Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 18


__ADS_3

Sebelum pulang, aku memperhatikan aplikasi CCTV-ku. Kulihat ibu tengah memarahi Icha.


Ibu sedang memainkan gawainya, lalu Icha datang membawa sesuatu, Icha bertanya tentang barang yang dibawanya.


Ibu bukannya menjawab, malah memarahinya. Lalu tak segan mengusir Icha untuk menjauhinya.


'Ibu lupa kalau tingkah lakunya dipantau olehku sekarang,' batinku.


Aku tak memperlihatkan kejadian ini pada Niar. Takutnya akan menambah rasa khawatirnya semakin besar.


Lalu kulihat Mak Elin kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah karena sambil mengasuh Farhan. Ibu dan Kak Ayu sama-sama tak mau direpotkan mengasuh anak-anak.


Karena takut terlalu lama, kami langsung pulang.


Sesampainya di rumah, ibuku menatap kami sembari melihat jam yang terpasang di dinding ruang tamu, seolah memberi kode kalau kami pulang terlambat.


"Kenapa, Bu?" tanyaku padanya.


"Kalian bawa jam, kan? Lihatlah sekarang sudah jam berapa?" tanya ibu ketus.


"Nggak bawa jam dinding, Bu. Jam adanya di gawaiku, jarang dilihat. Makanya jadi nggak kerasa ternyata udah sore aja." Aku mencoba menjawab rasa penasaran ibuku.


"Pintar sekali kamu, Deni. Katanya mau ke rumah sakit aja, tapi sepertinya kamu mampir kemana-mana."


"Terserah aku dong, Bu! Kok jadi ibu yang sewot?" Aku balik bertanya pada ibu.


"Anak-anakmu rewel semua. Farhan nangis terus, Icha juga bikin kesel," kata ibu.


"Ya, aku tau. Icha bikin kesel ibu yang sedang mainin gawai, lalu Icha datang. Ibu langsung memarahinya, berharap dia tak bertanya-tanya lagi sama ibu, iya kan?"


Ibu tersentak, wajahnya jadi merah padam.


"Oh iya, ibu nggak marah kok. Tanya aja ke Icha." Ibu tak mengakuinya.


"Halah, Bu. Ibu lupa? Ada CCTV di sini. Iya ya ibu kan sekarang cepat lupa, jadi aku nggak heran dengan ibu." Aku mengangkat kedua bahuku, disusul dengan ibu yang jadi terdiam mendengar ucapanku.


Aku melangkahkan kaki ke dalam rumah. Lalu berbalik ke arah ibu.


Tadinya aku mau membahas tentang uang belanja Niar, tapi kuurungkan karena belum ada bukti kalau ibu yang mengambil uang istriku, yang ada nanti ibu tak mengakuinya.


"Bu, tolong perbaiki sikap ibu ke anak-anak. Icha udah dua kali ku lihat kena marah ibu. Aku nggak mau ada apa-apa dengan psikisnya." Aku mengingatkan ibu, ia masih terdiam.


Ku tinggalkan ibu yang masih mematung di ruang tamu.


Ketika tiba di depan kamarny, ia kebetulan keluar dari kamarnya. Lalu Icha datang memelukku.


"Pa, lama sih berobatnya?"


"Iya, maaf ya, Cha. Tadi Papa ada perlu dulu, jadi lama di jalan deh!"


"Icha pengen ikuuut!"


"Ya udah besok kalau Papa pergi sama Mama, Icha diajak deh!"


"Asyiiik, oke Papa." Icha senang lalu mengecup kedua pipiku.


Walau ku tahu dia sudah sedih karena dimarahi neneknya, tapi tak ku ungkit karena nanti dia akan menyakitkannya lagi.


***


Sore ini ku lihat Bang Aldo baru pulang. Karena dia makelar tanah atau rumah, aku bertanya tentang harga rumah padanya. Kali aja tabunganku cukup.


"Bang, harga rumah sekitar sini berapa ya?"

__ADS_1


"Harganya masih murah, yang 400 juta di perumahan sebelah juga ada, Den. Ada satu rumah yang mau dijual. Masih baru," kata Bang Aldo.


"Oh, boleh tuh. Nanti bisa anter aku lihat-lihat?" tanyaku.


"Boleh, Den. Dengan senang hati, nanti ku antar, mau kapan?"


"Besok siang deh! Gimana?"


"Oke aku antar ke sana besok siang!" kata Bang Aldo.


Setelah itu, aku bicara pada Niar di kamar.


"Dek, kamu udah minum obat?"


"Udah."


"Bagus. Dek, besok aku sama Bang Aldo mau lihat perumahan. Kalau cocok kita pindah ke sana," kataku.


"Iya, Bang. Ibu gimana?"


"Kemarin sih ibu masih melarang kita pindah dari sini. Entah kalau tiba-tiba kita pindah," jawabku.


"Nanti ibu marah."


"Nggak apa-apa, deh. Daripada kamu sama anak-anak disakiti ibu terus. Mending pindah, deh! Kamu mau kan?"


"Aku takut!" Selalu itu yang dikatakan Niar -- Istriku.


"Jangan takut. Ada aku. Nanti aku minta dipindah lagi ke sini. Agar aku bisa pulang kerja tiap hari. Mudah-mudahan di ACC, kamu doakan, ya!"


Niar mengangguk, tapi wajahnya sendu. Nampak air mata akan segera tumpah di pipinya.


"Sayang, jangan sedih. Jangan takut. Ada aku, ya! Cepatlah sembuh agar kamu semakin kuat." Aku memeluk istriku yang ada di hadapanku. Untuk kali ini, dia tidak menolaknya, aku semakin erat memeluknya.


"Bang, aku benar-benar takut!" ucapnya lirih saat ku peluk dirinya.


***


Icha mengerjapkan matanya. Ia menatapku.


"Papa."


"Iya, Sayang. Papa mau ajak Icha."


Icha tersenyum.


"Papa jangan pergi lama. Icha takut Nenek."


Icha juga merasakan hal yang sama dengan mamanya. Selama ini Icha tak pernah mengeluhkan hal ini.


"Memang Nenek suka galak?"


"Iya. Kalau Papa nggak ada." Icha menangis.


Aku merasakan kesedihan istri dan anakku. Betapa dzolimnya aku jika membiarkan mereka tetap di sini.


"Ya sudah, sekarang Icha mandi dulu. Nanti Papa ajak Icha."


"Iya, Pa."


Kemudian Icha berlari ke kamarku mencari mamanya. Ia minta dimandikan oleh Niar.


***

__ADS_1


Kami bersiap berangkat. Semuanya ikut, karena aku nggak mau kena komplain ibu lagi.


"Sudah siap?"


"Udah, Pa!" Icha menjawab dengan penuh semangat.


Ia berpegangan pada Niar. Sedangkan Farhan, aku yang gendong. Lalu kami menaiki mobil. Ku dudukkan Farhan di atas kedua paha istriku. Mereka duduk di belakang, sedangkan Icha ingin bersamaku di depan.


"Ayo kita berangkat! Bismillahirrahmanirrahim," ucapku.


Kami tiba di bank. Lalu bertemu dengan costemer service, aku sampaikan kalau ATM-nya hilang.


Alhamdulillah persyaratan lengkap, jadi tak perlu waktu lama untuk membuat yang baru. Lalu aku meminta agar buku tabungan istriku di prin out. Kalau perlu pakai rekening koran agar jelas dana masuk dan keluarnya. Karena kalau hanya di buku tabungan saja, tak jelas keluar masuk dari mana.


"Ini, Pak. Sudah ada," kata Costemer Service di hadapan kami.


"Terima kasih, Bu."


Setelah mendapatkannya, kami permisi pulang. Icha dan Farhan mengerti kalau Papa dan Mamanya sedang bicara dengan orang, jadi mereka nggak rewel saat bersama kami.


"Terima kasih ya, kakak Icha udah bersikap baik tadi," kataku ketika kami sudah di dalam mobil.


Icha tersenyum.


"Sama-sama, Pa."


"Mau mampir kemana dulu nih, kita?" tanyaku.


"Beli mainan, Pa!"


"Bukannya udah Papa belikan kemarin?"


"Beli mainan bunny hat, Pa!"


"Icha tau dari mana?"


"Dari You tube di hape Nenek, Pa!"


"Ya Allah, jadi Icha suka nonton you tube juga?"


"Iya, Pa. Nenek hapenya dua, Pa!"


Ibu punya uang malah dihambur-hambur segala punya gawai dua, buat apa lagi coba. Mungkin buat membungkam cucunya ngeganggu ibu.


Kami membeli bunny hat yang diminta Icha. Dia sangat senang memakainya. Apalagi saat lampu kelap-kelipnya menyala.


"Makasih, Papa!"


"Sama-sama, Icha."


Sesampainya di rumah, aku memeriksa rekening koran yang tadi kami minta di bank. Ku teliti satu persatu pengeluaran dari istriku.


Kebanyakan diambil dalam jumlah yang sama, yaitu 6.5 juta. Tetapi terakhir kutemukan pemindahan dana dari rekening Niar ke rekening atas nama ibu Ratih. Dan itu rekening ibu sejumlah 6.5 juta.


Selain itu pengambilan biasa 200 ribu, 300 ribu, 400 ribu, yang mungkin pengambilan itu dilakukan oleh istriku.


Perbuatan ibu sudah lama dilakukan, terhitung sejak aku bekerja di Jakarta. Aku tak pernah memantaunya selama ini.


Aku harus bicara secepatnya dengan ibu. Hal ini bisa kujadikan alasan untuk pindah dari rumah ini.


Namun, aku pindah rumah tak bisa cepat. Baru siang ini akan ke sana bersama Bang Aldo. Apa harus ku tunda untuk mengatakannya, sampai nanti kami pindah rumah?


Aku jadi gamang, karena kalau ku katakan sekarang, harusnya aku pindah sekarang juga.

__ADS_1


Baiklah, aku tunda dulu. Nanti ku jadikan alasan untuk pindah dari sini. Rekening koran ini jadi bukti yang cukup untuk mengungkap kecurangan ibu.


Bersambung


__ADS_2