lebih dalam.
"Maafkan aku, Niar. Suami macam apakah aku yang malah tak mempercayaimu. Maukah kau memaafkanku?"
Niar menangis sesenggukan. Seperti biasa, aku tak bisa mencegahnya, emosi itu memang harus keluar.
"Minum dulu, Dek!" Aku memberikan minuman yang masih utuh, yang dibuatkan Bibik.
Niar meminumnya. Napasnya kembali teratur. Sesenggukannya mereda.
"Dek, aku mau ke rumah ibu dulu, ya. Mau membujuknya keluar dari kamarnya. Karena ibu malu dan marah karena di black list dari arisan."
Niar mengangguk.
"Iya, Bang. Kamu ke sana aja. Tunjukkan baktimu pada ibu. Aku di sini, kan terus berjuang menerima semua."
"Terima kasih, Dek. Kamu sungguh istri yang baik untukku," kataku sembari mengecup pucuk kepalanya.
"Aku ingin kamu makan dulu sekarang. Setelah kamu makan, aku bisa tenang meninggalkanmu, Dek!"
"Iya, Bang."
Aku membawakannya makan. Kemudian kami makan bersama dalam satu piring. Aku meyuapi Niar. Takutnya dia tak makan nanti kalau ku tinggalkan sebelum dia makan.
"Aku sudah kenyang, Bang."
"Iya, sisanya buatku saja."
Setelah menghabiskan makan siang bersama, aku dan kak Ayu buru-buru ke rumah ibu.
Icha tak diajak, ku minta dia menemani Mamanya.
Cukup perjalanan 15 menit, kamipun sampai di rumah ibu.
"Bu, Bu ... Buka pintunya!" Aku berusaha membujuk ibu.
Tak ada jawaban dari dalam. Beberapa kali di ulang, ibu tak menjawab. Aku semakin khawatir.
__ADS_1
Bersambung