Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 32


__ADS_3

Jenazah Ibu dibawa ke rumah duka. Sebelumnya sudah dimandikan dulu di rumah sakit. Jadi, ketika datang ke rumah, sudah bersih.


Para tetangga berdatangan untuk takziah ke sini. Semua menyampaikan rasa duka cita.


Tak henti-hentinya kami menerima tamu. Termasuk teman-teman arisan Ibu, yang membuat Ibu ter-black list dari.


Bu Rita, koordinator arisan menyapaku.


"Oh ini Deni yang tak mau ngasih uang lagi sama Ibunya? Bagaimana sekarang, kamu nyesel nggak, Den?"


Aku geram, bisa-bisanya membicarakan masalah yang mereka tidak tau duduk perkaranya.


"Maaf, hal itu telah berlalu, Bu. Kami pun sudah berhubungan baik," kataku.


Bu Rita memperlihatkan tingkah pongah khas Ibu sosialita. Padahal aku tau di komplek sekitar sini, tak ada kaum sosialita. Kami hidup biasa saja.


"Oh begitu. Aku sangat kasihan dengan Bu Ratih punya anak sepertimu. Sehingga dengan terpaksa kami mengeluarkannya dari grup arisan kami."


"Mohon tidak bicara untuk sesuatu yang Ibu tidak tau. Kalau sudah selesai, itu pintu keluarnya," ucapku.


"Anda terlalu naif." Bu Rita bicara sembari balik badan.


Bu Rita dan teman-temannya keluar dari rumah Ibu. Aku bisa bernapas lega, karena sudah tidak ada gangguan.


Tak lama aku dan Kak Ayu berdiskusi untuk cara memakamkan ibu. Karena mengingat sudah tidak ada yang ditunggu lagi lebih baik disegerakan.


Sebelumnya, kami mensalatkan jenazah Ibu di rumah ini, kami bergantian untuk melakukannya.


Selanjutnya kami membawanya ke makam yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Karena kami memiliki anak-anak yang masih kecil, aku minta Niar untuk tidak ikut. Hanya aku, Kak Ayu, Bang Aldo dan Ayah yang ikut ke pemakaman.


Ketika acara pemakaman berlangsung, aku menyampaikan permohonan maaf kepada para pelayat yang datang. Selain itu, aku menyampaikan jika Ibu memiliki masalah piutang, segera sampaikan kepadaku.


"Saya berharap doa dari semua, semoga Ibu mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah. Aamiin yaa Allah. Terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Selepas sambutan, langsung memasukkan jenazah ke liang lahat. Aku langsung masuk ke dalamnya untuk ikut memasukkan Ibu di peristirahatan terakhirnya.


Saat memasukkan jasad Ibu ke liang lahat, aku harus menahan tangisku. Menghadapkan wajahnya ke arah kiblat, lalu aku mengadzan kan Ibu untuk yang terakhir kalinya.


Kubisikkan pada telinga Ibu setelah mengadzankannya, "Selamat tinggal Bu, Insya Allah kita bertemu lagi nanti."


Setelah itu, kumpulan tanah dimasukkan kembali ke liang lahat, untuk menutupi jasad Ibu yang ada di dalamnya.


Kak Ayu sangat terpukul dengan kepergian Ibu. Ia masih saja menangis tersedu-sedu di atas makam Ibu.


Aku dan Bang Aldo meminta Kak Ayu tak menangis di sana. Agar bisa meringankan langkah Ibu selanjutnya di alam sana.


Setelah semua tenang dan acara pemakaman berjalan dengan lancar. Kami pun segera pulang kembali ke rumah.


***


Setelah dari pemakaman, aku menemui Niar untuk memastikan dia sudah makan dan minum obat. Ternyata Niar dan Icha memang sedang makan.


"Sudah selesai, Bang?"

__ADS_1


"Iya, sudah. Aku mandi dulu, ya! Kamu udah minum obat?"


"Sudah, Bang Alhamdulillah. Aku tadi sudah makan dan sekarang aku sedang menemani Icha makan."


"Baiklah, Dek. Tolong siapkan minuman untuk Ayah dan tamu-tamunya di depan," kataku.


"Baik, Bang."


"Pa, Nenek udah nggak ada, ya?" tanya Icha saat ia masih makan.


"Iya, Cha. Sekarang kita tinggal doakan Nenek."


"Kalau didoakan nanti Nenek seneng?" tanyanya lagi.


"Iya, Insya Allah kalau mendapatkan doa dari kita yang masih hidup, Nenek akan senang di sana," kataku.


"Iya, Pa. Terus kapan Icha ketemu sama Nenek lagi?"


"Nanti, Cha. Insya Allah kalau sudah di syurga nanti." Aku tak bisa memegang Icha karena habis dari makam.


"Cha, Papa mandi dulu, ya! Bisa tanya ke Mama juga," kataku.


"Iya, Pa."


Saat Niar membuatkan minum, aku mandi.


Kemudian selesai mandi, aku menemui Ayah dan yang lainnya. Ada beberapa saudara Ibu yang datang. Mereka saling bercerita karena sudah lama tak bertemu.


Aku ikut mendengarkan saja dengan Kak Ayu.


Menjelang sore, mereka pun pamit. Ayah juga pamit untuk pulang. Tapi aku mencegahnya. Aku ingin Ayah menginap sesekali disini, karena ini juga sudah menjadi rumahnya.


Ayah pun setuju. Malam ini kami berkumpul bersama di rumah Ayah.


"Ayah, silahkan mandi dulu. Tadi kan sudah dari makam. Untuk pakaian, pakai punya Bang Aldo dulu saja," ucap Kak Ayu.


"Iya, Yu. Makasih, ya!" jawab Ayah.


Kemudian Ayah manut, dia mandi dulu sebelum kami berkumpul bersama lagi.


***


Kamipun makan malam bersama dengan formasi lengkap tanpa ibu. Ini kali pertamanya kami berkumpul, setelah Ibu pergi.


Setelah makan, aku masuk ke kamar ibu untuk mencari surat-surat rumah yang akan diserahkan kepada Ayah.


"Sebentar, ya, Yah. Aku cari sertifikat rumah ini dulu di kamar Ibu!"


"Baiklah, kalau nggak ada sekarang juga nggak apa-apa, Den," kata Ayah.


Aku memasuki kamar Ibu. Ku cari di dalam lemari, laci-laci yang ada di kamar ibu. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah buku dan pulpen di dalamnya.


Sepertinya buku ini baru ditulisi oleh ibu.


Ketika kubuka, ternyata isinya curhatan ibu. Terakhir ditulis, sehari sebelum Ibu masuk rumah sakit.

__ADS_1


Isinya membuatku terharu. Di dalamnya Ternyata Ibu meminta maaf kepada Niar.


Walaupun di mulutnya tak keluar kata-kata maaf, tetapi dalam catatan ini, Ibu sebenarnya ingin meminta maaf kepada Niar. Tapi karena gengsi dan malu, kata maaf itu tak terucapkan.


'Ya Allah, ternyata rasa gengsi dan malu bisa mengalahkan rasa ingin minta maaf ibu,' gumamku.


Namun di akhirat curhat di buku ini Ibu mengatakan, "buat Niar menantu ibu yang selalu Ibu sakiti, sebenarnya ibu ingin memohon maaf kepadamu atas kesalahan Ibu yang sangat banyak."


Setelah perkataan itu, Ibu tak menuliskan apa-apa lagi.


Aku mengamankan buku ini untuk dibawa serta dengan surat rumah yang akan kuberikan kepada Ayah.


Aku pun menemui Ayah untuk memberikan surat-surat ini.


"Ini ya sertifikat rumah ini ini. Lalu ada kwitansi jual-beli dari pemilik sebelumnya," kataku.


"Baik, Den, terima kasih ya!"


"Lalu Ayah rencana akan tinggal di sini kapan kira-kira?" tanyaku.


"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, Ayah bisa tinggal di sini," katanya.


"Ya, Yah, kabarin saja. Nanti kami membantu," kata Kak Ayu.


"Baik Ayu, Deni. Terima kasih. Ayah pasti akan selalu membutuhkan bantuan kalian."


"Ayah, silakan kalau mau istirahat. Ada kamar tamu di pojok sana." Kak Ayu bangkit dari duduknya, lalu mengantar Ayah ke kamarnya.


"Kak Ayu nanti ke sini lagi ya, aku mau bicara sebentar."


Dengan tak sabar aku menunggu Kak Ayu. Tapi, aku pun memanggil Niar untuk sama-sama bicara di ruang keluarga.


Kami bertiga ada di ruang keluarga. Akupun membuka percakapan.


"Aku menemukan buku ini di kamar Ibu," ucapku pada Kak Ayu dan Niar.


Kak Ayu memicingkan matanya, Niar juga penasaran pada buku itu.


"Memang buku apa itu? Isinya apa tulisan Ibu?" tanya Niar.


Kak Ayu mengambil buku ini dariku.


"Iya betul ini tulisan Ibu," kata Kak Ayu yang kemudian membacanya.


Air mata Kak Ayu langsung berlinang saat membacanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Niar.


"Di sini Ibu menjelaskan kalau Ibu sebenarnya ingin meminta maaf padamu, Niar. Ibu sangat menyesal telah melakukan kesalahan padamu. Tapi, ibu gengsi dan malu."


Kak Ayu memberikan buku pada Niar. Niar pun membacanya. Lalu, ia juga tersentuh dengan membacanya.


"Aku sudah memaafkan Ibu, Bang. Insya Allah sudah tak ada dendam lagi dalam hatiku," ucap Niar sembari menumpahkan air matanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2