
Aku melihat dua hari ini, mereka aman-aman saja. Tapi ketika ku pantau malam ini, kamera pengawasku mati.
Apa mungkin ibu dan kakakku tau tentang ini? Mereka mencabutnya sehingga aku tak bisa melihat aktivitas mereka.
Apa yang harus kulakukan yaa Allah? Apa sebaiknya aku mengambil cuti untuk besok?
Mmm ... Baiklah kuputuskan untuk mengambil cuti esok hari. Aku harus segera hubungi pihak HRD agar cuti dadakanku ini di ACC.
"Den, kamu kok resah begitu?"
"Iya aku sepertinya ingin pulang. Ada sesuatu yang terjadi dengan istriku sih kemungkinan besar!" Aku menjawab pertanyaan Rio.
"Jika dengan pulang, kamu semakin tenang, maka lakukanlah!" Nasehat Rio membuatku tenang.
"Terima kasih ya, Rio!"
Selanjutnya aku menghubungi Bram, aku menanyakan perihal kamera pengawas yang ku pakai malah mati saat ini.
"Bisa jadi karena ketahuan, lalu dimatikan sambungannya."
"Baiklah, Bram. Aku mengerti." Tekadku untuk pulang semakin membulat.
Alhamdulillah pengajuan cutiku di ACC dengan alasan istri sakit. Mungkin aku akan kembali di hari Senin. Aku harus mengurus istri dan anak-anakku terlebih dahulu.
"Gimana, Den? Di ACC kah?"
"Iya, Rio. Aku akan langsung pulang sore ini."
Aku bahagia bisa bertemu keluargaku, tapi aku harus persiapkan diriku jika nantinya menemui sesuatu yang tak ku sukai.
***
Mobil sengaja ku parkir agak jauh. Ku titipkan di rumah Bram terlebih dahulu. Aku mencoba mengendap masuk ke rumahku.
Pintu rumah tak di kunci, aku masuk. Lalu aku mendengar pembicaraan Kak Ayu dan Ibu di kamarnya.
"Ayu, kamu itu nggak sabaran. Malah main copotin CCTV buatan Deni. Dia kan tak tau kita dah pasang CCTV lebih dulu! Kamu melakukan kesalahan besar Ayu. Nanti kalau Deni curiga gimana?"
"Bu, dia nggak bakal curiga. Lagian dua hari ini kita yang ngerjain kerjaan rumah kan? Aku nggak tahan, pengen ngerjain si Niar lagi!"
Aku menghela napas panjang. Bisa-bisanya mereka bicara seperti itu. Ternyata itu yang mereka lakukan selama ini pada istriku? Baiklah aku kan balas perbuatan kalian.
Kak Ayu akan keluar dari kamar ibu, lalu aku segera menjauh dari kamarnya. Kak Ayu menuju kamar Niar.
Aku pun mengikutinya dari belakang. Ku pasang telingaku dan siap-siap ku rekam seperti yang tadi kulakukan di depan kamar ibu.
"Hei, Niar! Sandiwara ini sudah usai. Kamu kembali bekerja sana. Aku capek menggantikanmu masak, cuci piring, nyapu, ngepel, cuci baju, menjemur. Aaarrrrrgggghhh ... Semua serasa menyiksaku, dan kamulah penyebabnya."
Niar tak menjawab sepatah katapun. Aku buru-buru menghindari kamar, sepertinya Niar akan keluar.
Benar saja, istriku keluar kamar, lalu mengerjakan semua yang diperintahkan oleh kakak iparnya.
Di situ aku hanya bisa menangis melihat semua kelakuan ibu dan kakakku. Aku tak tega melihat Niar -- istriku.
__ADS_1
Tega-teganya mereka menyiksa batinnya sehingga Niar yang tadinya ceria berubah menjadi muram. Tapi mungkin ada peranku juga di situ.
Kak Ayu kembali ke kamarnya. Aku mendekati Niar. Dia terkaget melihat keberadaanku. Ku lihat wajahnya muram dan ada kesedihan yang dalam di matanya.
"Niar, aku pulang!" Aku mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat! Jangan tolong, jika akhirnya meninggalkanku lagi!"
Kata-kata Niar sangat menohok di hatiku. Tak kusangka Niar akan mengatakan itu. Itu berarti dia membutuhkan aku. Ya, aku dibutuhkan olehnya. Tapi aku tak pernah sekalipun sadar akan itu.
"Maafkan aku, Sayang!" Aku mencoba memeluknya. Dia menghindar.
"Jangan!" katanya penuh amarah.
"Aku akan membantumu. aku berjanji padamu!" Aku semakin mendekat ke arahnya.
"Tidak! Biarkan aku mati saja di sini. Aku capek! Tinggalkan saja aku dalam n*raka ini!"
Aku tak kuat mendengar semua ancamannya yang juga ungkapan hati yang ia pendam-pendam selama ini.
Langsung ku peluk Niar kekasihku. Aku takkan pernah melepaskanmu. Aku takkan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku saat aku menikahimu dulu.
"Lepas ... Lepaaaaaas!"
Aku tak melepaskannya. Tiba-tiba banyak orang yang mengelilingi kami. Ada ibu, kak Ayu, dan anak-anak. Aku menyuruh anak-anak bermain di depan. Farrel sebagai anak paling tua, manut padaku.
"Ada apa ini?" tanya ibu.
"Deni, kamu bukannya masih kerja? Ngapain kamu pulang?" tanya kak Ayu.
"Bu, apa artinya diriku untukmu?"
"Kamu? Kamu anak lelakiku yang sangat berharga," jawab ibu.
"Apakah ibu ingin kehilangan anak lelakimu?"
"Tentu tidak, Den. Kamu kenapa?"
"Tapi ibu malah membuat ibu kehilangan aku. Mulai detik ini, aku akan membawa istri dan anak-anakku keluar dari rumah ini!"
"Tidak, Den! Jangan! Ada apa memangnya, Den?"
"Ada apa? Tanya saja pada diri ibu sendiri! Apa saja yang telah ibu lakukan selama ini pada istriku," jelasku.
Ibu bergeming. Tak mau menjawab perkataanku.
"Den, kamu salah paham!"
"Apanya yang salah kak Ayu?"
"Kami tak pernah berbuat buruk pada istrimu," katanya.
"Benarkah? Apa perlu rekaman ini aku perdengarkan pada kalian?"
__ADS_1
Kak Ayu dan ibu sama-sama diam. Mereka mungkin kehabisan kata-kata untuk membela diri.
"Den, maafkan ibu dan kakakmu. Ibu janji bakal baik pada Niar," katanya.
"Benar, Den. Kalian tetap di sini saja. Kalau tak ada kalian, pasti rumah ini bakal sepi," tambah kak Ayu.
"Huh ... Percuma bilang seperti itu. Aku kan tetap membawa mereka pergi dari rumah ini!"
"Ayo, Niar!"
"Jangan sekarang, lagian malam-malam gini mau kemana? Kalau mau cari kontrakan saja besok. Sekarang kalian tetap tidur di sini," kata ibu.
Aku luluh juga. Karena memang benar di kota kami sebenarnya ada hotel, tapi lumayan jauh.
"Baiklah, Bu. Aku ikuti saranmu saat ini."
"Ayo, kalian istirahat dulu!"
Aku memapah Niar ke kamar. Ku rasakan jantungnya masih berdegup kencang. Aku jadi takut kehilangannya.
"Dek, kamu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak," jawabnya.
Aku merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Kamu istirahat dulu, ya, sayang!" kataku. "Aku akan mengambil minum dulu untukmu."
Niar mengangguk, aku langsung pergi ke dapur.
Aku memperhatikan keberadaan kamera pengawas yang ku pasang memang sudah tidak ada. Tapi aku heran dimana ibu meletakkan kamera pengawas yang dia pasang.
Aku teliti di sekeliling dapur. Akhirnya aku menemukannya di dekat kitchen set. Bentuknya kecil, bulat. Sehingga tak terlihat oleh kasat mata.
Aku kembali ke tujuan awalku untuk memberi Niar minum. Ku tuang air putih dari teko yang berada di meja makan.
"Sayang, ini minumnya!" Aku mengangkat tubuh istriku. Tapi ternyata badannya panas, ia demam.
'Ya Allah Niar, kamu kenapa lagi?' gumamku.
Lalu aku mencari kain untuk dan air untuk mengkompresnya. Sepanjang malam aku terjaga, mengkompresnya terus.
Niar tak bisa menyusui Farhan. Akupun membeli susu formula di mini market dekat rumah. Karena tak terbiasa menggunakan dot, Farhan sangat rewel malam itu.
"Mana Farhan, biar kususui!" Niar memintaku menyusui Farhan.
Aku serahkan Farhan ke tangannya setelah dia bersandar pada tepi ranjang.
"Dek, cepet sembuh ya! Besok kita ke psikiater," kataku.
Dia menoleh dan memandangku. Lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih, Bang," katanya lembut.
__ADS_1
Bersambung